MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (60) Apa Yang Harus Aku Lakukan?


__ADS_3

Ibu terpesona dengan kecantikan Eliza Maura. Begitu pula Ayah.


Satu lagi, si Lilis rupanya mengingatkan Ibu pada artis sinetron katanya sangat mirip itu. Yassalam, Bu! Masa' sih setinggi itu eskpektasimu!


Apalagi Lilis saat ini memakai pakaian tertutup lengkap dengan hijabnya setelah kami pulang dari Masjid Jami yang ada di pusat kota Pangkalan Pinang.



Awalnya Lilis malu-malu. Tapi setelah tahu kalau aku berbohong tentang ciri-ciri dan karakter kedua orang tuaku, dia langsung protes nyinyir mengadu pada mereka.


"Bu, kata Bang Gatot, Ibu orangnya bawel, perfeksionis, suka kepoan, pokoknya, Abang cerita kurang baik tentang Ibu sama Ayah!" tukasnya seolah sedang cari perhatian.


Wow, Abang ni ye! Abang tukang baso, mari-mari sini... Aku mau beli! Wkwkwk boleh ge'er dikit dong gue!?!


"Dih? Pengaduan!" semprotku membuatnya tertawa malu sambil bersembunyi dibalik punggung Ibu.


Ayah dan Ibu senang, aku sudah bisa melupakan Alifah. Hiks! Jangan sebut-sebut lagi namanya! Please, gue belom bisa lupa sebenernya!


Kedua orangtuaku pun bahagia, gadis yang kuperkenalkan pada mereka masih berstatus single. Bukan pacar orang apalagi istri orang.


Ternyata mereka masih trauma pada kejadian Alifah, Mbak Mirina, Iyam dan juga yang terbaru justru kisah si cantik muda belia, Utami Habibah.


Mereka mengetahui dari tetangga Pak Abu Bakar yang bercerita panjang lebar tentang pertunangan Tami dan Rudi.


Hadeuh! Bodo amat ah! Yang penting bokap nyokap gue taunya dari orang. Bukan dari gue. Secara gue akan tetap jaga kerahasiaan keluarga pak Abu terutama putri imutnya itu.


Ibu bahkan menanyakan langsung status dan kisah percintaan Eliza secara terbuka dari hati ke hati di kamar mereka ketika Eliza numpang sholat Dzuhur.


__ADS_1


Ibu sangat respek dan simpati pada Lilis, pacarku. Karena telah menjadi yatim piatu diusia muda. Dan bisa hidup mandiri dengan segala daya usaha.


Sesekali terdengar suara tawa mereka dari balik kamar Ibu. Sepertinya keduanya perempuan beda generasi itu terlibat obrolan yang sangat seru.


Aku hanya tersenyum dengan helaan nafas pendek lalu mengangkat bahu menatap Ayah yang cengengesan.


"Biarinin aja mereka, Tot! Ibu udah lama ga sebahagia ini! Kasih Ibumu kesempatan untuk mengenal calon menantunya!"


"Asiiik! Ayah sama Ibu berarti setuju dong, kalo Gatot nikah sama Eliza?"


"Lebih cepat, itu lebih baik! Biar kami cepet dapet cucu dari kalian. Cewek cowok, terserah kalian aja!"


"Uhuk! Ayah!"


Aku dan Ayah tertawa.


Tentu saja membuat hatiku terbakar hangatnya api asmara yang kian menggelora.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum...salam,"


Aku dan Ayah sangat terkejut...


Seseorang yang begitu kukenal, berdiri di depan pintu rumah kami. Menenteng tas koper sedang. Dengan tatapan mata mengandung kerinduan.


"Alifah!?!"


....

__ADS_1


....


Seketika mata kami saling bertatapan.


Ayah segera beranjak dari kursi duduknya dan menghampiri My Belut.


"Kamu? Kamu beneran berani datang ke rumah ini?" tanya Ayah dengan suara lantang membuatku langsung tersadar dan ikut menghampiri.


"Yah, tunggu! Biarkan Alifah masuk!" ujarku sedikit membela Alifah.


"Ayah! Lifah udah bilang berkali-kali, kalo Lipah pasti akan datang kesini. Menemui Gatot untuk ceritakan semua, apa yang telah terjadi!" kata Alifah dengan airmata berurai di pipi.


Membuat luluh hati ini dan menuntunnya masuk ke dalam.


"Duduk dulu, Lif! Lo pasti capek khan, abis perjalanan jauh dari Jakarta!"


Grep.


Aku hanya bisa termangu. Dengan mata memandang kosong ke depan. Karena Alifah langsung menyergap tubuhku, dan mendekap erat dalam pelukannya.


Tangis Alifah pecah.


Terdengar sangat sedih dan lirih menyayat hati.


"Gatot! Aku sama Bryan berhasil cerai! Ini surat ceraiku. Mama Papanya sudah diciduk Polisi karena terjerat kasus pinjaman online yang meresahkan! Itu memang rencanaku untuk membongkar kedok usaha mereka yang melanggar hukum sejak empat bulan lalu sebelum menikah dengannya. Makanya aku diam-diam melakukannya, ga mau gegabah takut rencanaku gagal! Aku juga berhasil menjaga keperawananku demi untuk menyatukan cinta kita berdua! Aku beberapa kali telepon Ayah! Tapi Ayah sama sekali tak meresponku, bahkan terakhir malah memblokir nomorku. Nomor pribadimu serta akun emailmu juga tak bisa kuhubungi! Hik hik hiks..."


Alifah bercerita panjang lebar dengan sebelah pipi menempel di dadaku.


Tiba-tiba pintu kamar Ibu terbuka. Dengan mata menatap kebingungan, pacarku yang manis cantik Eliza Maura berdiri tegak di sana.

__ADS_1


Mampus lo, Tot!!!


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2