
Aku diantar Harlan pergi ke daerah pamannya tinggal.
Paman Harlan memang terkenal sebagai tukang urut patah tulang. Kaki kiriku remuk kena hantaman tongkat besi yang Bryan layangkan ketika pergelutan tempo hari terjadi.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Yang ada kini hanyalah penyesalan dan penyesalan setiap kali otakku kembali merewind semua kejadian di masa lalu.
Hhh...
Begitulah manusia. Hanya bisa menyesal di akhir cerita.
Dan aku sudah putuskan membuang kartu SIM Card hape beserta hapenya yang hanya menjadi bangkai.
Semua medsos kubekukan.
Aku ingin hidup dengan jiwa yang baru dan semangat yang baru pula. Meskipun kini tanpa cinta Alifah.
Tapi, bukan Ayah namanya jika tak ikut berjuang mencari jodoh sejati untuk putranya. Duh, Ayah! Terdabest banget Ayah gue, mah!
Sebelum aku di bawa ke Bukit Intan, rupanya beliau sudah menghubungi teman karibnya untuk berkunjung ke rumah kami terlebih dahulu.
Pak Abu Bakar beserta istri dan putri bungsunya, Utami Habibah datang bersilaturahmi.
Cantik! Beneran! Tapi masih bocil, hiks! Secara Tami baru saja lulus Aliyah. Baru tujuh belas tahun lebih.
Gadis itu pendiam, tapi murah senyum. Semakin menambah kecantikannya yang murni alami.
Lip! Gue mau move on dari elo, Lip! Sori, Lip! Buat saat ini, gue biarin Ayah Ibu melakukan yang seharusnya terjadi dalam hidup gue.
Aku, Gatot Subroto. Usia 25 tahun, sarjana manajemen yang masih bujangan dan mendamba cinta kasih tulus suci dari seorang perempuan.
Ayah Ibu seperti kejar target untuk menikahkanku segera.
Terdengar lamat-lamat Ayah mengobrol dengan pak Abu Bakar di teras rumah.
"Putus cinta itu obatnya ya cinta lagi! Frustasi karena perempuan itu, sembuhnya juga sama perempuan lagi."
"Betul! Makanya, siapa tau Utami putrimu mau menjalin hubungan dengan Gatot putraku! Putraku itu walau usianya sudah 25 tahun, tapi wajah dan tingkahnya masih seperti anak SMA yang suka semau gue!"
"Hehehe..., anakku juga sama, Cak! Kelakuannya masih banyak minusnya. Makanya aku lebih tenang kalau Utami segera kunikahkan! Setidaknya, ada suaminya yang nanti membimbingnya dalam rumah tangga!"
Yaela, Yah! Jangan buka kartu juga kali', sama Bapaknya si Utami. Khan bikin malu anak sendiri, jadinya! Hiks...
Aku dan Utami duduk di ruang tamu. Ditinggal berduaan saja. Sementara Ibu dan Ibunya ada di dapur, sedang menyiapkan makan siang.
__ADS_1
Yassalam...! Gabut banget sih gue, bingung mau ngajak ngobrol apaan. Secara anak manis ini begitu pendiam. Bikin gue gatel pengen cucut bibirnya yang imut menggemaskan.
"Utami..., sekolah di mana?" tanyaku dengan pertanyaan garing krik krik parah.
"Di MAN 1 PP, Bang!"
"Oh, yang ditikungan tiga itu ya?"
Dia mengangguk sembari menebar racun senyumnya yang manis.
Duh, Dek! Kamu manis banget, tapi... Koq gue ngerasa kamu bukan tipe gue ya?
Apa... Karena gue belom bisa move on dan lupain si Alifah? Hm... Entah!
"Kakak temannya Bang Harlan, suaminya kak Desi ya?"
"Iya. Koq kamu tau?"
"Hehehe...! Bang Harlan punya adik, dia satu kelas sama Tami di MAN!"
"Oh gitu ya?!"
Obrolan ngalor ngidul, tapi tak intens juga. Karena aku adalah pribadi yang sedikit susah membuka pertemanan baru dengan lawan jenis.
Apalagi kami ini sedang on proses perjodohan.
Namanya bagus. Orangnya cantik. Senyumnya juga manis. Hm...! Masih muda pula, Tot! Gimana lo ga beruntung, mau dijodohin sama daun muda yang masih seger dan masih masa pertumbuhan! Ck ck ck... Masih butuh diberi asupan susu kuda liar! (Dih?!? Mulai kumat sengklek!)
"Moga cepat sembuh ya, Bang!"
"Makasih, Tam!"
"Koq panggilnya, Tam! Utami Habibah!" sungut Ibuku protes pada keasalanku memotong leter nama Tami.
"Ya maksud Gatot gitu, Bu! Biar cepet, gitu! Hehehe... maaf ya?!"
Pak Abu Bakar beserta istri dan anaknya pulang sebelum Harlan datang dengan membawa mobil carry milik Ayahnya.
Jadi kawanku itu tidak bertemu muka dengan calon mertua dan calon istriku. (Kalo jadi! Kalo jadi, ya!?!)
Ayah memberikan dua kruk tongkat bantuan jalan yang sudah jadi teman setiaku hampir setengah bulan ini.
Aku akan pergi ke daerah lain dan tinggal sementara beberapa saat sampai kakiku sembuh.
Ayah dan Ibu tadinya bersikeras untuk ikut mengantar. Tapi semalam aku dengan obrolan ringan mereka berdua. Dan Ayah yang minta dikerok karena masuk angin masih jetleg selama tinggal di Ibukota. Sehingga aku memutuskan pergi hanya diantar Harlan saja.
"Khan naik mobil Harlan! Ibu sama Ayah bisa ikut antar!"
"Gatot biar diantar Harlan, Bu, Yah! Lagipula cuma belasan menit aja! Gatot juga bisa jaga diri di rumah pamannya Harlan! Nanti kalo jemput, baru Ayah Ibu ikut!"
__ADS_1
Akhirnya kedua orang tuaku menuruti juga perkataanku.
Aku lihat wajah Ayah pucat. Butuh istirahat setelah perjalanan jauh kemarin. Ditambah tamu yang datang silih berganti menyambangi rumah kami. Membuat tubuh mereka agak kurang fit. Aku takut berimbas pada kesehatan Ayah dan Ibu kedepannya.
"Makasih banyak, Lan! Kamu benar-benar teman yang baik yang bisa kuandalkan!" kataku ditengah perjalanan.
"Hehehe... Jangan bilang gitu, ah! Dulu kau pun selalu nolongin aku di kampus. Kau selalu traktir aku bila punya uang lebih! Ingat khan?"
"Hehehe... Malu ati, aku! Cuma bisa traktir jajanan murah, Lan!"
"Hilih! Murah bagimu. Buatku, itu berharga. Bisa ganjal perutku yang lapar kukuruyukan!"
"Hehehe...! Moga kau sukses dengan bengkel motormu, Lan! Bahagia juga bersama Desi. Dan tambah lagi momongan!"
"Yassalam, satu aja udah kewalahan. Mau tambah lagi! Hiks, biaya hidup sekarang mahal, Gatot! Lebih baik aku tunggu kau cepat sembuh, cepat nikah dan cepat punya momongan seperti aku ini!"
"Aamiin! Hehehe...!"
Doa Harlan membuatku nyengir kuda.
Percintaanku sangatlah menyesakkan. Bertahan hanya pada satu wanita sedari remaja, ternyata tak membuat hidupku jauh lebih bahagia.
Tau gini, mending gue jadi kang playboy! Tebar pesona sono-sini! Terima cinta para gadis sedari masih kuliah. Pasti hidup gue ga akan semerana sekarang ini! Ck! Nasib, nasib!
"Eh, Tot! kamu ingat tak, sama Eliza?"
"Eliza?"
"Iya. Yang cantik itu. Yang pernah nembak kamu waktu semester enam! Hehehe..., masa lalu, Tot!"
Duh, gue lupa! Sori, Harlan! Gue kuliah cuma mengejar titel doang. Beneran lupa sama semua pertemanan kalian yang sebenarnya jauh lebih tulus dan berharga dari cinta labilnya Alifah. Hiks...
"Kenapa emangnya si Eliza?"
"Dia buka usaha ekspedisi. Lagi butuh karyawan tambahan buat membangun bisnisnya itu! Kamu minat ga? Itu khan bidang kerjaan kamu di Jakarta ya khan, Tot?"
"Iya juga, sih! Tapi kakiku... Masih kayak gini, Lan! Hhh... Belum berani ah,"
"Kalo kamu minat, biar aku kasih tau dia secepatnya. Dia itu kurang faham urusan kirim barang dan paketan begitu. Apalagi belum banyak orang yang bisa dia ajak kerja sama! Kasian aku, lihatnya Tot!"
"Hm... Mending nanti ajalah, Lan! Aku mau ajukan lamaran kerja kalau kakiku sudah sembuh total!"
"Oh, gitu ya! Ya udah, ini kartu namanya Eliza. Kamu bisa hubungi dia kapanpun kamu mau gabung!"
"Oke, thanks Lan! Kusimpan kartu namanya Eliza!"
Hmm... Apa gue bisa kerja normal lagi kek dulu ya? Sementara saat ini kaki dan tubuh gue ringkih model begini. Jalan pincang, tangan kanan juga agak susah digerakkan. Sementara kalo gue lanjut usaha ekspedisi kayak dulu lagi ..., hhh... Entahlah!
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1