MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (83) Keanehan Arif


__ADS_3

"Tot,"


"Iya, Bu?"


"Coba deh kamu tanya Arif!"


"Kenapa Arif, Bu?"


Aku terkejut. Ibu mendatangi kamarku pukul sembilan malam kurang. Mengatakan hal yang tak kumengerti dengan menyebut nama Arif, adiknya Alifah.


"Anak itu... Terlalu dingin dan tertutup. Gak pernah mau ngomong apapun itu. Ibu... Agak gimana gitu jadinya. Makannya juga sedikit sekali. Kalo ditanya, cuma jawab sepatah dua patah kata. Paling senyum. Cuci baju sendiri, kamarnya juga dirapikan sendiri. Ibu jadi bingung, serba salah, Tot!"


Oooh... Karena ini toh!?


"Hehehe... Bagus dong, Bu! Itu tandanya anak itu ga mau ngerepotin Ibu. Dia bisa lakuin sendiri. Dulu Ibu suka marah-marah sama Aku, kamar model kapal pecah. Terus, selalu bilang, aku ini rujit. Ngeyel, suka sakarep'e dewek. Nah, sekarang dikirim Allah anak macam Arif, Ibu tetep komplein. Gimana ceritanya ini?!"


Ibu mencubit pinggangku.


"Ish! Diajak curhat malah gitu deh, responnya!"


"Bukan gitu, Bu! Hehehe... Mungkin Arif ga mau repotin Ibu. Mungkin Arif sungkan buat nyusahin Ibu. Beda sama Aku, anak kandung Ibu yang suka sengaja malah ngeselin Ibu. Begitu mungkin!"


"Tapi..., koq Ibu ngerasa ada yang aneh aja gitu, Tot!"


"Ya udah...! Ntar Gatot coba ngobrol sama Arif deh!"


"Tapi, jangan bilang Ibu yang ceritain ke kamu ya?"


"Lha? Gimana ceritanya Gatot ajak ngobrol Arif kalo permasalahan Ibu ga disampein langsung?" tanyaku bingung.


"Bukan. Ibu ga mau Arif makin sungkan nantinya, Tot!"


Aku tersenyum. Faham akan maksud hati Ibu.


Ibu menepuk bahuku pelan. Beliau mengangguk lalu berjalan keluar kamar.


Hm... Jujurly bukan Ibu doang sih, yang ga nyaman lihat sikap dan sifat frozennya Arif. Gue juga. Padahal seringkali gue coba ajak diskusi santai soal kehidupan, tapi... Anak itu terlihat tetap tak bergeming.


Mikirin permintaan Ibu buat mencoba mendekati pribadi Arif, bagaikan menaklukan gunung es everest. Bahkan lebih sulit dari saat aku melakukan 'pendekatan' pada Alifah. Hhh...


Arif ikut bekerja di kantorku. Dia kutugaskan mengurus dan mengontrol hunian baru yang telah selesai pembangunannya sampai dengan finishing bersama beberapa tukang ahli.


"Gimana kerjaanmu, Rif?" tanyaku padanya ketika ada kesempatan bersama Arif di jam makan siang.

__ADS_1


Arif mengangguk dengan senyum simpulnya.


"Apa ada yang ga dimengerti?" tanyaku lagi.


Arif menggeleng. Kini fokusnya hanya pada rantang katering makan siangnya saja, tanpa menoleh ke arah wajahku.


Hhh...


"Rif!?"


"Ga ada, Bang!" jawabnya singkat. Kini wajahnya kembali menunduk dengan mata fokus pada makannya.


"Alhamdulillah. Syukurlah! Kamu betah ga kerja dan tinggal disini?"


Arif mengangguk.


"Jawab pake suara khan lebih sopan deh! Berasa lagi ngomong sama anak perempuan yang malu-malu kucing deh!" gertakku membuat Arif semakin menunduk. Langsung nyadar juga, ni anak!


Eh? Apa...kalimat gue tadi ga kepedesan ya?


Arif, seperti biasa... Setelah makan siang, ia lebih memilih menyepi daripada kumpul berbincang santai dan bercanda sesama karyawan di menit-menit terakhir jam istirahat.


Terlihat dari luar, Arif pemuda yang baik. Tak suka ngomong dan tak banyak cakap.


Sesekali kuintip dia dari kejauhan. Cara kerja serta interaksinya dengan teman seprofesinya, lumayan baik walaupun anyep saking seriusnya. Dia juga mudah menangkap perintah mandor atasannya jika disuruh. Arif juga gesit dan cekatan. Termasuk kedalam kategori orang yang sedikit bicara tapi banyak bekerja. Goodboy.


Dia juga tidak merokok. Tidak suka ngopi bahkan jarang minum atau ngemil yang manis-manis.


Dia beneran tipe orang yang sederhana. Pemuda yang cukup langka dijaman sekarang ini. Tapi ga perlu diawetkan juga, thor!


Hm.


Aku menghampirinya di sebuah rumah kosong yang baru selesai difinishing dan di cat ulang tembok dasar menjadi lebih timbul warna gradasinya. Arif kutugaskan mengontrol setiap detail bagian-bagian kecil setiap rumah.


Mulai dari aliran listrik, PAM, stop kontak setiap ruangan, washtafel, saluran pembuangan air, sampai lobang angin dan juga pembuangan gas septictank.


Arif termasuk karyawan yang mengontrol semua itu.


Sehingga costumer yang akan menempati rumah tersebut puas dan tak ada keluhan setelah masuk mengisinya.


"Rif!"


Kutepuk bahunya pelan. Dia agak terkejut. Mungkin karena fikirannya sedang melanglang buana, entah kemana. Dia sedang melamun.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba aku merasa suhu tubuhku agak merinding karena kita hanya berdua saja di rumah kosong itu.


"Ada apa, Bang?" tanyanya datar.


Tentu saja aku bingung dengan pertanyaannya yang agak aneh menurutku.


"Ikut kontrol. Kenapa? Ga boleh ya? Biasanya Abang juga suka lakukan pengontrolan koq, cuma gak sering. Palingan sebulan dua kali."


Arif mengangguk pelan.


Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Kini bagian lampu listrik yang sedang diperiksanya.


Ada keanehan yang tiba-tiba kutangkap dari cara kerjanya secara sembunyi. Aku sengaja seperti keluar dari ruang tengah menuju ruang tamu. Padahal masih berdiri di balik tembok penyekat pintu ruang tengah.


Dia belum menekan stop kontak, tapi... bohlam lampu ruangan berkedip-kedip. Menyala, lalu mati, kemudian menyala lagi. Sampai beberapa kali.


Aku terbelalak.


Memastikan kedua tangannya yang tetap disamping badan Arif tak bergerak menekan tombol saklar.


Wow!?! Sulap apa sihir ini??? Ngeri-ngeri sedap juga ni anak!


Jantungku terpacu lebih cepat detaknya. Tak berani bertanya, tak mau juga kepo dan langsung menginterogasinya yang seperti memiliki kelebihan lain di bidang supranatural. Kayaknya sih!


Aku keluar ruang tamu. Berseru kepadanya mengatakan kalau aku kembali ke kantor.


"Iya, Bang!"


Hanya itu saja jawaban Arif.


Aku berjalan pelan, kembali ke tempat tugasku di depan komputer yang dipenuhi laporan demi laporan. Fikiranku tetap pada kondisi Arif.


Biar bagaimanapun, anak itu adalah adiknya Alifah JANDAKU. Kakaknya menitipkannya padaku sebelum terbang ke negeri Saudi Arabia. Dan kemungkinan setahun lagi baru akan kembali.


Arif adalah tanggung jawabku. Dalam hal apapun walaupun anak itu sudah tumbuh dewasa dan sudah bisa cari uang sendiri.


Tetapi ada hal-hal lain yang sifatnya sangat privasi yang tak sembarangan juga aku memasuki ranah pribadinya. Kecuali, Arif sendiri yang cerita dan minta pendapatku. Baru aku bisa ikut campur kedalam urusannya.


Namun otakku kembali merewind ucapan Ibu semalam. Aku harus bisa dekat dengan Arif. Bercakap-cakap akrab layaknya kakak dan adik.


Tapi gimana dong? Gue kaga ngerti! Secara gue ni anak tunggal. Ga biasa maen rahasiaan sama orang tua. Tapi juga ga biasa kepoan juga kepengen tau daleman pribadi orang. Ck. Ini begitu syulit!


__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2