MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (32) LAPORAN, SELESAI!


__ADS_3

Mengkesal, tapi aku ingin Alifah segera tahu.


Setelah membalut tanganku yang berdarah dan lumayan agak bengap bengkak karena menjotos tembok, aku memutuskan pergi keluar.


Tujuan utamaku tentulah asrama kampus si BELUT. Amarah ini masih di ubun-ubun. Belum tuntas karena belum cerita pada Alifah soal kelakuan bejad tunangannya itu.


Berharap Si Belut masih ada di kampus utama. Aku pun berjalan menuju ruang informasi.


Setelah menanyakan pada kakak tingkat yang menjadi pengurus di kampus dan basa-basi sedikit, aku mendapat bocoran kalau masiwi semester akhir bernama Siti Alifah kini sedang ada bimbingan di ruang dosen.


Aku menunggunya sebentar di ruang aula kampus, karena selain mahasiswa, dilarang memasuki ruangan kelas tanpa izin pihak perguruan.


"Gatot? Kenapa? Koq, nungguin gue?"


Alifah tercengang melihat aku yang duduk di tembok depan kampus dengan tangan melambai ke arahnya.


"Ga ada apa-apa. Cuma mau ketemu lo aja!"


"Itu, tangan lo kenapa?" tanyanya setelah memperhatikan wajah lalu tanganku juga.


"Ini...,"


"Gatot! Lo engga'..., abis berantem sama seseorang khan?" tanyanya dengan suara berbisik.


Dia menarikku ke luar taman kampus.


"Tot?" tanyanya lagi bermaksud memastikan. Sepertinya dia mulai kepo maksimal.


Aku mengajaknya keluar dari lingkungan kampus. Memboncengnya sampai ke warung kopi Mang Acong.


"Mang Acong, kopi item sama roti bakarnya ya dua porsi!"


"Siap, Bang!"


"Satu lagi, teh tawar anget ya Mang?"


"Woke, Neng!"


Kami duduk persis di tempat yang waktu itu. Dengan wajah lelah dan muka kucal serta kumal, kupandangi Alifah yang sebelas dua belas denganku.


"Kamu kenapa sih? Ga bisa banget nahan emosi!" tuturnya dengan suara lemah lembut. Dan aku terdiam menunduk, membiarkan jari jemari lentiknya membuka ikatan kain di tangan kananku.


"Ini kalo dibiarinin bisa infeksi, Tot!" katanya lagi.


Tasnya ternyata memiliki banyak alat-alat kedokteran serta obat-obatan.


Alifah mengeluarkan bungkusan kapas, juga kotak obat kecil tapi penuh beragam alat pengobatan.


Lukaku ia sterilkan dengan cairan alkohol. Lalu dilapnya dengan kapas dan diberi betadine serta kain kasa kemudian ditutup beberapa potong handyplash.


Aku kembali mengingat awal pertemuan kami.


Hansaplash yang pernah ia lekatkan di tanganku sampai kini masih tersimpan di dompetku. Kujadikan jimat.


Kutatap bola matanya,


Ah Lip! Andai lo tau, betapa besar dan dalam cinta gue ini sama elo! Hiks...! Gue terluka karena sakit hati dan kecewa pada sikap tunangan lo yang Don Yuan itu! Mikirin gue napa, Lip! Please mikirin perasaan gue juga kali-kali'! Gue cinta elo, sayang elo, inginkan kebahagiaan buat elo. Walau kenyataannya gue tetep kalah jika lo bandingin sama si Bryan Anggara. Hiks...


"Tot! Lo berantem sama siapa?"


Aku tergagap. Lupa kalau sedang dirawat calon bidan cantik yang sangat mempesona karena mengingat hansaplash plesterannya.


"Lif!"


"Ya?"

__ADS_1


"Apa lo bakalan percaya sama gue?"


"Ya emang gue pernah bilang ga percaya sama lo apa? Kapan?"


"Ini beneran, Lipah! Gue serius!"


"Gue juga. Sepuluh rius malah!"


"Hadeuh! Malah ngajak bejanda!"


"BECANDA!!! Jangan remehin status itu! Jahara namanya!"


"Hehehe.., mangap! Eh, maaf maksudnya! Hehehe...!"


Aku sedikit main plesetan. Biar Alifah tersenyum dan kembali manis wajahnya. Tanganku telah selesai Alifah obati.


"Lif..."


"Pesanan datang!"


"Makasih Mang Acong!" kataku pada pengantar pesanan.


"Sama-sama. Tapi Mang Acong itu bapak Saya. Udah pensiun sekarang orangnya, jadi dilanjut sama saya, Bang! Nama Saya Alyang. Hehehe..."


"Oh gitu toh!? Hehehe..., makasih Bang Alyang!"


"Sip, Bang...sama-sama!"


Kami berbarengan menyeruput minuman. Aku kopi hitam, Alifah memesan teh tawar hangat.


"Gimana susun skripsinya? Lancar jaya?" tanyaku dengan santai.


"Maju mundur cantik!" jawabnya sambil merengut imut.


"Sabar! Kata salah satu author favoritku, kerja keras tidak akan mengkhianati hasil!"


"Hiks,... Siapa yang mengkhianati siapa? Ah, hidup ini kejam, kawan!" jawabnya mengsedih.


Kutarik kedua tangannya pelan.


"Lifah! Apa lo cinta berat sama si Bryan? Apa lo beneran cinta mati sama dia, dan tetep mau nikah walau seperti apapun dirinya?"


Alifah hanya menatapku. Bibirnya bergetar, dan kepalanya tertunduk makin dalam.


"Jujur sama gue, Lifah! Gue butuh penegasan dari lo!"


Ia kembali mendongakkan kepalanya, tegak sambil menghela nafas dan menelan saliva.


"Almarhumah Mama pingin Aku dan Bryan menikah!"


"Aku tahu! Tapi aku ingin tahu isi hatimu! Apa kau juga mencintainya? Menerimanya apapun yang terjadi nanti kedepannya, seperti apapun adanya dia?"


Aku hanya menunggu jawaban Alifah.


"Doa orangtua pasti baik. Dan Mama gak akan mungkin menginginkan aku terperosok jatuh. Bryan pasti punya nilai lebih dipandangan Mama!"


Ya betul. Bryan anak orang kaya. Orang berada. Dan Mamanya sudah menyekolahkanmu sampai saat ini kamu mau lulus kuliah. Tapi...


Ah, mengesalkan sekali perdebatan ini! Karena aku lemah. Aku tak bisa membela diri dan membuka kebenaran ini karena ada amanat Mamanya yang telah tiada.


Hhh...


"Tapi, kurasa Mamamu juga tidak akan terima jika tahu kebenarannya!" gumamku membuat Alifah mengeryitkan dahi.


"Apa maksudmu? Apa..., ada sesuatu?" tanyanya dengan bibir bergetar.

__ADS_1


"Apa Mamamu tahu, bagaimana Bryan bertingkah laku pada kalian? Pada Papamu, pada kamu? Kata-kata kasarnya, kurasa beliau pun pasti akan berfikir ulang untuk menikahkanmu dengan anak sahabatnya itu!"


Alifah ternganga memandang wajahku.


"Dia bukan lelaki yang pantas bersanding denganmu, Alifah! Dia..., tidak seperti yang kalian fikirkan!" kataku tegas.


"Aku tahu. Dia kasar. Dia juga arogan. Tapi hatinya baik!"


"Tu orang punya pelet apaan sih? Sampe ada dua cewek bilang begitu sama gue!?! Huh!!!"


"Dua cewek?"


"Dengar! Dia itu sudah menikah, hei Siti Alifah! Si Bryan itu sudah punya bini! Dan mereka sekarang adalah tetangga gue di apartemen!!!"


Upsss keceplosan!!!


Wajah Alifah pucat seketika.


Waduh? Gagal dong nih, gagal nikah dong!? Pastinya! Please, please... Gagalin lah! Aaarrrggh... Gemes gue!


"Darimana lo tau mereka udah nikah?" tanya Alifah.


"Dari mulut mereka berdua, Lifah! Gue ga bakalan berani ngomong gini sama elo kalo cuma hoaks atau kabar burung doang! Lo ga percaya sama gue khan? Iya khan?... Udah gue tebak! Dimata lo gue ini cuman bangs*t! Yang sukanya bikin kerusuhan, keonaran, dan ga ada baik-baiknya sama sekali khan? Iya khan?Shiiit!!!"


Aku lupa. Aku lepas kendali.


Alifah justru hanya bengong mirip kambing ompong. Bahkan airmata pun tak nampak menetes di pipinya yang merona karena polesan blush on.


Sekaget itukah elo, Lifah? Apa sebenernya lo udah tau kalo emang si Bryan punya cewek lain?


Aku berusaha menenangkan hati yang panas ini.


Alih-alih niat memberitahu si Belut, justru kenapa aku malah yang jadi kalang kabung. Hadeuh! Terbawa suasana, gue!


Kucucuk sepotong roti bakar. Dan hap, masuk ke mulut tanpa banyak cingcong.


Lifah..., dimana otak lo? Dimana nurani lo? Dimana kepekaan lo?


Tapi jujur, gue salut sama ketegaran lo! Yang masih santai mencocol roti bakar dan melahapnya pelan dengan pandangan mata menerawang jauh. Hiks...! Yang sabar ya, My Belut!


Tapi aku gemas. Geram campur gereget.


Kupegang lagi jemarinya yang tadi sempat lepas.


"Kalo lo ada apa-apa, cari gue! Temuin gue! Gue pamit! Gue rasa lo bisa pulang sendiri ke kostan!"


Aku bangkit dari duduk.


Pening otak karena espektasi Alifah tak seheboh yang kubayangkan.


Aje gile, si Belut damang-damang wae padahal gue udah semuanya tentang si Bryan! Dimana ada perempuan kek gitu! Yang ada biasanya saling gontok-gontokan! Iya ga sih? Dimana-mana perempuan semua sama khan? Apa ada yang mau berbagi mainan kesayangannya sama orang? Kalaupun ada, jarang! Seribu satu cewek kayak gitu!


"Tot!... Jangan pergi, please...!"


Aku tercekat.


Antara senang tapi bingung.


Kalimatnya membuatku ambigu. Ge'er karena merasa Alifah akhirnya butuh aku juga.


"Bayarin dulu makanannya, aku ga punya uang sama sekali!"


Yassalam!!! Lip, Lip! Bisa-bisanya lo angkat gue melambung tinggi setelah itu lo hempaskan ke bumi sesuka hati. Hiks... Laporan, selesai!


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2