
Kuletakkan uang seratus ribu rupiah di atas meja. Merasa terhina, Alifah benar-benar membuatku terluka. Jiwa dan raga, lahir dan batin.
Aku mati-matian bela dia, tapi responnya ternyata... Menyesakkan dada.
Begitulah perempuan, Tot! Yang diperjuangkan justru memandang rendah diri lo! Ngapain lo capek-capek mikirin! Pikirin diri lo sendiri, mulai sekarang. Dan juga kedua orang tua lo yang butuh bakti lo! Cewek banyak, bro! Yang cantik juga berserak dimana-mana! Bukan cuma si Belut doang! Lha khan lo udah tau sifatnya dari muda dulu. Ya begitulah!
Aku pulang dengan hati mendongkol. Berasa seperti orang yang tak dianggap adalah seperti hinaan yang sangat besar.
Tapi gue ga bisa benci elo, Lifah! Gue ga bisa! Bahkan gue kepingin ngeluarin elo dari hati gue, tetep kaga bisa!
Ya Tuhaaan!!! Ada apa sama gue iniii!!!
Ingin rasanya kuteriak seperti di hutan. Mencaci maki semua setan yang sudah malas bergentayangan.
Aih? Kenapa caci maki setan?
Ya iyalah. Gara-gara setan malas gentayangan. Manusia-manusia sekarang malah pada bertransformer jadi setan. Janc*k!!!
Malam ini kutinggalkan Alifah dengan rasa kesal yang menggunung. Anehnya, Aku justru bukannya benci sama si Belut. Malahan tambah iba dan tambah tak tega. Hiks!
Apakah cinta benar-benar bikin pemujanya jadi super beg* bin dong* beginikah? Huaaa...hik hik hiks...
Apalagi setibanya di apartemen, aku hanya bisa duduk di pinggir ranjang tidurku dengan tatapan kosong.
Semoga si Belut pulang ke asramanya dengan selamat!
Ya ampun...
Sampai segitunya rasa khawatirku padanya, sedangkan dia sendiri seolah tak peduli aku. Bahkan harga diriku sampai tak ditolihnya pula.
Hhh...
Sesekali menghela nafas. Berfikir bagaimana caranya agar aku tak selalu dongkol sedangkan tunangan JANDAKU justru ada di apartemen sebelah dengan istrinya.
Anjriiit khan tuh?!? Trus, gue kudu gimana? Pura-pura amnesia? Pura-pura ga kenal dan berusaha tutup telinga apalagi pas mereka main kuda-kudaan? Haish!!! Aaarrrggghh...
...........
Lelah hati, jiwa dan raga.
Badanku sudah dua hari ini meriang. Panas dingin dan pusing tujuh keliling. Kukira dibawa kerja, akan membuat sakitnya berkurang dan perlahan menghilang. Tapi ternyata...
Ini murni sakit. Bukan alesan ataupun pura-pura supaya si Belut merasa iba.
Padahal siang ini aku sedang ikut Mas Rasdi bawa barang ke tempat customer yang ada di pusat kota.
Duh!!! Beneran berasa sakit badan sebuku-sebuku, dan kepala tengleng tak tertahankan.
Hingga rasa sakit ini benar-tak tak kuat kutanggung lagi bebannya.
"Mampir dulu RSUD, Tot! Ya?" kata Mas Rasdi yang khawatir melihat keadaanku yang menggigil ditengah perjalanan.
Aku mengangguk pelan. Pasrah kini dengan keadaan.
Untungnya barang sudah sampai ditempat konsumen dan kini kami sedang meluncur kembali ke lokasi pabrik di wilayah pusat Ibukota.
Rumah Sakit Umum Darurat.
__ADS_1
"Mas, padahal ke klinik aja lah! Ga perlu rumah sakit gede begini! Emangnya gue sakit parah, apa! Cuman meriang doang, butuh parasetamol sama anti biotik doang!"
"Sst...bawel lo ah! Tanggung ini, kita udah masuk RSUD! Daftar dibagian umum aja! Tinggal nunggu dipanggil nama lo, periksa, beres. Tunggu obat deh!"
Aku menurut saja.
Pusing juga kepala dengar suara Mas Rasdi yang mendebat perkataanku.
Dengan tubuh terhuyung dan kepala menyender di tembok kursi tunggu, aku sesekali menoleh pada orang-orang yang juga lalu lalang.
Sampai pada...
Sebuah kereta dorong yang membawa tubuh seseorang yang kukenal.
Papa Mukti??? Koq,... Diatas kereta dorong?
Aku mengeryitkan dahiku. Berusaha fokus sambil berdiri. Memastikan kalau penglihatanku tidak salah karena sedang meriang panas dingin.
Dibelakangnya berjalan seorang pemuda tanggung memakai kain sarung dengan tangan menenteng map warna biru.
"Arif!!!" panggilku mengenalnya.
"Bang Gatot!!!"
Aku agak terseok karena tubuh yang oleng tapi berusaha sekuat tenaga menghampiri Arif, adiknya Alifah.
"Papa kenapa?" tanyaku sebelum Arif kembali berjalan.
"Cuci darah, Bang! Khan ini penyakit udah dua tahun diderita Papa! Bang, Arif antar dulu Papa ke ruangan ya?"
Lif...! Ternyata permasalahan lo sangat pelik! Pantesan lo kayak orang yang ga punya hati nurani lagi! Ternyata...
"Gatot! Nama lo dipanggil tuh! Ayo masuk ruang pemeriksaan!" pekik Mas Rasdi padaku.
Sungguh aku jadi tak fokus pada pemeriksaan tubuhku sendiri. Hanya mengatakan meriang sudah dua malam dan dokter Tarigan memeriksaku secara telaten. Tetapi fikiranku justru pada keadaan psikis si Belut. Hhh...
Papa Alifah juga sakit parah rupanya. Harus rutin cuci darah. Mamanya meninggal dunia dan butuh uang untuk berobat hingga harus pinjam pada sahabatnya yang tak lain adalah orangtua si Bryan. Ya Tuhan!
Bisa jadi Alifah kini sedang berjuang sendirian, mengerjakan tugas akhir kuliahnya, mengobati penyakit Papanya juga, dan membiayai hidup adiknya di pesantren. Itu semua butuh biaya besar. Dan kemungkinan, Alifah pasti rela kehilangan semua cinta dan masa mudanya demi semua itu agar bisa barter dengan keluarga Bryan Anggara.
"Tot?"
"Hm..."
"Gue kira lo mati! Diem aja soalnya!"
"Masih idup, Mas! Masih nafas sama nahan kentut ini!" jawabku membuat rekan kerjaku terkekeh sembari menepuk bahuku. Sakit, oi! Hiks...
Dia menyetir mobil sambil sesekali melirik kearahku yang lemah tanpa daya upaya.
"Makan dulu ga di A&W?" ajak Mas Rasdi. Aku hanya menggeleng.
"Kentucky tuh, enak kayaknya!"
Hanya menggeleng.
"Restoran Jepang, mantep tuh! Mau ga? Kalo mau, gue berhenti nih!"
__ADS_1
"Engga', Mas! Rese' amat sih lo!? Giliran gue sakit, semua makanan lo tawarin. Giliran sehat, gue minta traktir mi kocok kaga pernah tuh lo beliin!" semprotku kesal.
"Hahaha...! Darting lo ya? Ayo, kalo mau sekarang kita makan. Gue traktir deh!"
"Kaga mauu!!! Mulut gue paiiit!!!"
"Hahaha...hahaha!"
Kubiarkan teman sablengku tertawa terpingkal-pingkal. Hanya mampu pejamkan mata sambil memijat pelipis kiri. Hadeeuh, gue pengen cepetan sampe rumah ini! Pengen rebahan!
Sialnya lagi, aku malah papasan dengan Mbak Mirina yang sepertinya juga mau pulang ke apartemennya di parkiran depan.
"Gatot kenapa?" tanyanya penuh perhatian.
"Lagi sakit Mbak! Ini baru dari rumah sakit!" jawab Mas Rasdi pada Mbak Alifah.
"Oala! Cepat sembuh ya, Tot!"
Hiks! Setan!!! Gue berasa tengsin banget ini setelah beberapa hari yang lalu sok jagoan ngehajar si Bryan didepan Mbak Mirina, sekarang malah gue terlihat menyedihkan, tepar, sempoyongan begini. Wanjiiim!!! Beneran cuy, karma itu ada!
"Mas! Gue bisa sendiri masuk! Lo pulang aja ke kantor gudang! Gue izin setengah hari ya?" kataku pada Mas Rasdi. Berusaha berdiri tegak tak mau terlihat lemah.
"Ya udah! Gue balik kerja ya?"
Aku mengangguk.
Sengaja mengulur waktu supaya tidak berjalan bareng Mirina. Tapi ternyata wanita itu malah menungguku di pintu lift.
"Ayo, Gat! Bareng aja, naik liftnya!" katanya lagi.
Mau tak mau aku jadi jalan berbarengan dengan istri si Bryan itu.
Hiks..., boleh skip ga Tuhan? Atau di rewind gitu biar adegan barengan sama Mbak Mirina ini ditiadakan? Huaaa... Malu gue, hik hiks!
Dug.
Dasar pe'a!!! Hyaaa, malah kesandung dan jatoh!!! Maaak, muka gue mana???
"Gatot!!!"
Duh! Mirina menangkap tubuhku dan...
Hiks, koq adegan jadi begini??? Cut cut cut! Skip, please...
Mirina memegang pinggangku dan... Mata kami saling bertatapan.
Aku segera menunduk, malu dan kurasakan suhu tubuhku semakin panas membuat wajahku merah seketika.
"Hati-hati, Gat! Mau aku bantu,"
"Ga usah! Makasih, Mbak!"
Aku tergesa jalan mendahuluinya. Pusing otakku semakin berat. Tapi syukurlah, pintu apartemen langsung cepat tanggap dan mudah kubuka sehingga tubuh ini segera masuk setelah melempar senyumdan mengangguk sopan.
Huaaa...!!! Malu banget gueee!!!
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1