MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (82) Waktu Dan Waktu


__ADS_3

"Gatooot!"


"Eliz? Lo kenapa?"


"Hik hik hiks...! Tolongin gue!"


Tiba-tiba Eliza berlari dari dalam sebuah mobil Honda Jazz-nya melesat ke hadapanku di depan kantor pemasaran perumahan tempatku bekerja.


"Heh, jangan ikut campur ya?! Ini urusan keluarga!"


Aku terkesima, dua tahun kurang tak bersua. Ternyata Eliza dan Cak Ubaid kini sudah menikah.


"Kenapa, kalian?" tanyaku bingung.


"Dia kasar! Dia pukul aku cuma karena ga mau izinin dia hang out bareng temennya!" curhat Eliza membuatku menepuk jidat.


Hadeuh! Mulai deh, mumet ndas gue ngeliat pasutri berantem model begini!


"Hei, please deh! Kalian menghilang, lalu muncul lagi dihadapanku cuma buat ceritain hal yang ga mutu begini? Yassalam! Dahlah klean! Sono ke laut aja!"


Namun tiba-tiba,


Bug


Wajahku di hantam Ubaid yang langsung memerah.


Waduh??? Apa-apaan ini?


Bug. Bug bug.


Ubaid menghajarku sekali lagi. Dan... Pucuk hidung serta pelipisku kena hajar dia.


"Eh, bangk*! Lo ada dendam kesumat sama gua, hah?!?"



Tentu saja aku tak terima dengan pukulan ngasalnya yang bertubi-tubi.


Jedug.


Desigh.


Prak. Plak. Plak plak


Jig jig jig


"Hyaaa..."


Kesal tingkat dewa. Kuhajar suami dari mantan pacarku sampai babak belur di teras kantor kerjaku dengan pekikan suara Eliza dan beberapa rekan kerja perempuan yang menyaksikan pertarungan 'tak jelas' kami ini.


Ubaid tergeletak di lantai sembari tertawa menyeringai, walaupun mukanya bonyok dan darah segar mengalir dari ujung bibirnya.

__ADS_1


"Hehehe..., tetap aja aku kalah darimu, Tot!"


Ni orang gila kali ya? Gue gebugin malah cengangas-cengenges bilang hal aneh yang gak gue faham apa maksudnya.


Dan yang paling menyeramkan lagi, Ubaid malah merangkulku. Tertawa dengan wajah hancurnya kena jotosku.


"Maafin kita ya? Kita nikah ga bilang-bilang!"


Eliza merapat tubuh suaminya.


Mencubit pinggang Ubaid dan mereka tertawa dengan mata saling berpandangan.


Pasangan psikopat ni dua orang! Ck!


"Kamu kena prank, tapi ngehajarnya beneran!" sungut Eliza sambil mengusap lelehan darah yang keluar dari bibir suaminya.


"Halah? Lo berdua udah gila ya? Nge-prank gue pake cara-cara psikopat gila kek gini maen hajar muka ganteng orang! Dasar pasutri saraf!" omelku kesal. Tetap kesal dan makin kesal.


"Hahaha... Sori menyori, Tot! Gue cuma kangen sama elo! Sengaja ngajak Mas Ubay nengok kantor tempat lo kerja. Ternyata udah sukses lo sekarang! Hehehe..."


"Anjriiit lo pada! Hiks! Muka gue nih, jadi rusak model bad boy gara-gara dihajar Cak Ubaid!" protesku sambil tetap marah-marah.


"Hahaha..."


Suasana yang tadi ramai, perlahan kembali normal. Para karyawan yang tadi ikut berwajah tegang karena atasan mereka di pukul orang tak dikenal, kini satu persatu kembali lanjutkan aktifitas kerja mereka dengan senyuman kecut dan gelengan kepala.


Orang jaman sekarang begini nih! Kangen sama sohib, sekalinya nyambangin malah ngajak gelud! Haish!


"Hei, masih aja panggil istriku Nona Lilis! Mau kujotos lagi, kau Tot!?"


"Hilih! Kau yang kalah, Cak! Hehehe... Maaf, terbiasa panggil Nona Lilis. Maaf ya bro!"


Kami tertawa, walau bibir meringis menahan nyeri. Karena ada bagian wajah yang bonyok kena hajaran teman lama.


"Mau ke dokter ga?" tanyaku melihat kondisi muka Ubaid yang jauh lebih dramatis lukanya kena hajar kepalan tanganku.


"Ga usah! Hehehe..., lumayan buat kenang-kenangan pertemuan perdana kita ini!"


"Ck! Orang gila, emang! Mana besok gue mau rapat di Batam lagi!" ujarku yang langsung disambut gelak tawa Eliza dan Ubaid.


Mereka kini hidup bersama. Sudah menikah dan tinggal di Ibukota bersama mengurus putri Cak Ubaid dari pernikahan terdahulunya dengan almarhumah kak Shafira.


Hhh... Ada senang, sedih juga terharu bahagia.


Perjalanan cinta, jodoh dan takdir seseorang tak bisa diprediksikan. Penuh perjuangan. Penuh suka duka serta tetesan keringat dan air mata. Seperti Ubaid Salman Khan. Akhirnya kakak tingkatku itu mendapatkan juga kebahagiaannya.


Seperti juga Harlan dan Desi.


Alih-alih usaha bengkelnya sedang bermasalah, mereka justru kini berbahagia menyambut kehadiran anak kedua.


"Lo belom kepikiran married, Tot?" sentil Eliza membuatku tersenyum miris.

__ADS_1


"Aku kira kamu balikan sama Alifah! Secara..." timpal Ubaid. Aku hanya bisa menarik nafas panjang.


"Alifah sekarang di Riyadh. Dia jadi tenaga medis tambahan disana. Entah mungkin udah punya gandengan sultono sana yang tajir melintir. Hehehe!"


"Hehehe... Aamiin!"


Eliza tersenyum dengan wajah tertunduk.


Jemarinya digenggam erat sang suami. Seperti sengaja terang-terangan bikin aku jelous.


"Woy, kalo mau mesra-mesraan...jangan di depan gue! Nih, ada paviliun di blok A. Tempatnya bagus. Cocok buat honeymoon. Murmer deh, harga sohib coy, buat kalian!"


"Iya? Viewnya gimana? Ngadep laut ga, Tot? Yuk, Mas...! Nginep semalem aja! pleaseee..." rajuk Eliza pada Cak Ubaid.


"Hahaha... Terpedaya orang pemasaran lihai nih!" seloroh Ubaid seraya merangkul bahu istrinya.


"Ya, ya ya! Secara lo berdua udah datang tiba-tiba, ngajak ribut tiba-tiba juga! Sekarang malah sengaja mesra-mesraan depan gue yang jomblo akut. Ya bayarannya sewa di paviliun tempat gue kerja ini! Hehehe..."


Aku tertawa puas.


Eliza dan Ubaid akhirnya menyewa satu paviliun kami di blok A di pantai Pasir Padi selama dua hari.


Hehehe... Alhamdulillah! Rezeki ga kemana!


Treeet... Treeet... Treeet...


"Hallo? Ya, Rif? Oke, Abang jemput di bandara! Yap! Bentar sekitar dua puluh menit, Abang datang!"


Ternyata, Arif adiknya Alifah sudah ada di bandara Depati Amir.


Sempat beberapa kali telepon aku, kalau dia ingin ikut tinggal di kota PP. Belajar ikut usaha pula, karena ingin mandiri dan berdikari sendiri.


Aku sih welcome saja orangnya. Selain amanat dari kakaknya, Arif juga sudah kuanggap adik kandungku sendiri sedari dulu kami awal kenal. Apalagi kini pemuda 20 tahun itu telah tumbuh dewasa setelah beberapa tahun menimba ilmu di pesantren kota S di Barat pulau Jawa.


.............


"Bang Gatot!"


"Rif!"



Waktu begitu cepat berlalu. Perasaan baru kemaren ni bocil masih pitik, sekarang udah menjelma jadi pria muda yang lumayan ganteng.


Hhh... Baru nyadar aku, kalo umurku udah makin tua aja! Hiks.


"Maaf, Bang! Arif jadi ngerepotin Abang!" katanya santun sekali terdengar di telinga. Maklum, anak santri!


"Hehehe... Woles aja, bro! Jangan canggung sama Abang, Ayah juga Ibu!"


Kami akan tinggal bersama, dan Arif akan ikut aku kerja. Belajar cari uang sendiri, karena selama ini ia selalu disokong Alifah kakak satu-satunya.

__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2