MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (41) Pilihan Yang Berbahaya


__ADS_3

Aku terkejut. Ayah dan Ibuku rupanya menunggu dengan posisi duduk di sofa mungil ruang tamu.


"Ayah? Ibu? Kenapa belum tidur? Ini udah jam satu malam!"


"Duduk, Tot!" titah Ayah.


Sungguh, jika Ayah sudah seserius ini pasti ada hal yang sangat mengganggu beliau hingga harus diskusi bertiga begini.


Aku duduk menghadap muka kedua orangtuaku.


"Tot! Ada apa dengan dirimu? Punya hubungan apa antara kamu, Mirina dan juga Alifah?"


Deg.


Aku menghela nafas sejenak.


Pertanyaan Ayah adalah pertanyaan yang sulit kujawab walaupun sebenarnya mudah.


"Jawab, Tot!"


Aku didesak Ibu juga.


Semakin membuatku sulit mengeluarkan kalimat penjelasan yang wajar.


"Tot! Alifah, tunangan orang! Mirina juga, istri orang. Ada apa denganmu, Nak? Kenapa terjebak dengan perempuan-perempuan yang notebenenya sudah ada yang memiliki?"


Perkataan Ayah membuatku menunduk diam.


"Gatot, Sayang! Ayah dan Ibu tidak pernah mengaturmu dalam urusan perempuan. Kami selalu mendoakanmu mendapat yang terbaik. Tapi, ... Bukan berarti Ayah Ibu membiarkan kamu jadi perusak hubungan orang! Itu tidak baik dan dilaknat Allah Ta'ala!"


Gatot semakin dalam menunduk.


"Ibu faham sekali, Alifah selalu ada dihatimu. Tapi..., Alifah sudah bertunangan. Kamu yang bilang, sebentar lagi Lifah bakal menikah. Lepaskanlah, Nak! Dan untuk Mirina, jangan terlalu baik karena kesannya kamu seperti memberi angin segar padanya. Bagaimana kalau suaminya tahu, kalian akrab dan seringkali istrinya berkunjung ke sini tanpa didampingi dia!"


Aku hanya bisa menelan saliva.


"Andai itu terjadi pada Ibu, lalu ibu merespon perasaan lelaki lain sedangkan Ibu ini milik Ayah. Bagaimana perasaan Ayah? Bagaimana perasaan kamu kalau mengetahui hal seperti itu? Sama seperti perasaan tunangan serta suaminya Alifah dan Mirina pastinya. "


Hiks... Tunangan dan suaminya dua perempuan itu adalah orang yang sama, Yah, Bu!


Ingin aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi tak berani. Takut dianggap hanya sebagai pembelaan saja. Karena sejatinya kelakuanku memanglah salah. Terutama pada Alifah.


Untuk kasus Mirina, aku tidak meresponnya, Yah, Bu! Perempuan itu justru yang terkesan mendekat dan merapat. Dan jujur aku juga masih diliputi tanda tanya pada tingkah Mbak Mirina. Apakah Bryan yang menyuruhnya atau itu murni keinginan sendiri berkelakuan seperti itu padaku.


Apa memang itu sifatnya yang ramah dan terbuka pada semua pria, atau ada sesuatu hal lain yang tersembunyi. Aku tidak bisa menilai Mirina.

__ADS_1


Hhh...


"Lepaskan Alifah dan Mirina, Nak! Ibu tahu, umurmu sudah 25 tahun. Teman-teman kuliahmu di kampung pun sudah banyak yang berkeluarga dan punya anak juga. Tetapi bukan berarti kamu harus mengambil perempuan milik orang lain, Nak!"


Hiks, Ibu... Kenapa aku jadi sedih mendengar permintaanmu? Padahal baru saja tadi taman bungaku mekar bersamaan setelah mendengar pengakuan dari Siti Alifah Binti Bapak Mukti. Hiks... Ibu! Tolong doakan anakmu ini, agar benar-benar mendapatkan yang terbaik. Cinta yang tulus dan membahagiakan hidup, sampai akhir hayatku.


Betapa menggalau perasaanku kini.


Ayah merangkul bahuku. Menatap mataku. Kemudian beliau memelukku tanpa kata.


Kuyakin semua doa terbaik beliau kerahkan untuk kebahagiaan hidupku ke depannya.


"Mau Ayah kenalkan putrinya teman Ayah?"


Aku menelan saliva.


"Namanya Utami Habibah. Cantik, tak kalah dari Alifah. Dia baru lulus MAN tahun ini. Tapi keluarganya kepingin anaknya cepat dikhitbah karena khawatir pergaulan jaman sekarang. Gatot cuma kenalan dulu, mau khan ya?"


Aku terpaku.


Ayah sepertinya sedang menyodorkan tawaran untukku melupakan Alifah.


Aku menggeleng pelan.


"Ayah...! Gatot sudah janji sama seseorang!"


Aku diam. Tak berani mengiyakan. Hanya menunduk malu karena tebakan yang seratus persen benar.


"Jangan jadi pengganggu hubungan orang, Nak! Secinta apapun kita, karena imbasnya juga fatal dimasa depan. Percayalah! Allah pasti memberi yang terbaik. Dan jalani hidup yang lurus, itu lebih baik!"


"Yah! Gatot baru saja janji sama Alifah. Kami, akan berjuang mendapatkan ridho Allah!"


Ayah membulatkan matanya. Ibu hanya bisa menghela nafas.


"Apa yang Ibu khawatirkan ternyata benar, khan Yah?" gumam Ibuku pada Ayah.


"Jangan seperti itu, Nak! Alifah sebentar lagi mau menikah!"


"Tapi,... Tunangannya itu jahat sekali sama dia, Bu! Keluarganya juga!"


"Jangan jadi perusak. Jangan, Nak! Jangan membangun hubungan diatas hubungan. Sekalipun kamu tahu hubungan yang dijalani Alifah dengan tunangannya menurutmu buruk. Tapi itu dosa, Nak! Tidak berkah dan tidak disukai Allah!"


Aku tentu saja merasa kalau hubunganku ini sudah difase lebih tinggi levelnya dari yang lalu.


Karena merasa skornya naik dengan pengakuan cinta Alifah padaku.

__ADS_1


Pertanda kini kami memiliki kadar cinta dan kasih sayang seimbang. Tinggal berjuang untuk mendapatkannya saja.


Itu yang ada dalam fikiranku.


Tapi ternyata, kendalanya kini malah bertambah. Pertentangan yang muncul dari kedua orangtuaku sendiri.


Seperti memakan buah simalakama.


Dimakan Ibu mati, tak dimakan Ayah yang mati.


Gimana iniii??? Hiks...! Aku pilih siapa? Pilih orangtua atau Alifah?


Walau aku tahu, apa yang Ayah Ibuku katakan adalah benar. Tapi aku sudah berjalan sejauh ini untuk mendapatkan Alifah. Hiks...


Selain tak mungkin kulepas Lifah setelah kuraih cintanya, aku juga tak berani memikirkan apa jadinya aku tanpa Alifah.


Gegana! Gelisah, galau, merana.


Oh Tuhan tunjukkan semua


Pada diriku teman yang setia


Menemaniku apa adanya


Tanpa melihat aku ada apanya


^^^Dimana teman setia^^^


^^^Seperti dulu, saat aku susah^^^


^^^Menemaniku dengan ketulusan^^^


^^^Tanpa melihat arti ketenaran^^^


^^^Dan gemerlap bintang^^^


Hhh...


Ayah, Ibu... Maafkan anakmu ini!


Aku kadung tenggelam dalam lautan asmara dalam mencinta Siti Alifah. MUSUH BEBUYUTANKU yang kini adalah JANDAKU.


Walau aku tahu, pilihanku ini adalah pilihan yang berbahaya. Tapi sebagai lelaki yang baik, dan niat bertanggung jawab pada pilihannya. Aku... Memilih setia pada cinta Alifah.


Ayah, Ibu... Tolong doakan selalu langkah yang kuambil ini jadi kebaikan untukku hidup dimasa depan! Please...

__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2