MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (78) Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Ditengah kegalauanku gagal dalam percintaan, ternyata ada secercah harapan lain yang membawa kebahagiaan.


Tiba-tiba Alifah datang di hari minggu yang cerah pukul sebelas menjelang siang. Setelah hampir sebulan tak bersua, terakhir di rumah Cak dan Ning. Dan gagal bertemu ketika aku menjemput kedua orangtua angkatku dari bandara Depati Amir sepulang ibadah umroh.


Alifah saat itu ada dinas keluar sehingga batal turut serta menjemput Cak Subekti serta Ning Imah dari Tanah Suci.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Aku terkesima. Jandaku ternyata kini benar-benar mantap menutup aurat. Kemarin-kemarin dia memang sempat berceloteh, tentang keinginannya memakai kerudung yang tertutup setelah beberapa kali terlihat berkerudung selendang saja.



Aura kecantikannya memancar luar biasa. Membuatku lupa caranya berkedip dan terus-terusan memelototi wajah manisnya.


"Ish! Itu mata kepingin dicolok rupanya! Gue bilangin si Eliz ya, tu mata jelalatan sembarangan!" ujar Alifah ngedumel dengan dua jari seperti hendak mencocol.


"Hehehe...! Sori, Belut! Terpesona, aku terpesona... Menatap menatap wajahmu yang manis!"


"Hilih! Gombal-gambul! Gue laporin Nona Lilis lo!!!"


Aku tersenyum kecut.


Hehehe... Untung si Belut belom tau kalo gue udahan sama si Lilis! Bisa jadi bahan ledekan dia terus nih kalo sampe ketauan! Hiks! Buhaya bininya Pahaya !!!


"Yah, Bu! Ada kabar gembira!" kata Alifah pada kedua orangtuaku.


"Wah, kabar apa nih, Lif?" Ibuku begitu sumringah. Kedua perempuan yang selalu kukagumi itu saling rangkul.


"Bu! Kita bertiga bisa pergi umroh bulan depan! Yeaaay!!!"


Aku termangu. Berdiri mematung dengan mata berpandangan ke Ayah, lalu Ibu dan Alifah.


"Maksud Lifah apa?"


Tentu saja Ibuku terkejut dan langsung menanyakan perkataannya barusan.


"Alifah bisa umroh bareng Ayah Ibu bulan depan! Hehehe..."


Aku kaget lah.


Kaget dong, kaget lah? Masa' engga'? Nyokap Bokap gue mau diberangkatin umroh sama si Belut, otomatis harga diri gue tercabik-cabik juga lah!


"Hah??? Apa maksud lo, Lip?"


"Hehehe... Aku mau daftarin Ayah juga Ibu untuk ibadah umroh bareng. Makanya Lifah kesini sekarang, mau minta fotokopi KTP, Kartu Keluarga Ayah Ibu, Akta Kelahiran, buku nikah sama past photo buat ngurus surat-surat pasport-nya di travel agen."


"Eh???"


Ayah melongo. Ibu menutup mulutnya yang menganga. Aku, tentu saja terkejut dua kali lipat dari mereka.


Bisa-bisanya si Belut mikirin Ayah Ibu gue! Dan biaya umroh itu bukan sejuta-dua jutaan. Bisa puluhan juta. Ck!


"Bentar, bentar! Ga mudeng ini gue, Lut!"


Aku mengajak semua duduk di sofa ruang tamu setelah berbingung ria di depan pintu karena ucapan Alifah.

__ADS_1


Wajah Alifah bersemu merah.


Ibuku menggenggam kedua tangannya yang mungil.


"Arif ga diajak umroh, Nak?" tanya Ibu dengan sangat lembut.


"Lifah udah tanya Arif, tapi katanya dia fokus kepingin pakai uang tabungannya sendiri yang dia yakini akan terkumpul tahun depan, Bu!"


"Terus... Uang kamu itu, dari mana?" desak Ayah, cemas.


"Sebenarnya emang uang Alifah hasil jual rumah Papa terpakai sedikit. Ga papa koq, Yah! Lagipula, Alifah ada kabar yang lebih bikin kalian kaget pastinya! Hehehe..."


"Ya Allah!" gumam Ibu dan Ayah berbarengan.


"Apa?" tanyaku semakin penasaran.


"Aku..., akan ambil kontrak kerja di Abu Dhabi selama dua tahun setelah ibadah umroh. Ini pun dapat satu kursi gratis dari pihak rumah sakit Abu Dhabi sebagai hadiah. Makanya Alifah ajak Ayah sama Ibu. Mau ya? Ya, ya?"


"Kontrak kerja di Abu Dhabbi?"


Sontak Aku, Ayah, Ibu terperanjat dan memekik berbarengan.


"Kapan?"


"Pulang umroh bulan depan. Hehehe..."


"Kamu ngeluarin uang berapa, Lip?" tanyaku kepo dan gemas campur cemas.


"Ga banyak koq, cuma ambil tabungan sedikit, Tot!"


"Empat puluh juta!"


"Hah? Empat puluh juta?"


"Itu murah, Gatot! Mumpung dapat fee dari tempatku kerja saat ini. Boleh ya?"


Aku menatap bola matanya yang berwarna coklat pekat.


"Aku punya tiga puluh juta! Kamu sisanya!" kataku membuat Ayah Ibu menoleh.


"Gatot? Itu tabunganmu menikah nanti!" seru Ibu mengingatkanku.


Tabungan menikah. Hiks...


"Ga apa, Bu! Untuk ibadah Ayah Ibu, Allah pasti akan mudahkan rezeki Gatot dengan menggantinya berkali-kali lipat."


"Aamiin... Tapi,"


"Pokoknya, Ayah Ibu tinggal siap-siap. Jasmani dan rohani. Juga mental sama kesehatan yang paling penting!"


"Betul!" timpal Alifah.


"Tapi nanti kalo Eliza minta kamu segera lamar dia gimana?" sela Ibu.


"Bu, khan Eliza juga masih tunggu waktu setahun. Masih ada waktu buat Gatot nabung lagi. Apalagi sekarang Gatot lagi ada project bisnis jual beli tanah. InshaaAllah ada rezekinya, pasti. Ini kesempatan Ayah Ibu berangkat ke Tanah Suci. E tapi... Lo beneran ambil kerja kontrak ke Abu Dhabi, Lip?"


Seketika otakku kembali seperti tersengat aliran listrik.

__ADS_1


"Hehehe..."


Kutarik tangannya keluar rumah.


"Abu Dhabi itu jauh, Markonah! Ga bisa lu seenak udel bolak-balik kayak orang naek getek di kali Ciliwung! Pikir masak-masak, Lipah!" semprotku penuh emosi.


Dasar ndableg! Yang disemprot hanya mesem. Wajahnya Alifah membuat Gatot sebal.


Tuk.


Dijitaknya dahi Alifah pelan. Bukan sebagai kekerasan yang melambangkan amarah, melainkan bukti rasa sayangku yang sudah layaknya seperti saudara.


"Lo serius, Lif?" tanyaku sedikit merapat ke telinganya.


Dia mengangguk. Dengan santai jemarinya merapikan jilbab pashmina yang dikenakannya.


"Lip?"


"Iya, Tot! Ini kesempatan gue berkarier di bidang kebidanan. Sesuai sama pendidikan juga gelar. Keren khan?"


"Tapi..., Abu Dhabi itu jauh, dodol!"


"Ya khan cuma dua tahun, Tot!"


"Dua tahun itu lama, Lipah! Haish!"


"Hehehe..."


"Malah nyengir! Bukan mikir!"


"Gue mau cari pengalaman, Tot! Mumpung ada tawaran dan kesempatan. Seru khan kerja di rumah sakit luar negeri. Gue bisa cari duit yang banyak, ngumpulin biar bisa buka klinik Kebidanan dengan nama gue sendiri. Aamiin...! Doain gue napa, ish! Lo gimana sih? Katanya sodara, katanya sayang tulus!"


"Bukan begitu, gue ini cemas tau ga lo?! Kenapa sih pillih kontrak kerja jauh banget. Khan di sini juga banyak!"


"Kata siapa banyak? Kerjaan emang banyak, tapi yang gaji ada ga?"


Spontanitas biji mataku mendelik. Hehehe, dasar si Buntelan Kentut! Kalo ngemeng pasti bener. Hiks.


"Emang kerjaan lo di Puskesmas ga berjalan dengan baik? Apa lo dilecehin sama si Ubaid? Bilang sama gue, Lip!"


"Apaan sih lo, Tot! Ga jelas banget! Ga lah! Mas Ubaid malah pindah kerja dia. Ke Jakarta lagi. Ga tau juga, ga da kabar dan gue juga ga mau kepo tanya-tanya dia! Terakhir dia telpon aku, katanya posisinya di ganti Mantri Budiman pindahan dari Semarang. Udah, gitu aja. Aku tanya, emang Mas sekarang posisi dimana. Dia jawab di Jakarta. Udah. Aku cuma kasih support sama semangat aja. Selesai. Ga ada lagi tuh chattan walau sempat dia japri beberapa kali jam sembilan malam, nanyain apa aku udah tidur. Ga kubalas, males. Capek ngantuk, seharian melayani masyarakat di Puskesmas."


"Dih?!? Gaya looo!!!"


Aku meledeknya, tapi dalam hati senang dan bangga. JANDAKU ini ternyata bisa menjaga dirinya dengan baik tanpa harus kuberi warning sana-sini.


Aku menghela nafas.


Lagi-lagi membayangkan dua tahun akan sangat rindu pada wajah cantiknya.


"Lip!"


"Cukup doain gue selalu, Tot! Dimanapun kita berada, doa dari orang-orang tersayang adalah keberkahan yang indah. InshaaAllah, gue akan pulang kembali dengan jiwa raga dan iman yang lebih baik lagi. Dan..., siapa tau gue dapat jodoh khan? Hahaha... aje gile ga tuh, berjodoh sama sultoni Arab Saudi. Hahaha... Aamiin. Siapa tau bisa merubah nasib sekaligus memperbaiki keturunan! Hihihi..."


Yassalam... Hiks.


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2