
Aku pulang tanpa dendam
kuterima kekalahanku
Aku pulang tanpa dendam
kusalutkan kemenanganmu, woo
^^^Kau ajarkan aku bahagia^^^
^^^kau ajarkan aku derita^^^
^^^Kau tunjukkan Aku bahagia^^^
^^^Kau tunjukkan Aku derita^^^
^^^Kau berikan aku bahagia^^^
^^^Kau berikan aku derita^^^
Aku pulang (ha-ha) tanpa dendam (ha-ha)
Kuterima (ha-ha) kekalahanku
Aku berhenti berharap dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat tak ada cinta kudapat
............
Pulang ke kota kecil yang jadi tempat aku menapaki kedewasaan.
Kota yang selalu kuanggap gersang, karena suhu panasnya yang bahkan melebihi panasnya ibukota.
Padahal panas ibukota-lah yang menghanguskan jiwa raga dan hatiku.
Aku resign kerja, dari perusahaan yang dipimpin Boss Gila. Untuk memulihkan kondisi fisik juga psikisku. Dan atas permintaan Ayah serta Ibu yang sangat mengkhawatirkan keadaanku kini.
"Kenapa bikin surat pengunduran diri segala, Tot? Lo mau pulkam seminggu-dua minggu pasti gue acc! Tapi resign kerja? Apa lo gak sebaiknya pikir-pikir dulu?" kata Boss menyayangkan keputusanku.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum tipis. Tak bisa menjawab. Basa-basi yang manis sekali. Dan aku kini juga sudah hilang kepercayaan diri.
Sudah dua minggu aku bolos kerja karena kejadian penganiayaan yang dilakukan Bryan dan kawan-kawan.
Sebenarnya ingin kulanjut lapor pihak kepolisian. Tapi mengingat musuhku adalah orang berharta banyak, sedangkan di kasusku ini justru akulah yang salah, akhirnya aku berfikir ulang untuk melaporkan si Bryan.
Bukan si Bryan yang masuk sel, malah gue yang jadi tahanan prodeo. Hiks... Emoh lah!
Boss dan rekan-rekan kerjaku yang sudah kukenal selama hampir empat tahun itu hanya bisa mengiringi langkah pincangku yang masih dibantu kruk dengan tatapan sedih.
Mau gimana lagi... Pulang ke kampung dan tinggal sama orang tua adalah jalan yang terbaik. Daripada gue di ibukota cuma nyusahin orang dan diri sendiri karena keadaan tubuh serta kaki yang belum pulih.
Rumah yang empat tahun kurang kutinggali seakan menyambut kedatanganku yang bak seorang pahlawan.
Banyak orang yang menunggu kedatanganku rupanya. Bahkan ada istri pak Kades dan juga ketua Rukun Keluarga serta beberapa sesepuh desa yang juga berdiri menyambut kepulangan Ayah, Ibu serta Aku.
Rupanya Ayahku begitu mereka hormati di kampung ini. Aku memang sering pulang empat bulan sekali. Tetapi hanya setor muka sehari lalu kembali pulang ke Ibukota. Jadi tak terlalu mengetahui sepak terjang kedua orang tuaku.
Rumah kami ramai tamu.
Banyak tetangga yang datang membawa makanan ringan.
Mereka menyalami kami dan mengucapkan kata turut prihatin serta memberiku semangat hingga keadaan tubuhku pulih kembali seperti sedia kala.
"Gatot!"
"Harlan!"
Aku senang, ada teman kuliahku juga yang datang mengunjungiku. Harlan namanya. Dia datang bersama istri serta buah hatinya yang masih balita.
Seketika hatiku teringat Alifah.
Ish, Belut! Kenapa gue harus terus mengenang elo! Sedang lo sekarang udah jadi milik orang lain! Harusnya gue legowo dan ga lagi mikirin elo! Suami lo pasti begitu cinta sampe ga mau kehilangan lo! Dan gue yakin, dia juga ga bakalan nyakitin lo! Walaupun elo harus jadi istri mudanya dia!
"Dahlah, bro! Kampung kita ini butuh anak muda yang memiliki sumber daya manusia hebat macam kau ni! Kita bangun kampung ini, lewat inovasi-inovasi terbaik kita!" tutur Harlan membuatku tertawa.
"Hilih, anak muda zaman kapan? Hahaha... Kau pun sudah jadi bapak sekarang!" timpalku membuat istri si Harlan ikutan tertawa juga.
"Betul itu, Bang!" tambah Desi (nama istrinya Harlan) sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
"Tua itu hanyalah di umur. Tapi jiwa dan gaya..., boleh diadu sama yang lebih muda! Hahaha..."
"Semprul! Hahaha..."
Aku lupa. Aku punya teman-teman baik selama tinggal di PP dan lanjut kuliah di kota ini. Hiks! Maafkan aku, Tuhan!
"Kakimu harus diurut tukang urut spesialis patah tulang, Tot! Ada pamanku yang tinggal di Bukit Intan! Dia itu ahlinya! Mau kuantar kesana, Tot?"
"Bawa Gatot secepatnya, Harlan! Ibu Ayah dukung. Kita bisa pinjam mobil perangkat desa untuk ke Bukit Intan!"
Ibu yang melintas dan mendengar obrolanku dengan Harlan langsung antusias.
"Tapi pengobatannya butuh waktu cukup lama sampai bisa normal kembali, Bu! Sekitar sebulan harus intens diterapi!" kata Harlan lagi.
"Tidak apa-apa, yang penting Gatot sembuh dan normal lagi jalannya!" kata Ibu.
"Kalau Harlan sih terserah Gatot. Apalagi kalau Gatot mau stay sebulan sementara di rumah paman. Itu lebih mempermudah pengobatannya!"
"Ibu setuju!"
"Apa,... Ga memberatkan pamanmu nanti, Lan?"
"Memberatkan, kalau kau minta gendong setiap hari. Menghabiskan nasi sebakul sehari, juga minta jajan ini itu dan nangis kejer kalau tak dituruti!"
"Hahaha... Suwe kau, Lan! Aku mengalahkan Khumaira putrimu dong ya? Hahaha..."
"Hahaha..."
Thanks, Tuhanku Allah Azza Wazzalla! Aku senang, dikelilingi orang-orang baik dan doa terbaik dari kedua orangtuaku.
Moga kehidupanku kini kembali damai, tenang, tenteram, walaupun jauh dari kisah percintaan. Hiks...
Bila aku... Harus mencintai
Dan berbagi hati, itu hanya denganmu
Namun bila... Kuharus tanpamu
Akan tetap kuarungi, hidup tanpa bercinta
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...