My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Orang Baru


__ADS_3

Mereka menikmati makan malam bersama di Penthouse baru milik Dharra, hadiah dari Aji sang suami. Oma bahkan tak melihat adanya transaksi besar pada rekeningnya maupun rekening perusahaan.


Itu menandakan jika sang cucu membelinya dengan uang pribadi.


Kehadiran Dharra di keluarganya sangatlah berarti. Bahkan saat oma mendengarkan reaksi Dharra yang sangat diluar dugaannya, oma ketakutan dan ikut menangis di balik pintu kamar lantai bawah. Oma bahkan hendak merangsek keluar dan membatalkan rencana mereka. Namun niat oma yang gereget dihalangi oleh si kembar Mario dan Marvino. Meski mereka juga tak menyangka akan reaksi Dharra. Bahkan Aji pun tak menduga jika Dharra akan bereaksi seperti itu.


Ya, Marvin ikut hadir sebagai tameng Mario jika sang bos macam macam dengannya. Namun ternyata Mario salah. Marvino lebih takut pada mantan atasannya. Bahkan dia tak memunculkan dirinya kala meletupkan confetti di depan kamar Dharra.


Aji terus menempel pada istrinya. Selain merasa bersalah padanya, tentu saja mencari perlindungan dari godaan Marvin yang terkutuk.


Aji terus menjejalkan potongan buah pada Dharra, sesekali dia mengambilnya kembali dengan mulutnya.


Untunglah Oma menjadi penggembala yang melarang para domba untuk mendekati pasangan merpati dimabuk cinta yang bisa bikin mata dan otak terkontaminasi.


Mereka dimanjakan dengan keberadaan Jaccuzi di sisi lain penthouse ini.


"Kapan kamu mulai aktif lagi ke kantor?" tanya Aji yang mengambil kembali buah dari mulut Dharra dengan mulutnya.


"ck. Baby El aja baru umur sebulan" Dharra menyuap buah dengan tangannya sendiri. Namun lagi lagi Aji mengambilnya dengan mulutnya.


"Aji ih. Ambil sendiri kenapa?" Dharra kesal dengan tingkah suaminya.


"Ga enak. Enakan dari mulut kamu" Aji nyengenges sambil mengecup bibir Dharra.


"Kamu pindah ke kantor aja sm anak anak. Kan awalnya udah rencana gitu"


"Itu kantor, sayang. Nanti gimana tanggapan dewan direksi. Gak enak juga kan? Lagian udah ada si cabelita"


"Maksud kamu dia gantiin posisi kamu sebagai Direktur Operasional gitu?"


"Ya bukan gitu juga. Enak aja main kasih jabatan seenaknya. Sayang, gini ya. Setelah aku jalani aktifitas baruku sebagai wanita seutuhnya, lebih nyaman mengurus anak dirumah sendiri. Kalo dipindahin ke kantor, emang kamu mau kalo ada orang yang liat aku nyusuin?"


"Mana boleh" Aji langsung menangkup bongkahan kembar Dharra secara protektif.


"Ehm, bos. Maaf mengganggu. Saya, eh kami ijin pulang ya. Ingat besok ada jadwal meeting pagi dengan dewan direksi. Ibu juga diharap hadir" Mario terlihat salah tingkah dengan kelakuan absurd bosnya pada sang istri. Apalagi tangannya yang masih betah bertengger pada bukit khayalan Mario.

__ADS_1


Dharra segera menepis tangan nakal suaminya kala Marvin terlihat mengulum senyum dibelakang.


"Kenapa harus ada istriku?" Aji merangkul erat pinggang Dharra. Dagu nya bertumpu pada pundak istrinya.


"Karena harus ada persetujuan langsung dari pemegang sah akun perusahaan.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Dharra mendahului pertanyaan sang suami.


"Ada kerabat keluarga ipar oma Sekar yang ingin masuk ke perusahaan. Dan beberapa dewan direksi mendukungnya. Namun oma Sekar tentu saja memberikan kesempatan sesuai kapasitas tentunya. Dan anda, Ibu Dharra selaku salah satu pemegang jabatan direktur dan ditambah sebagai kunci pemegang sah akun perusahaan tentu saja harus memberikan penilaian karakter dan kapasitasnya" Mario menerangkan panjang lebar.


"Apa kamu tidak mengetahuinya, sayang?" tanya Dharra kemudian pada sang suami yang juga melipat dahinya.


Lalu kemudian menggelengkan kepala tanda tidak mengetahuinya.


"Aaww... fuuuuhhhh.... sayang... pedeees.... nih aku balas... muah..muah.." Aji mengaduh kesakitan karena cubitan maut Dharra pada paha nya. Namun sejurus kemudian Aji membalasnya dengan menciumi Dharra. Membuat Dharra kewalahan untuk menghindarinya.


Benar kata oma. Domba ku sayang domba ku malang. Nasib jomblo harus nonton keuwuan sepasang merpati tak tahu tempat.


Belum lagi harus menyaksikan aksi kejar kejaran mereka di penthouse yang luas ini. Mario yang jomlo dan setia, entah setia menjomlo hanya menghela nafas. Tebaknya pasangan itu pasti berakhir di kamar.


Benar saja, aksi kejar kejaran itu mengarah pada kamar utama.


Dahlah


"Kesian deh lo, jomlo" bisik Marvin pada kembaran mengenaskannya.


Sebenarnya oma ingin menyampaikannya langsung pada dua sejoli itu. Namun oma tahu tak mungkin berbicara pada pasangan yang tengah kasmaran. Jadi beliau menyampaikannya pada Mario.


"Hhhh.... nasiib nasib.. selalu jadi tumbal" gerutu Mario yang langsung melangkah keluar dari penthouse mewah itu.


Mario tidak bisa tidur ditempat selain tempat tinggalnya. Kecuali dalam keadaan darurat seperti tempo hari saat insiden mobil terbakar.


Mobil mewah yang dibanderol dengan harga 6 M itu untung saja masih bisa diselamatkan. Meskipun ia harus menggantinya dengan membayarkan biaya operasional selama menggunakan kendaraan umum sebagai bentuk kompensasi ganti ruginya. Masih dianggap beruntung jika dibandingkan sang bos memecatnya.


Keesokan hari, Dharra bergerak cepat menyiapkan segala sesuatunya untuk anak anak, suami, dan oma. Dibantu mbok Iyem yang kagum akan tanggung jawab nyonya mudanya mengurusi keluarga yang sudah lama dia ikuti. Dia pikir seorang nyonya muda keluarga ini pastilah seorang yang manja dan tukang perintah, tentu saja boros.

__ADS_1


Seperti para gadis yang selalu oma bawa untuk dikenalkan pada cucunya untuk dijodohkan.


Bukannya oma sembarang mencari pasangan untuk cucunya. Hanya saja oma tak mengenal gadis seperti Dharra yang mana bukan dari kalangan turunan pebisnis.


Jika saja oma mengenal gadis sederhana macam Dharra, sudah pasti gadis gadis manja itu tidak masuk kriteria pasangan untuk cucunya.


"Dharra, sayang. Apa Mario sudah menyampaikan agenda hari ini?" oma memulai sarapannya saat Dharra duduk dan makan setelah selesai menyusui baby El dan menyiapkan bekal untuk Bintang di sekolah.


"Sudah, oma. Apa oma juga akan hadir?"


"Tentu saja. Oma hanya mengawasi jalannya meeting saja. Sekalian oma ingin mengetahui pendapat mu secara langsung"


"Sebenarnya siapa, oma?"


"Nanti juga kamu tahu"


"Heh.. biasanya mereka akan mencoba menggoyahkan pengganti oma, bukan?" tukas Aji yang merasa tak heran dengan perebutan kekuasaan.


"Itulah sebabnya oma mewakilkan semuanya pada Dharra. Agar tak ada yang di cap sebagai penguasa aset keluarga. Sedangkan Dharra adalah orang yang netral. Dia juga mempunyai kapasitas sebagai seorang pemimpin"


"Apa aku hanya harus memberikan penilaian, oma?"


"Mungkin kamu juga harus memutuskan posisi apa yang cocok untuknya. Tentu saja sesuai kualifikasinya"


"Apa tidak apa apa?"


"Selama oma menyetujuinya, tidak ada masalah"


"Baiklah. Jika begitu kita terapkan profesionalisme kerja sesuai kapasitasnya"


Ruang rapat sudah terisi penuh oleh anggota dewan direksi.


Oma seperti biasa. Duduk di kursi kebesarannya di sudut ruangan rapat. Mengawasi jalannya rapat internal.


Saat Pak Indra yang adalah seorang Direktur Keuangan selesai dengan kalimat pembukanya, dia lantas mempersilahkan orang yang ditunggu.

__ADS_1


"Silahkan masuk"


"Kamu...." Dharra dan Aji sontak berdiri. Namun tidak dengan oma yang hanya menautkan kesepuluh jarinya.


__ADS_2