My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Tidak Gila Harta


__ADS_3

30 menit Aji tak kunjung keluar dari kamar mandi. Waktu yang lama bagi seorang Dharra dalam penantiannya.


Penantian untuk disentuh lebih jauh, penantian untuk menyambut dengan pasrah hukuman enaknya.


"Kemana tu orang? apa tenggelam di we se ya?"


Dharra lantas bangkit dan menempelkan daun telinganya di pintu kamar mandi berkaca buram.


Aji menyaksikan bayangannya di dalam sambil berendam air yang dia tambahkan air panas kedalamnya sehingga menjadi hangat.


Seringainya terbit kala menyaksikan kegelisahan Dharra yang tampak bulak balik.


"Come to me, baby.. come to your sugar.." lirihnya. Akhirnya Dharra mencarinya juga.


tok


tok


"ehm.. sayang... sayang kamu lagi apa? buka pintunya dong.."


"yess.. akhirnya kamu memohon juga" batinya berkata sambil tersenyum menang.


ceklek


Aji membuka kunci namun tak membukakan pintunya. Dia malah berbalik dan masuk lagi ke bathtube. Punggung kekar dan bokong itu membuat Dharra menelan saliva, berharap melihat tongkat ajaibnya yang bisa bikin bengkak 9 bulan.


"emh.. itu.. aku pengen pipis.." Dharra tergagap, ingin memintanya namun malu. Atau gengsi?


Aji hanya mendiamkannya. Dia merebahkan kepalanya di pinggir bathtube.


Dharra terus memperhatikannya dari wc duduk.


"Ada apa dengannya? Apa dia marah gara gara aku pura pura nolak?"


Dharra menekan tombol flush lalu salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa.


"Aku.. aku selelsai.. aku.. tidur duluan ya. Jangan terlalu lama nanti masuk angin" teriaknya saat sudah keluar dari kamar mandi.


hhh

__ADS_1


Aji menghela nafas. Kapan istri mungilnya ini mempunyai inisiatif untuk meminta terlebih dahulu? Aji pasrah lalu beranjak menuju shower. Menyalakannya untuk menuntaskan mandinya.


grepp


Sebuah tangan mungil memegang tongkatnya dari belakang, dan sebelahnya lagi memeluk pinggangnya.


"Sayang.. kamu marah?"


Dharra merapatkan tubuhnya yang sudah polos pada tubuh polos Aji. Bongkahan empuk itu menekan punggung Aji. Membuat api yang sudah dia redam kembali menyala.


"Menurutmu?" jawabnya serak. Aji tak bisa menahannya lagi. Tapi tinggal sedikit lagi dia berhasil membuat istrinya memohon.


Dharra menggerakkan tangan yang memegang tongkat ajaib. Perlahan memaju mundurkannya. Membuat Aji menengadahkan kepalanya, mulai hilang kewarasannya. Tak tahan lagi dengan kepura puraan itu Aji lantas berbalik, namun Dharra malah berlari kecil sambil terkikik keluar dari kamar mandi.


"Dasar semut kecil sialan. Kamu bener bener minta dihajar ya?" Aji lantas menyusulnya dengan pedang yang sudah siap berperang. Ingin rasanya menghunuskannya saat itu juga.


Dharra memekik dibalik selimut karena Aji merangsek masuk ke balik selimut dan memberinya pelajaran nikmat.


Disela sela pelajarannya, Dharra yang posisinya dibawah menatap dan membelai pipi yang sedikit ditumbuhi bulu. Aji berhenti sejenak, tanpa mencabut pedangnya, mencoba menerka arti dari tatapan itu. Mengecup bibirnya sekilas, dan tiba tiba mendengar Dharra mengucap kata "I love you, husband" kata kata yang diungkapkan dari hati.


Aji terharu, memeluknya erat, lalu membalas ucapannya "I love you more, my wife" Aji tak lagi menghukumnya, namun memberinya cinta yang tak terbatas.


Pagi menyongsong. Mereka tengah bersiap untuk kembali setelah sarapan sehat lahir dan batin. Kota ini bukanlah kota yang enak untuk di susuri. Tak ada kenangan berarti pula bagi Dharra untuk berlama lama di kota kelahirannya. Justru dia selalu terbayang kehidupan pedih yang dia jalani. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke kota M. Kota tempat bertemunya cinta yang pernah padam. Tempat dia memulai hidup barunya, tempat dia menjadi dirinya sendiri. Selain itu dia merasa bersalah jika meninggalkan Bintang hanya untuk jalan jalan.


Mereka merencanakan mengadakan resepsi pernikahan di kota itu, dimana Aji telah menyiapkan segala sesuatunya.


tring


tring


Suara dering ponsel Dharra dari nomor tak dikenal.


"Halo... iya, saya sendiri... saya serius pak, saya mau kembali ke kota M. Ada keluarga yang harus saya urus.... baiklah saya tunggu di restoran"


hhh


Dharra menghela nafas. Dia pikir urusannya dengan kantor sudah selesai.


"Kenapa sayang?" Aji mendekap pinggang Dharra sehingga menempel dengan tubuhnya. Dia tahu ada yang tak beres dengan berita dari si penelpon. Tangannya menyelipkan anak rambut yang menjuntai kebelakang telinga Dharra, lalu mengecup pipinya.

__ADS_1


"Manajer HRD minta ketemu di restoran. Ada yang ingin dia sampaikan. Hhhh... semoga bukan penolakan pengunduran diri" Dharra menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Tempat ternyaman baginya.


"Kita cari tahu apa maunya dia. Yang pasti aku akan ngedukung keputusan kamu, apapun itu selama tidak berlama lama jauh dariku"


cup


Aji mengecup bibirnya sekilas.


"Tapi aku gak mau pisah sama kamu. Kamu temenin aku disini kalo aku harus beresin kerjaanku disini. Biarin mokondo juga. Biar aku yang cari uang buat kita. Yang penting kamu gak jauh dariku dan anak kita"


"Emmm... seorang Dharra Pricilia mulai tergila gila sama seorang cassanova" Aji menyeringai, mengejek Dharra yang nota bene tak tersentuh pesona seorang cassanova.


"Biarin. Yang penting gak murahan. Dan kamu yang dapet enaknya karena kamu merasakan pertamanya aku. Dan saat kamu sudah terikat denganku, jangan harap bisa kabur" ancamnya lalu mengecup dalam bibirnya.


Pukul 10 pagi, waktu yang nanggung untuk makan siang. Namun tak menyurutkan keinginan sang janin yang sudah menagih makan. Karena semalaman nutrisinya dikuras habis habisan oleh sang ayah.


Manajer HRD sudah datang dari 10 menit yang lalu. Bertepatan dengan hidangan yang Dharra pesan datang.


"Maaf, bapak harus menunggu saya. Maklum nafsu makan bumil gak bisa dikontrol" Dharra meminta maaf karena telah membuat sang manager menonton aksinya yang out of the box.


5 macam hidangan berpindah semua ke perut Dharra yang mulai sedikit menonjol.


Sang manajer yang bernama Seno hanya tersenyum mamaklumi.


"Apa sudah bisa diskusi?" tanya sang manajer kemudian setelah melihat drama romantis menyakitkan didepan matanya, dimana Aji me-lap mulut Dharra dengan lembut sembari menyodorkan air minum dan me-lapnya lagi.


"Baiklah. Apa yang akan kita diskusikan?" tanya Dharra menyiapkan mental untuk berita terburuk yang akan dia dengar.


"Begini bu Dharra, mengenai surat pengunduran diri anda, kami terpaksa menunda menyetujui permintaan anda"


"Tapi-"


"Biar saya selesaikan terlebih dahulu"


Aji menggenggam tangan Dharra, memintanya agar bersabar.


"Kami minta waktu sampai ada pengganti anda. Ya setidaknya sampai branch manager yang sedang pelantikan selesai dilantik. Setelah itu, anda bisa berhenti. Mohon maklum bu, tak semudah itu mendapatkan orang dengan kapasitas yang sama dengan ibu. Minimal mendekati. Bahkan saya sendiri tidak bisa menggantikan posisi ibu. Kami mohon dengan sangat. Saya mengerti dengan kondisi ibu, hanya saja perusahaan meminta bantuannya sebulan ini. Hanya sebulan. Tentu saja perusahaan akan memberikan kompensasi yang sangat pantas untuk ibu" bujuk Seno.


"Anda tahu saya tidak gila harta"

__ADS_1


__ADS_2