
"Hah? gak salah? bukannya kamu seneng ya, dipepetin terus sama cewek?"
"Ya enggak sama emak emak juga kali. Aku juga punya standar dalam memilih pasangan. Meskipun cuma satu malam. Kalo jadi pebinor mah bukan gaya ku. Lagian aku ga minat buat berhubungan lama sama satu cewek. Lah kalo sama dia? bisa selamanya berurusan. Mana masih ada suaminya lagi. Kalopun dah cerai juga ogah aku sama cewek modelan begitu. Mendingan sama kamu"
"Minta dihajar tu mulut"
"Tuh kan. Sifat kamu yang kek gini makanya aku milih buat bantuin aku. Kamu tuh gak baperan orangnya. Jadi gimana? deal kan?"
"Dal dil dal dil kepalamu. Deal apanya coba? kertas masih kosong begitu. Ntar malah kamu isi yang nguntungin kamu aja. Siniin"
Akhirnya mereka mendiskusikan isi dari perjanjian. Tentu saja dibumbui dengan adu argumen. Dharra yang tidak mudah baper membuat Aji merasa nyaman kala berbicara dan bercanda dengannya. Itulah yang dulu membuatnya jatuh hati kala dia digilai semua siswi seantero sekolah.
Jika saja dia tidak menenggak minuman haram itu, mungkin saat ini dia sudah menjadi miliknya. Dan dia tidak akan menjadi laki laki brengsek yang suka bergonta ganti pasangan. Meskipun dia bermain dengan aman, tetap saja ada ke hawatiran ada yang berharap lebih padanya.
Kalau boleh jujur, Aji masih berharap kalau Dharra mau menerima dia sebagai pendamping hidupnya. Selamanya. Jika saja Dharra mau menerima cowok brengsek sepertinya. Tapi, apakah mungkin?
"Bukan gitu ih, gak mau kalo gitu. Siniin.. siniin gak?"
__ADS_1
bruk
Aji setengah terlentang di sofa dengan tangan yang memegang kertas itu di atas kepalanya, menghindarkannya dari jangkauan Dharra. Namun Dharra yang sigap bisa meraihnya, meski harus menindih tubuh Aji sekalipun.
deg
Wajah Aji meremang. Pasalnya yang menindih wajahnya adalah dada Dharra yang... besar? hangat? kenyal?
Sedangkan Dharra dengan cueknya meraih kertas yang Aji pegang.
"My God.. apa itu tadi? bisakah diulangi lagi? bukankah dada nya rata? kenapa tiba tiba ada dan... besar?" gumamnya dalam hati.
Tak hanya itu, saat Dharra tengah asik membacakan dengan lantang. Tentu saja hanya mereka yang dengar. Perlahan tangan laknat Aji menyentuh dan memijat kedua bukit itu.
plakk
Tamparan telak mendarat di pipinya.
__ADS_1
Tak ada ekspresi kesakitan di wajah Aji. hanya Melongo sambil memperhatikan kedua tangannya yang barusan ia gunakan untuk mengusir rasa penasarannya.
"Kamu gila. Baru aja dibahas gak boleh kontak fisik. Udah ga jadi kalo gini caranya. Seenaknya kamu lecehin aku. Sabodo sama kamu yang digangguin setan berdaster" geram Dharra yang langsung bangkit sambil berderai air mata.
grepp
"Maaf. Aku.. aku.. khilaf. Tolong jangan batalin ya. Tapi.. kalo boleh tanya.."
"Apa lagi? aku gak mau dimodusin kamu terus dengan alasan khilaf atau lupa. Kamu pikir aku cewek gampangan hah?"
"Enggak, bukan gitu. Aku tau kamu cewek yang gak gampangan. Tapi kalau boleh tanya..."
glek
"Apa?" bentak Dharra.
"Sejak.. sejak kapan ada disitu?" tanyanya sambil kembali menyentuh bukitnya.
__ADS_1
plakk
Dharra langsung keluar dari rumah Aji membawa sejuta rasa dongkol karena merasa dilecehkan. Tapi ada rasa ingin menertawai nya. Sejak dulu sudah ada. Ekstra malahan. Hanya saja dia sengaja membalutnya dengan torso agar tak terlihat ekstra di usianya yang masih sangat muda saat itu. Sehingga orang orang menganggapnya berdada rata.