
Pagi hari setelah menyiapkan sarapan dan bekal Bintang ke sekolah, Dharra memandikan baby El. Namun pikirannya tetap pada suaminya. Dia lebih banyak diam membuat oma bertanya tanya. Apakah dia mengalami baby blues? karena oma melihat lingkaran hitam di matanya.
Dharra terus mencoba menghubungi keduanya, namun keduanya tetap tak bisa dihubungi. Dia lantas mengecek social medianya, tetap tak ada postingan apapun yang dia inginkan. Lalu mengecek e-mail perusahaan, Dharra sedikit terperanjat. Ada aktifitas pada akun perusahaan. Dharra menemukan ada beberapa kali konfirmasi akun dari beberapa perangkat yang berbeda. Setau Dharra yang bisa mengakses akun perusahaan hanya dirinya, suaminya, dan tentu saja oma.
Dharra kemudian memeriksa kotak keluar dan kotak masuk. Semuanya berisi reschedule meeting yang terkonfirmasi. Dan itu beberapa jam yang lalu dengan beberapa perusahaan.
Jika itu adalah suaminya, kenapa dia tak mengirimkan kabar apapun padanya?
Dharra mencurigai sesuatu. Tapi dia tak berani berspekulasi. Perusahaan perusahaan itu bukanlah perusahaan yang baru menggeluti bisnis. Mereka pasti tak sembarang memberikan kepercayaan ataupun berkhianat dari perjanjian kerjasama.
Untuk memastikan, Dharra menelpon satu per satu perusahaan yang terkonfirmasi mengadakan meeting sesuai konfirmasi e-mail perusahaan.
"Iya betul bu. Pak Rakha yang menghubungi lewat e-mail dan bertemu dengan pimpinan kami"
Kesemua jawaban para sekertaris dari perusahaan perusahaan itu sama.
"Ada apa dengannya? kenapa tak sekali pun menghubungiku? Mario si cabelita juga. Kemana itu orang?"
Waktu berlalu. Tak juga terdengar kabar apapun dari kedua tersangka. Bahkan seorang Justin saja sudah bisa terlacak dengan akurat jika dia kembali ke Jerman menggunakan pesawat pribadi. Entah siapa yang dia rampok untuk bisa menyewa pesawat pribadi.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Dharra benar benar gelisah. Dia pergi ke kamar mandi untuk membuang hajat sekaligus menyikat giginya.
Sekali lagi dia tak bisa tidur. Dia bahkan harus berbohong pada oma tentang kabarnya. Karena oma pasti langsung mengerahkan orang orangnya.
Tapi kenapa dia gak berpikiran seperti itu ya? kenapa dia menyembunyikan hal penting? Dia sendiri yang mewanti wanti oma agar selalu terbuka dan menceritakan hal sekecil apapun.
Dharra akhirnya memutuskan untuk memberitahukan tentang kondisi suaminya yang tidak biasa. Dia segera menyelesaikan hajatnya dan apapun yang harus diselesaikan.
clek
Dharra keluar dari kamar mandi dan meraih jubah tidurnya yang tersampir di sandaran kursi rias.
Saat sedang memakai jubah tidur sembari melangkahkan kaki kearah pintu kamar, sudut matanya menangkap sesuatu.
__ADS_1
Lampu kamar yang temaram membuatnya samar samar melihat sosok yang terbaring dengan posisi telungkup di tempat tidur.
Dharra mendekatinya, sedikit membungkukan tubuhnya agar bisa melihat wajahnya.
Dharra ragu karena pandangannya seolah tertutup kabut. Dia lantas menghidupkan lampu besar. Kemudian kembali mendekat. Namun sebelum mendekat lebih dekat lagi, senyum bahagia karena sang suami telah kembali berubah pudar.
Pakaian kerja yang lusuh itu hampir dipenuhi dengan noda lipstik di bagian punggung sebelah kiri dekat ketiak tepatnya.
Dharra menegakkan tubuhnya. Jika saja suaminya tak tampak kelelahan, sudah dipastikan jika Aji akan dia habisi saat itu juga.
Dharra berusaha menahan rasa sesaknya di tenggorokkan.
Dia membalikan tubuh kekar suaminya yang tengah terlelap itu dengan susah payah. Dia benar benar kelelahan hingga seperti orang mati.
Kembali sesak itu menusuk tenggorokannya.
Noda sialan itu kembali ia temukan di beberapa bagian kemeja depannya.
Berapa orang yang dia layani. Pikirnya dalam hati.
Dharra menyeka tubuhnya sambil berderaian air mata. Dia menangis dalam diam.
Saat lap itu menyeka sang monster yang tiba tiba bangkit, Aji mengigau.
"Sayang, cium lagi..."
Dharra segera menyelesaikannya dengan isakan. Lalu menyelimuti suaminya setelah memakaikannya piyama dengan susah payah.
Dia lantas tidur di sofa. Mencoba untuk masuk kealam bawah sadarnya. Berharap ini adalah mimpi.
Sesenggukan yang ia tahan semakin menjadi, dia tergugu didalam selimut. Dia tahu dia belum bertanya dengan pasti. Semua hanya praduganya saja. Tapi tetap, melihat kenyataan seperti itu, ditambah dengan tidak adanya kabar 2 hari ini, istri mana yang tak menduga ke arah sana.
Akhirnya Dharra terlelap. Tangisnya membawanya pada alam mimpi.
__ADS_1
"Sayang.. sayang... kemarilah... apa kamu mau bergabung? hahaha...." seruan dan tawa menjijikan suaminya mengalihkan perhatiannya. Dharra yang tengah repot mengurus bayi harus melihat sang suami bersenang senang bersama beberapa wanita yang tak ia kenal dengan pakaian super seksi.
Dharra terhenyak. Dia membuka matanya lebar lebar. Menajamkan telinganya. Lalu matanya menangkap jam dinding.
"Anakku.." Dharra melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi.
Waktu yang cukup siang untuk menyiapkan segala sesuatunya bagi anak anaknya. Dia segera memakai jubah tidur dan turun kebawah setelah mencuci muka terlebih dahulu.
"Oma, maaf Dharra terlambat bangun" dilihatnya mereka tengah sarapan dengan Bintang yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia mengecup kepala anak sulungnya itu.
"Maafkan mama sayang. Mama terlambat bangun. Dede El mana? kok gak ada di kamar?"
"Dede lagi mandi sama mbok Iyem" jawab Bintang dengan makanan yang memenuhi mulutnya.
"Suamimu sudah berangkat lagi. Tadi habis nenenin El waktu kamu tidur, dia cepat cepat berangkat. Katanya ada jadwal meeting di luar mendadak pagi ini. Kasihan itu anak. Kalau saja cucu oma bukan hanya dia, sudah pasti pekerjaannya ada yang membantu. Dia tampak kelelahan sekali" ucap oma sendu mengingat air muka cucunya yang tampak sangat kelelahan.
Namun Dharra hanya diam. Dia tak tahu harus berekspresi seperti apa. Mengingat kenyataan semalam... ah jika diingat lagi sudah pasti air matanya akan lolos.
Dharra menyiapkan bekal makanan untuk Bintang. Lalu mengantarkannya hingga mobil dan melambaikan tangan saat mobil itu melaju.
"Dharra sayang... kamu juga tampak lelah. Itulah makanya Rakha tak mau membangunkanmu saat baby El menangis. Dia hanya menyusukannya padamu tanpa membangunkanmu. Apa kita perlu baby sitter?" oma khawatir dengan kondisi Dharra yang terlihat pucat.
"Dharra gak apa apa oma. Hanya butuh waktu untuk menyesuaikan saja. Nanti juga terbiasa kan?" Dharra lantas mengambil sarapan untuk oma dan dirinya. Setahu Dharra, oma duduk di meja makan hanya menemani cicitnya sarapan, namun untuk dirinya lebih memilih menunggunya dan Rakha turun dan duduk bersama.
"Kau memang wanita hebat. Kamu istri idaman para laki laki tahu? beruntung Rakha yang mendapatkanmu. Oma gak tahu apa jadinya jika Rakha menerima salah satu cucu relasi oma"
Dharra hanya tersenyum dalam kunyahannya.
Tapi sebagai orang yang sudah senior dalam menjalani biduk rumah tangga, ditambah dengan betapa pandainya oma dalam membaca mikro ekspresi orang orang di dunia bisnis, memudahkan oma dalam menilai dan menebak apa yang tengah Dharra rasakan saat ini.
Abu abu
Ragu ragu
__ADS_1
Tidak yakin
Tidak percaya