
"Papa papa, Bintang laper" Bintang menarik tangan Aji ke dalam rumah.
"T tapi.." Aji ingin menjawab bahwa tidak ada makanan apapun di rumah yang bisa dimakan.
"Baiklah pak Rakha. Saya pamit ke kantor lagi. Saya hanya mengantar Bintang pulang karena tadi minta saya ikut mengantar"
"Eh?" Aji terdengar kecewa.
"Yaah, jangan dulu pulang ibu peri. Temenin Bintang makan dulu"
"Ah, sebentar. Papa lihat kulkas dulu. Biar papa yang masak" Aji berharap ada beberapa bahan untuk dimasak. Karena selama dia disini dia tak melihat istri jadi jadiannya itu memasak.
Selama ini mereka hanya makan makanan cepat saji yang dipesan melalui layanan olfood.
Tentu saja Dharra hanya berpura pura saat berpamitan. Dia ingin tahu reaksi Aji. Namun anak sambungnya itu cukup pintar untuk memancing sang papa.
Pak Rudi yang melihat Aji termenung menatap kulkas pun mengerti dan mendekatinya.
"Di rumah saya ada beberapa bahan yang bisa dipakai pak. Kebetulan saya juga lapar" pancing pak Rudi agar Dharra bisa lebih lama berada di rumah itu. Dia sudah mengirimkan pesan pada istrinya agar mengajak Laras lebih lama berada di Mall. Anggap saja itu juga hadiahnya untuk sang istri yang sudah bersabar selama ini. Kapan lagi dia bisa memanjakan istrinya yang super baik itu.
"Oiya? boleh saya pinjam dulu? saya tak pernah mengecek persediaan"
"Pak Rakha ini gimana sih. Kita kan tetangga. Kalo hanya bahan makanan sih gak usah pake pinjam segala. Tunggu sebentar" pak Rudi segera berlari kearah rumahnya yang bersebrangan itu. Lalu kembali dengan membawa beberapa bahan sederhana.
"Enaknya dibikin apa ya pak?" Aji bingung kala sudah berhadapan dengan bahan makanan yang mentah itu. Begitu juga dengan oak Rudi yang tak pernah memasak. Hanya membantu mengupas bawanglah keahliannya.
"Tampaknya butuh tangan perempuan disini. Dan sayangnya hanya saya satu satunya perempuan disini" Dharra berkacak pinggang memperhatikan mereka yang tengah bingung.
"Eh, t tapi bu-"
"Anda kan tamu, masa tamu yang memasak" ucapan tidak enak pak Rudi dipotong oleh ucapan sopan Aji yang baru pak Rudi dengar.
Selama ini pak Rudi menilai bahwa tetangga barunya ini adalah orang yang ketus.
"Gak apa apa. Saya temannya Bintang bukan? Coba saya lihat" Dharra menunduk di sebelah Aji yang posisinya tengah berlutut didepan kulkas yang pintunya terbuka itu untuk melihat isi kulkas.
Wangi tubuh Dharra yang manis dan bongkahan besar yang menggantung itu membuat Aji ketar ketir.
"Maaf, pak Rakha. Bisa anda tunggu di meja makan saja?" Dharra tidak mau menyiksa suami amnesianya ini. Jangan jangan malah dia lampiaskan pada Laras. Bisa keenakan Laras nanti.
__ADS_1
Aji mengalah dan beranjak ke meja makan, bergabung dengan Rudi yang juga memperhatikan Dharra.
Aji merasa kesal karena ternyata tetangganya itu juga tampak kagum atau apalah terhadap Dharra. Padahal dia kan sudah punya istri.
Aji mengernyitkan dahi. Merasa bingung dengan dirinya sendiri. Menilai Rudi seperti itu, namun apa bedanya dengan dia sendiri? Lebih tepatnya statusnya saat ini adalah suami dari wanita bernama Laras.
Karena ada nasi, Dharra memutuskan untuk membuat nasi goreng komplit.
Dia meraih celemek yang tersampir di samping kulkas. Lalu mengikat rambutnya tinggi. Membersihkan hati ayam yang dibawa pak Rudi. Aji memperhatikannya dari meja makan yang mana berada dibelakang tubuh Dharra yang sedang mencuci jeroan ayam itu. Pemandangan seperti ini tak asing baginya. Tanpa sadar Aji bangkit dan mengambil bawang dan sayuran hijau untuk sekedar dikupas dan dipotong potong.
Pak Rudi yang memperhatikan hanya membiarkan mereka berinteraksi secara naluriah agar ingatan Aji lambat laun kembali.
Memang berbeda reaksi seseorang terhadap orang yang sangat dicintai, meski lupa ingatan sekalipun. Rudi menilai jika tetangganya ini sangat mencintai istri aselinya ini sebelum kecelakaan itu terjadi.
Rudi hanya berpangku tangan menyaksikan tayangan Master Chef ala ala ini.
"Apa kau tak berniat membantu" tanya Aji yang melihat tetangganya ini hanya menikmati pemandangan.
"Maaf, tapi dapurnya sempit. Tak muat untuk 3 orang" jawab jujur Rudi yang sebenarnya sedang menggoda Aji.
"Alasan. Bilang aja gak bisa apa apa"
Dharra dengan lincah mengayunkan spatula agar semua bahan yang sudah bergabung didalam wajan tercampur rata. Dia tidak menambahkan cabai di dalamnya karena dia membuat untuk 5 orang, dan 2 diantaranya adalah anak anak.
Tapi Dharra membuat sambal khusus untuk yang suka pedas.
"Ibu peri, 1 lagi mana buat oma? kasian oma pasti belum makan" Bintang memberi jalan untuk menunjukan keberadaan sang oma yang sangat dia sayangi.
"Anak pintar" batin Dharra.
"Oma? Bintang ada oma?"
"Ada, ibu peri. Tapi oma Bintang lagi sakit. Sini Bintang kenalin" Bintang menarik tangan Dharra yang melirik pada Aji. Dan Aji mengangguk mengijinkan. Aji merasa kasihan pada wanita tua itu.
Saat Dharra masuk ke kamar, kebetulan oma sedang tidak tidur. Dan kebetulan hari ini Laras tidak memanggil perawat yang biasa menyuntiknya. Oma merasa lebih baik. Biasanya dia selalu merasa pusing dan mengantuk juga lemas.
Mata Oma membola kala melihat sosok Dharra muncul di pintu kamar itu. Matanya langsung menyipit dan memuntahkan air kala Dharra memeluknya erat dan menciuminya.
Oma nenar benar tak percaya bisa bertemu dengan cucu menantunya lagi.
__ADS_1
Satu lagi do'a nya dikabulkan Tuhan.
Oma benar benar terisak dalam pelukan Dharra. Namun mulutnya masih kebas dan kelu karena pengaruh obat.
Namun oma mengerti dengan kode yang diberikan Dharra saat menempelkan telunjuk di bibir Dharra agar oma tidak mengatakan apapun.
Oma pun mengangguk lemah.
"Oma sudah makan?" tanyanya lembut sembari merapikan rambut putih yang sudah lengket karena tidak pernah dikeramas selama beberapa hari ini.
Dharra hampir menangis dibuatnya. Dia mengecup punggung tangan lemah itu. Menyalurkan rasa sayang dan hormatnya pada oma.
Oma menggeleng lemah sebagai jawaban.
"Aku bikin nasi goreng, oma mau?"
Oma mangangguk lemah sebagai jawaban. Dharra beranjak keluar kamar dan mengambil nasi goreng porsinya.
"Anda mau kemana?" tanya Aji heran karena wanita ini membawa piringnya ke kamar nenek itu.
"Karena oma Bintang belum makan, saya akan membaginya. Saya gak tahu kalau ada orang lain selain kita disini. Jadi saya hanya buat 5 porsi"
Aji tertegun. Merasa cukup malu karena tidak merawat nenek tua nan lemah itu. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga tidak mempedulikan orang tang lebih menderita darinya.
Oma makan dengan lahap disuapi Dharra yang terus meneteskan air mata. Dia ingin segera membawanya pergi dari sini.
Tiba tiba dia punya ide karena melihat beberapa botol ampule dengan merek yang sama di tempat sampah.
Dia berselancar di dunia maya untuk mencari tahu fungsi yang terkandung dalam obat itu.
Tangannya menutup mulutnya yang menganga.
"Pak Rakha. Kita harus membawa oma ke rumah sakit" titah Dharra yang kemudian meminta bantuan pak Rudi untuk menggotong oma ke mobil.
"Apa yang kau lakukan? kenapa juga-"
"Oma dibuat lumpuh"
JEDEERRRR
__ADS_1
GAK ADA SCENE KEK FILEM AJAB YAK😂