
"Apa yang kalian lakukan dengan calon istriku?" raung Aji kala melihat kondisi mengenaskan Dharra.
"A apa? c calon- mana bisa kayak gitu Rakha?" sergah Yuli tak terima jika Dharra di akuinya sebagai calon istri.
"Kenapa gak bisa? siapa anda bisa seenaknya menentukan pendamping saya? dan kelakuan kalian..." Aji menggantung kalimatnya.
cekrek
cekrek
cekrek
"Akan saya laporkan pada yang berwajib" lanjutnya setelah mengambil beberapa foto kondisi Dharra dan mereka yang sangat kontras. Meski terlihat sedikit darah di sudut bibir Yuli, namun keadaan Dharra lebih menghawatirkan, dan Dharra bisa dinilai sebagai korban penganiayaan.
"Jangan lupa kalau kelakuan kalian juga pak erte saksinya. Sekarang kalian silahkan pergi dari sini"
"T tapi Rakha... Rakha.." pak erte menggiring Yuli dan kawan kawan keluar dari pekarangan rumah Dharra. Dia tak menyangka Yuli akan bertindak jauh seperti itu.
Aji menarik lembut tangan Dharra, menuntunnya agar duduk di sofa. Lalu dia beranjak ke ruang tengah mencari keberadaan kotak P3K yang ternyata ada di kamar.
Dia membersihkan darah yang keluar dari luka sobek pada sudut bibir Dharra.
"Kamu liat kan, kelakuan penggemarmu. Mau berapa kali lagi aku di kayak giniin kalo sampe aku nikah sama kamu?" Dharra memonyongkan bibirnya tanda merajuk.
"Gak usah manyun gitu deh. Tar aku cium loh" Aji mengoleskan obat luka pada sudut bibirnya.
"a ah.. sakit.. sakit.. manyun gak manyun juga tetep aja dicium" tukas Dharra. Aji meniup obat yang baru saja ia oleskan.
"Mana ciumnya?" lanjut Dharra membuat Aji terkekeh lalu mengecup bibirnya lembut, tak mau menyakitinya.
"Udah baikan?" tanya Aji yang kemudian mengompres lebam di pipinya.
"hehe.. udah" Dharra nyengenges tak percaya dengan kelakuannya sendiri. Wajahnya memerah. Kayak gini ternyata rasanya ngerayu, batinnya.
"Aku gak mau tau, pokoknya hari ini kita ke KUA. Aku akan bilang sama Oma biar mereka stand by disana. No.. no.. ga ada penolakan. Atau kamu mau kek gini terus?" tampaknya ancaman Aji membuat Dharra berfikir. Memang betul juga apa yang disampaikan Aji. Dia seperti ini karena statusnya masih sama dengan yang lain. G A K J E L A S.
Mungkin lain halnya jika statusnya sudah sah. Pemegang hak paten tongkat ajaib😤
__ADS_1
ups🙈
" Hhhh... iya iyaa. Duda bawel" Dharra ngedumel dan langsung dikecup Aji.
cup
"Bilang lagi"
"Bawel"
cup
"Bilang lagi"
"Gak mau"
cup
"Iih Aji aku kan gak ngomong-"
cup
plok
Pagutan itu akhirnya terlepas. Dharra memegangi bibirnya yang tadi terluka kini menjadi bengkak.
"Sakit?" tanya Aji yang lupa dengan kondisi bibir Dharra yang baru terluka.
"Menurutmu?" Dharra kembali manyun, tapi langsung menutup bibirnya lagi. Tak mau lagi lagi diserang.
"Cepat mandi. Kasian oma kelamaan nunggu di KUA" Aji mengacak rambut depan Dharra yang baru dirapikan itu lalu bangkit dan kembali ke rumahnya untuk menyiapkan dokumen yang dibutuhkan.
Saat mereka hendak memasuki mobil, terlihat jika Yuli dan pak erte tengah berlari kecil ke arah mereka.
"Pak Rakha.. tunggu..." pak erte menghentikan mereka masuk ke mobil.
"Ya, ada apa pak erte?"
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" tanyanya kemudian.
"Menurut bapa?" Aji balik bertanya sambil melirik tajam pada Yuli yang terlihat menunduk di belakang bahu pak erte.
"Eh begini pak Rakha. Bagaimana jika kita selesaikan dengan cara damai saja? mbak Yuli sudah menyesali perbuatannya dan menandatangani surat pernyataan diatas materai dan disaksikan pihak security. Jadi, demi nama baik lingkungan kita, saya harap pak Rakha tidak melanjutkan ke ranah hukum"
"Begitu ya. Kita lihat saja nanti. Yang pasti visum terhadap Dharra akan tetap saya lakukan, untuk berjaga jaga jika dia membuat ulah lagi"
"T tapi.."
"Halah, sok sok-an di visum segala. Manja amat jadi-" Yuli tak bisa menahan diri.
"See? sudah kuduga dia gak bisa dipercaya. Maaf kami terlambat. Permisi" tegas Aji tak mau memberi Yuli kesempatan untuk bernafas lega.
"Kenapa mbak Yuli gak nepatin janji? ribet kan urusannya. Saya ngurusin gini gada yang gaji loh mbak, saya juga banyak urusan. Sekarang terserah mbak Yuli mau gimana. Saya sudah bantu sebisa saya. Tapi kalo dari mbak Yuli nya yang ga bisa damai ya gimana lagi? sudah, saya mau pulang. Mau terusin yang tadi. Mana lagi nanggung. Ganggu aja ni orang. Gak bisa diajak kerjasamanya" pak erte menggerutu sembari berjalan menjauh meninggalkan Yuli yang tengah waspada jika suatu saat dijemput satpol pe pe.
Aji dan Dharra sampai di tujuan, dan disambut oleh oma yang terlihat menghapus jejak air mata. Dan ternyata Bintang juga ikut ingin menyaksikan ibu perinya di-sah-kan sebagai mamanya.
Sorak haru kebahagiaan menggema di ruangan itu kala para saksi serempak mengucapkan kata "sah". Aji sontak melompat kegirangan. Dia tak menyangka bisa menikah dengan cinta pertamanya.
Namun euphoria itu tak bertahan lama kala Bintang memutuskan untuk ikut mereka pulang ke rumah sederhana mereka. "Malam pertama bisa gagal uye uye ini mah" keluhnya.
Benar saja, seharian itu Dharra didominasi oleh Bintang.
Malam tiba. Setelah seharian mereka bermain di taman bermain Bintang merasa bahagia dengan keluarga barunya. Selama ini dia tak pernah mau diajak ke taman hiburan oleh sang papa, karena bisa dipastikan jika para ular kadut yang menggelayuti lengan papanya tak suka dengannya. Berbeda dengan Dharra yang tulus dan menyukai anak anak.
Setelah mandi dan makan malam masakan Dharra yang jadi makanan favorit Aji, Bintang tampak kelelahan. Dia langsung tertidur pulas kala Dharra baru saja membuka buku cerita.
Dharra menyelimutinya dan mencium keningnya. Lalu keluar kamar hendak membereskan piring bekas makan mereka. Tak ia sangka, Aji sudah membersihkannya berikut peralatan memasaknya.
"emmmm bapak rumah tangga yang baik" puji Dharra.
Aji yang baru selesai me-lap meja pun mencuci tangannya dan mendekati Dharra dan menariknya ke rumahnya.
Tanpa menunggu lagi dia langsung menyerang Dharra. Memepetnya dipintu kamar dan menyambar bibirnya.
Dharra yang memang sudah menyiapkan diri dengan serangan Aji pun menyambutnya. Tanpa melepas pagutan, tangan Aji bergerilya membuka kancing baju Dharra satu persatu hingga lapisan terakhir. Dan Aji cukup terkejut melihat ukuran aseli dua bongkahan yang selama ini menghantui nya.
__ADS_1
"Sayang... apa ini asli?" tanya polos Aji yang dibalas kekehan Dharra.
"Iya sayang. Ini aseli dan murni"