My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Siapa Lagi Yang Jadi Korban?


__ADS_3

Dharra memesan taxol untuk membawa mereka pulang. Mobil Aji dibiarkan terparkir di basement Mall. Kondisi Aji sedang tak memungkinkan untuk menyetir sendiri. Tubuhnya terus bergetar, tak mau melepaskan rangkulannya dari Dharra. Seperti anak kecil yang ketakutan akan sosok badut. Lengan kekarnya yang melingkar di leher Dharra ditepuk tepuk perlahan oleh Dharra, berusaha menenangkan nya, meyakinkannya bahwa semuanya akan baik baik saja. Bahkan di dalam taxol pun Aji tak melepas rangkulannya. Dharra tak peduli dengan beberapa kali lirikan yang dilayangkan supir taxol itu melalui kaca spion.


Yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana menyembuhkan trauma Aji yang ternyata sangat mendalam.


Dia merasa harus lebih keras lagi memperingatkan Marvin. Manusia jadi-jadian itu terlihat tak peduli pada kondisi suaminya.


Mereka tiba di rumah oma. Sengaja Dharra membawa Aji pulang ke rumah oma. Selain sudah berjanji pada oma untuk ikut mengantar mobil barunya, juga agar bisa bertanya pada Oma perihal trauma yang Aji alami. Karena pada saat ini dia tak mungkin membahas hal itu pada sang suami.


Oma yang melihat kondisi Aji berjalan tergopoh gopoh, cemas akan kondisinya yang bisa oma tebak jika traumanya kambuh.


Oma membimbingnya agar membaringkan Aji di kamar dan memerintahkan mbok Iyem agar membuatkan teh chamomile yang dikenal dapat membantu hati dan pikiran menjadi santai, karena asam amino yang ada berperan sebagai obat penenang yang ringan.


Aji menurut kala disuruh berbaring, namun tubuh Dharra ditariknya agar ikut berbaring dengannya.


Ome menghela nafas panjang.


"Ni bocah beneran stress apa modus pengen nempelin istri?" batin oma. Tapi dia membiarkannya selama itu membuat cucu nya tenang. Karena Dharra pun terlihat tak keberatan dan menganggukkan kepala pada oma, pertanda dia baik baik saja. Oma pun keluar dan menutup pintu setelah mbok Iyem menaruh teh chamomile di meja nakas.


"Sayang... minum dulu ya, biar lebih tenang" bujuk Dharra lembut.


Aji mengeratkan rangkulannya saat Dharra hendak bangkit untuk membantu Aji meminum teh yang telah disiapkan.


"Aku gak akan kemana-mana. Yuk diminum dulu teh nya mumpung masih panas" Dharra mengusap kepala belakang Aji dengan lembut. Meyakinkannya jika dia tidak akan meninggalkannya.


Perlahan kepala itu terangkat, mimik bagai anak kecil yang ketakutan tampak jelas di wajahnya.


Dharra mengusap keringat di dahi sang suami, menatap matanya dalam, meyakinkannya jika dia bisa menjadi sandarannya. Lalu mengecup bibirnya.


Aji terlihat lebih tenang, air mukanya sudah tak begitu pucat. Dharra bangkit untuk mengambil teh yang masih mengepul, meniupnya sedikit lalu menyodorkan pada Aji agar dia lebih tenang.


Sedikit demi sedikit Aji menghirup teh itu hingga terlihat lebih tenang. Kepalanya tertunduk dalam, Dharra mengangkat dagunya agar Aji mau menatap matanya dan menceritakan apa yang mengganjal di hati dan pikirannya selama ini.


"Maaf... aku.. aku.. gak bisa jadi pelindungmu. Aku malu.. karena kamu yang justru ngelindungin aku" ucap sendu Aji yang sudah menghabiskan teh chamomile itu hingga tandas.

__ADS_1


Dharra tersenyum seraya berkata "Kita adalah satu. Kita bersatu untuk saling melengkapi. Aku gak pernah melihat kekuranganmu sebagai kecacatanmu. Aku juga banyak kekurangan. Yang penting sekarang adalah seberapa banyak kamu percaya padaku untuk menyempurnakan kehidupan kita. Aku gak akan memaksamu untuk menceritakan masa lalumu jika itu mengganggumu. Tapi aku akan selalu siap mendengarkan saat kamu sudah siap dan percaya padaku" Dharra membelai pipi Aji dan mengangkat dagunya agar menatapnya. Dharra mendekat dan mendaratkan kecupan di bibir Aji. Kecupan ringan yang kemudian menjadi menuntut. Aji terpancing dengan sikap menenangkan Dharra. Dia kemudian menaruh cangkir teh ke belakang tubuhnya seolah matanya berpindah ke belakang kepalanya karena cangkir itu tersimpan dengan baik di atas nakas yang dibelakangi tubuh Aji.


Ciuman menuntut itu menjadi membara yang membuat tangan mereka saling melepas pembungkus masing masing tanpa melepas pagutan bibir mereka.


Akhirnya mereka melakukan penyatuan dalam balutan kasih sayang. Suatu penghiburan yang bisa Dharra lakukan demi membuat suaminya merasa lebih baik.


"Sa.... yang digoyang digoyang yaaang..." oma masuk tanpa mengetuk sehingga pergumulan itu bisa dia lihat sekilas. Dia lupa jika selama ada mereka berdua di satu ruangan, pastilah terjadi sesuatu.


"Mboook... kita ke sekolah Bintang yuk" teriak oma yang tak mau ART nya kembali menjadi korban ke uwuan cucunya.


"Tapi nyonya, masih siang ini. Non Bintang kan masih dua jam lagi pulangnya" tukas mbok Iyem.


"Ga papa, kita belanja dulu ke super market" oma tak mau mengalah. Mbok Iyem pun akhirnya menurut.


"Dasar cucu kampret. Bukannya dikonci dulu pintunya. Main tusuk tusuk aja" wajah oma memerah. Pikirannya melayang, mengingat kapan terakhir kali melakukan ritual seperti itu bersama mendiang suaminya.


Mereka tak menyadari kedatangan oma ke kamar karena sibuk menyalurkan perasaan mereka.


Dia bisa merasakan betapa Aji sangat mencintainya.


Mereka saling memeluk tanpa melepas penyatuan mereka setelah ledakan dahsyat. Aji benar benar tak membiarkannya lepas dari pelukan. Dia terus mengecupi kepala dan wajah sang istri. Mengungkapkan rasa terima kasihnya.


Dharra membiarkannya, diapun merasa nyaman diperlakukan seperti itu.


"Aku pernah dilecehkan" akhirnya Aji bersuara, membuat Dharra tersentak dan menengadahkan kepalanya agar bisa menatap sang suami. Ungkapannya yang sendu terasa sangat menyayat hati.


Waktu aku SMA setelah kamu menjauhi ku, aku diculik oleh beberapa orang laki laki seperti marvin. Kupikir mereka menginginkan hartaku. Namun mereka mengikat tanganku dan... mereka.." tubuh Aji kembali bergetar, kepalanya ia telusupkan di leher Dharra, pelukannya mengetat, terdengar isakan.


"sshhh... shhhh.. gak usah diterusin ya shhh... udah ada aku disini" Dharra terus menenangkan. Membiarkannya melepas emosi yang mengganjalnya. Hingga akhirnya Aji tertidur.


tring


tring

__ADS_1


Suara ponsel Dharra berdering membuyarkan lamunan Dharra.


Dilihatnya penelpon tanpa nama yang menghubungi.


"Halo"


"........."


"Iya, saya sendiri. Ini siapa ya?"


"........."


"Oh, sudah di depan? Sebentar, saya keluar sekarang"


tut


Dharra mematikan telpon dan perlahan bangkit untuk membersihkan diri. Namun segera ditahan Aji dengan kembali melingkarkan tangannya di pinggang polos istrinya.


"Sayang... mobilnya udah dateng tuh. Aku mau kedepan dulu sebentar ya?"


cup


Dharra mengecup lembut bibir Aji yang dibalas anggukan. Aji pun melepaskan rangkulannya, namun masih enggan bangkit.


Dharra memakluminya. Dengan secepat kilat dia membersihkan diri dan baru menyadari jika pintu tak dikunci.


"my god.. siapa lagi yang jadi korban?" Dharra menepuk jidatnya, menyesali kecerobohannya.


GOYANG TEROOS


SAMPE MAMPOOS


😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2