
"Permisi, pak Rakha. Apakah saya sudah boleh masuk?" seorang pria berpenampilan gagah, berkulit putih, rahang mulus, beraura lembut dan ramah menyela amarah Aji.
"Ah, anda pasti dengan bapak Dimas, bukan?"
"Dimas saja pak. Saya masih single"
"Baiklah, silahkan masuk. Maaf atas kekacauan yang harus anda saksikan"
"Tidak apa apa, pak. Saya maklum"
Mereka pun membahas mengenai keinginan perusahaan Dimas tentang media promo dan lain sebagainya, hingga membahas poin poin kesepakatan tertulis atau MOU. Lalu setelahnya mereka kembali santai.
"Oiya, pak Rakha. Tadi saya sempat ketemu dengan teman lama saya, Dharra. Apa dia juga menemui anda? karena acara promo mall to mall perusahaannya bukankah anda yang handle?"
"Ya betul. Dia baru saja dari sini. Kami sekalian makan siang bersama"
"Oh, begitu ya. Pantas dia bilang dia sibuk selama jam makan siang"
__ADS_1
"Apa ada masalah? saya dengar pihak anda sebagai sponsor pendamping mengajukan tambahan fasilitas dengan menghubunginya langsung. Apa benar? kenapa tidak anda sampaikan pada pihak kami selaku EO yang sudah ditunjuk untuk menangani acara?"
"A-ah iya i itu sebenarnya.. alasan saya ingin bertemu dengannya" akhirnya dia mengaku. Aji tersenyum miring.
"Kami.. kami sebelumnya pernah bertunangan"
"aaaah... seperti itu. Apa yang terjadi?"
"Semua salahku. Seharusnya saat itu, aku bisa meyakinkan bibinya untuk memberiku waktu dalam mengumpulkan mahar yang mereka minta. Atau bahkan... benar katanya... seharusnya saat itu aku nekat membawanya kawin lari. Namun nyali ku tak sebesar itu. Mungkin... mungkin dia kecewa.. ditambah... saat aku ke kontrakannya untuk mencarinya, trnyata dia belum datang. Dan aku disuruh menunggu oleh teman satu kontrakannya. Dia menyuguhkan minuman teh yang sudah dicampur... dan kami..."
"Dan Dharra memergoki kalian?" tebak Aji yang mengerti dengan sikap Dharra dan reaksinya melihat sekertaris seksinya.
"Saya tadi berniat ingin melamarnya lagi. Karena saya berhasil mengumpulkan uang mahar. Namun saya lupa. Saya sudah menggoreskan luka yang cukup dalam padanya. fuhhh. Saya akan terus mencobanya lagi"
"Saya rasa anda tak perlu mencobanya lagi" potong Aji.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena dia akan segera menikah"
"A apa? kapan?"
"Setelah acara promo berakhir"
"B Benarkah?"
"Baiklah, Dimas. Obrolan yang menyenangkan. Tapi saya harus pergi" Aji bangkit dan menyalami Dimas yang termenung dengan berita mengejutkan itu.
Dharra benar benar marah. Seharian dia tidak bisa dihubungi. Saat Aji menjemput Bintang ke sekolahnya, ternyata Bintang sudah dijemput calon mamanya kata pihak sekolah. Syukurlah, setidaknya dia tidak mengabaikan anak tidak bersalah itu.
Aji pulang ke rumah mungilnya, namun tidak terlihat tanda tanda keberadaan mereka berdua di dalam rumah.
"Apa mereka jalan jalan dulu ya?" Aji melangkah masuk ke dalam rumah namun saat hendak menutup pintu tiba tiba terdengar suara pintu pagar Dharra terbuka. Aji mengintip dari jendela ternyata Dharra pulang hanya sendirian. Bintang kemana? Aji berusaha menelpon Dharra namun tak diangkatnya.
"Gawat, beneran ngambek dia" Aji menunduk lalu mengusap bagian bawahnya "Sabar ya nak".
__ADS_1
Ternyata Dharra mengembalikan Bintang ke rumah oma, alasannya adalah waktu event sudah dekat dan Dharra takut tak bisa mengurus Bintang. Papa nya pun sama karena terikat kontrak. Oma mengerti dan memberikan pengertian pada Bintang.