
Raul menelfon Dharra kembali untuk memohon agar tidak memecat dirinya. Alasan lain dia melakukan ONS dengan Laras adalah untuk mengetahui lebih detail rencana jahatnya.
Selama ini dia memang kesulitan mencari informasi akurat tentang rencana nya. Namun setelah dia bisa memuaskannya tentu saja dengan mudah bisa mendapatkan informasi akurat tentang rencananya.
Bermodalkan stamina yang kuat, membuat Laras kembali memanggilnya kala tidak bisa mendapatkan kepuasan dari lelaki yang sedang menjadi pijakannya.
Akhirnya hubungan ONS itu menjadi berkelanjutan. Tentu saja Raul bermain aman dengannya. Aman secara se*x maupun perasaan.
Dia tahu akan sangat berbahaya baginya jika bermain perasaan dengan wanita bernama Laras.
Tapi Dharra sangsi, apakah dia masih memihak padanya, atau berbalik arah dan berpura pura memihaknya?
Dia tak mau berspekulasi sebenarnya. Namun dibalik keragu raguannya, dia ingin memanfaatkan situasi ini.
"Siapa Raul, hmm? kamu belum menjawabku" Aji terus menghujaninya kecupan. Dharra dilarang bangkit dari ranjang selama 2 hari ini. Alasannya adalah apa lagi kalau membayar waktu 10 hari yang mereka lewatkan selama ini. Terutama Aji yang masih penasaran dengan masa lalu mereka.
"Raul itu detektif yang aku sewa untuk mencari kalian waktu itu. Karena sekarang kita masih belum aman dari Laras jadi aku masih menugaskannya untuk menyelidiki keberadaannya. Tapi sayangnya dia terlibat hubungan satu malam dengannya. Alasannya biar bisa leluasa mengorek rencananya. hhhh"
"Apa kamu percaya padanya?"
"Entahlah. Meski tak ada hubungan semacam itupun aku tak berani percaya sepenuhnya. Manusia itu susah ditebak jalan pikirannya"
"Bagaimana denganku? apa kau percaya padaku?"
"Kamu itu lain, sayang"
"Lain apanya? aku juga manusia kan?"
"Kamu itu mesin ATM berjalanku. Mana bisa aku meragukanmu" Dharra tergelak karena lagi lagi berhasil menggoda suaminya.
"Apa kau akan jatuh cinta padanya? sering bertemu bisa tumbuh rasa cinta, bukan?"
"Apa aku terlihat seperti itu? usiaku saat menikah denganmu adalah 27 tahun. Kalau aku orang yang murahan, mungkin aku sudah merasakan berbagai batang coklat maupun putih. Tapi kamu mendapatkan yang premium. Kamulah pertamaku, dan semoga yang terakhir"
__ADS_1
Aji menatap lekat ekspresi Dharra yang penuh kesungguhan dan ketulusan dalam setiap ucapannya.
"Bagaimana kamu jatuh cinta padaku? Kata oma aku dulu tergila gila padamu. Kenapa kamu memutuskanku?"
"Kamu adalah idola di sekolah. Siapapun akan jatuh cinta denganmu. Tapi bukan aku. Karena itulah kamu mengejarku, untuk membuktikan dirimu. Pikirku saat itu. Tapi ternyata... kamu bilang kamu memang menyukaiku karena aku berbeda dengan mereka. Aku melihat ketulusanmu. Aku merasakan ketulusanmu. Untuk itulah aku menerimamu menjadi kekasihku. Perlakuan spesialmu, sikap lembutmu, tak pernah aku dapatkan dari siapapun kecuali ayah dan ibuku. Tentu saja kenyataan itu membuat iri semua gadis yang menggilaimu sampai suatu saat seseorang menaruh obat perangsang dalam minumanmu, dan..."
"Dan? apa aku melukaimu?"
"Kamu hampir melukaiku. Aku membencimu saat itu. Tapi sebenarnya aku tak bisa membencimu. Aku tahu itu bukanlah niatmu untuk menyakitiku. Tapi gara gara obat terkutuk itu.... dan akhirnya kamu melampiaskan pada si penaruh obat. Yang memang niatnya seperti itu. Seberapa keraspun kamu menolaknya, obat itu mengalahkan kewarasanmu. Hingga kamu menghamilinya"
"Jadi Bintang-"
"Bukan. Kamu memang menikahinya setelah itu. Tapi kemudian kamu menjadi laki laki brengsek, dan dia keguguran. Dia ingin memilikimu seutuhnya dengan cara yang salah. Dia ingin cintamu juga. Dia melakukannya dengan orang lain saat kamu sibuk dengan wanita lain agar bisa mengandung lagi. Dan menyerahkan bayinya sebelum meninggal. Setidaknya kamu bisa mencintai anaknya, bagian dari dirinya. Dialah Bintang. Mungkin bukan dari benihmu, juga bukan dari rahimku. Tapi dia anak kita" Dharra mengapit wajah Aji. Meyakinkannya jika semua akan baik baik saja terlepas dari kenyataan masa lalu.
"Apa kamu tahu?" tanya Aji kemudian.
"hnn?"
Aji menempatkan sebelah tangan Dharra pada rudalnya yang kembali siap tempur.
Beberapa hari berlalu. Oma akhirnya berhasil mengeluarkan dan membebaskan cucu menantunya dari jeratan sang buaya karena Bintang sudah merengek ingin bertemu dan bersatu dengan sang mama.
Dan satu minggu lagi mereka akan menempati rumah baru mereka.
Oma benar benar berbuat semaunya. Tapi itu bentuk rasa sayangnya pada cucu dan cicitnya.
Raul mengajukan pertemuan untuk melaporkan beberapa hal. Tadinya dia hendak datang ke kantor lama Dharra. Namun Dharra memberitahunya jika dia sudah resign. Jadi mengajaknya bertemu di restoran dekat kantor oma saat makan siang setelah perkenalan dengan dewan direksi di kantor barunya. Tentu saja Raul tak diberitahu mengenai kantor barunya. Sedikit riskan pikirnya.
Raul tiba lebih dahulu. Dia memesan beberapa menu camilan sebelum makan berat. Ada yang aneh dengannya. Dia merapikan diri, tak seperti biasanya.
"Raul, apa yang kamu punya?" Dharra langsung bertanya tanpa basa basi. Dia paling anti berbasa basi dengan lawan jenis selain suaminya.
"Ah, bu Dharra. Silahkan duduk. Saya sudah menyiapkan camilan. Anda sedang hamil bukan?"
__ADS_1
"Terima kasih, tapi saya masih ada janji. Langsung ke intinya saja" tegas Dharra membuat orang yang duduk dibelakang Raul tersenyum puas.
"Begini. Sewaktu Laras melarikan diri. Dia bersembunyi di rumah kosong tak jauh dari komplek perumahan itu. Saat jejaknya ditemukan, kami malah menemukan sesuatu yang kami duga adalah janinnya. Kami mengautopsinya dan janin itu dikeluarkan paksa dengan obat penggugur kandungan. Diperkirakan janin itu dikeluarkan tak lama saat kami menemukannya"
"Penggugur kandungan? bukankan itu berbahaya?"
"Tentu saja dia tak bisa memiliki anak lagi. Jika dia terlalu banyak menkonsumsinya bahkan akan kehilangan nyawanya"
"Lalu?"
"Setelah itu dia pergi mencairkan deposito ibunya dan pergi ke salon. Lalu menjebak Pak Santo saat sedang melakukan kunjungan kerja. Tadinya dia tak tahu jika pak Santo itu adalah wakil walikota kota M. Dia pikir hanya seorang petinggi perusahaan. Awalnya dia berniat menjadi simpanan biasa untuk menafkahi dirinya. Ternyata dia dapat jackpot. Sehingga bisa melancarkan aksinya menyusul kalian kesini"
"Pantas dia bisa dengan bebas masuk ke kota ini. Sebenarnya apa maunya dari kami?"
"Selain harta yang keluarga suami anda miliki, dia ingin mengalahkanmu dalam segala hal. Dia ingin merebut apapun yang anda miliki"
"Bagaimana caramu mendapatkan informasi mendetail seperti ini?"
"Saya membuatnya mabuk malam itu. Anda tahu bukan jika orang mabuk akan mengeluarkan apapun yang ada di pikirannya saat itu?"
"Apa kau yakin dia benar benar mabuk?"
"Sembilan puluh persen, yakin"
Raul kemudian menyodorkan jus kiwi kesukaannya. Lalu menyodorkan potongan buah.
"Apa anda ingin memesan makan berat? ini sudah jam makan siang" bujuk Raul.
"Anda punya cara yang aneh mengajakku makan siang, Raul. Baiklah, terimakasih tawarannya. Tapi saya ada janji makan siang dengan suami saya. Terimakasih informasinya" Dharra mengeluarkan sejumlah uang sebagai kompensasi informasi yang dia dapat.
Dharra bangkit dan melangkah keluar restoran sambil melakukan panggilan telfon.
"Dia berbohong"
__ADS_1