My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Salah Paham


__ADS_3

Dharra memegang perutnya yang tiba tiba terasa sakit. Tubuhnya sedikit terhuyung, untunglah Mario berhasil menahannya.


"Apa anda baik baik saja?" tanya Mario cemas.


"Bintang.. dia mendapatkan Bintang.. ugh.." ucapanya terpotong kala merasakan sakit kembali di perutnya.


Dharra mengatur nafasnya sesaat. lalu meminta Mario menuntunnya ke mobil.


"Mario... ehm... hubungi suamiku lalu hubungi oma. Katakan apa yang baru saja kamu dengar" Dharra menghitung jarak rasa sakitnya. HPL nya seharusnya 2 minggu lagi. Tapi tak menutup kemungkinan jika lahir lebih cepat.


Mario melaksanakan apa yang diperintahkan setelah membantunya duduk di belakang. Intensitas kontraksi itu sudah sering muncul. Keringat dingin bermunculan di keningnya.


"Cepatlah. Rumah...arrgh..... bertahanlah nak.....emmmh..." Dharra menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit.


"RUMAH SAKIT......" Dharra berteriak kala melihat Mario mengarahkan mobilnya ke rumah. Yang kemudian dia putar balik setelah dikejutkan dengan teriakan istri bos nya ini. Beberapa mobil yang berada dibelakangnya pun menginjak rem mendadak karena pergerakan mobilnya yang tiba tiba putar arah.


Mario mengendurkan dasi yang menjerat lehernya. Dia lebih baik menghadapi para preman daripada wanita kontraksi.


Mobil dengan cepat tiba di rumah sakit bersalin. Mario segera membantu paramedis yang datang dengan brankar untuk mengevakuasi Dharra.


"aaaargh.. suamiku.. aaaah.. aku mau suamiku... panggilkan... aaaargh.... suamikuu......"


paramedis yang berlari di sisian brankar melirik Mario.


"Iya bu. Tenang ya. Suami ibu ada disini" ucap salah seorang perawat yang turut berlari.


"DIA BUKAN SUAMIKU..." Dharra kembali berteriak. Membuat Mario dan sang perawat reflek melipat mulut dan mengusap dadanya masing masing.


"Yang sabar ya pak" lanjut sang perawat menenangkan Mario yang ia kira adalah suaminya.


"SIALAAAAN....." Dharra mengumpat sang perawat yang tengah salah paham. Namun sang perawat terus menenangkan Mario.


Aji berlari menerjang apapun yang menghalangi jalannya. Istrinya adalah prioritasnya saat ini. Masalah Bintang, oma sudah mengerahkan orang orang terbaiknya untuk menangkap pelaku pencuikan.


"Istriku.. dimana istriku.." tanya Aji sambil terengah karena berlari dari kantor ke rumah sakit itu. Dia tak membawa mobilnya karena bisa dipastikan akan terjebak macet. Pasalnya lokasi rumah sakit itu tak terlalu jauh, yaitu hanya berjarak kurang lebih 500m. Namun jika memakai kendaraan haruslah berputar jalur melalui perempatan jalan.


Peluh bercucuran dengan wajah memerah.


"Maaf, nama istri bapak siapa?" tanya bagian informasi.

__ADS_1


"Dharra.. Dharra Pricilia"


"Silahkan masuk ke lorong sebelah kiri pak. Ruang bersalinnya berada di ujung ya pak" tunjuk perawat yang bertugas di bagian informasi.


Aji langsung melesat. Namun dia mendengar sesuatu yang ganjil.


"Gawat, suaminya dateng. Bisa habis tuh pebinor." bisik bisik para perawat yang tengah bergosip. Membuat Aji menghentikan langkahnya dan memutar kepala dan tubuhnya untuk melihat arah subjek pengghibah. Dan ternyata mereka sedang membicarakan dirinya. Aji tak mengatakan apapun. Dia hanya mendecih sambil memperhatikan name tag mereka satu per satu. Karena ini adalah rumah sakit milik sang nenek, dia bisa melakukan sesuatu pada mereka karena berani menggunjing pasien yang bisa mengakibatkan salah paham maupun mempermalukan. Dan itu melanggar etika kerja. Dia akan buat perhitungan dengan mereka. Tapi sekarang adalah waktunya untuk fokus pada persalinan istrinya.


Terlihat Mario tengah duduk di kursi depan kamar bersalin dengan kepala menunduk yang ditopang oleh kedua tangannya. Satu kakinya ia hentak hentakkan ke lantai. Kemudian dia berdiri mengintip kaca pada pintu berbentuk lingkaran lalu kembali duduk.


Persis seperti seorang suami yang gelisah.


"Ngapain kamu gelisah seperti itu? Apa dia istrimu?" tanya Aji dengan ketus.


Mario langsung mengatupkan rahangnya saat hendak mengucap syukur karena akhirnya yang ditunggu datang juga. Gak istri gak suami, benar benar menyebalkan. Seandainya dia sedang memegang senjata api. Pastilah dia menembakkannya pada kepalanya sendiri.


"Maaf bos. Anda ditunggu nyonya. Beliau tidak mau melahirkan jika tak ada anda disisinya" akhirnya dia merubah ekspresinya lagi kembali dingin.


"Bilang dong dari tadi" Aji bersungut dan langsung menerjang masuk ke ruangan. Mario kembali mengatupkan mulutnya.


Sungguh situasi yang membagongkan.


Suara pintu di buka secara kasar oleh Aji. Membuat seisi ruangan terkejut dan mengalihkan pandangan kepadanya.


Dharra yang merasa lega suaminya akhirnya tiba pun merentangkan tangannya agar Aji segera menyambutnya.


Jika saja ini tayangan pada tv ikan terbang pastilah gambaran mereka akan dilakukan secara slow motion😑


"Saayaaaang...."


Dahlah


Aji langsung memeluk dan mengecupi istrinya karena merasa bersalah.


"Maafkan aku.. maafkan aku terlambat datang.."


ekhem


"Bisa kita mulai?" sela dokter kandungan yang jengah dengan interaksi pasangan satu ini. Pasalnya pembukaan Dharra sudah sempurna jika saja Dharra tak menahannya. Dokter sampai terheran jika dia bisa menahannya. Secara saat bukaan sudah sempurna, bayi itu akan segera keluar. Bagaimana caranya menahan? apa dia janjian dulu?

__ADS_1


"Ah baik. Kita langsung mulai"


Perawat membantu sang dokter membimbing suami pasien agar duduk bersila di belakang Dharra, sang istri. Sehingga Dharra akan lebih mudah untuk mengejan. Selain posisi setengah duduk yang secara tak langsung mendorong sang bayi, juga memberikan kekuatan bagi sang istri melalui dekapan sang suami yang menopang dan mensupport secara psikologis terhadap perjuangan istri.


"Baik, sudah siap? sesuai aba aba-"


"eerrrrrr......"


"oek.. oek..oek.."


Bayi berjenis kelamin laki laki itu langsung keluar sebelum sang dokter mulai berhitung. Dokter segera mengeluarkan tubuh sang bayi dan memberikannya pada perawat agar dibersihkan terlebih dahulu sebelum melakukan inisiasi awal menyusui.


Dharra kembali mengejan untuk mengeluarkan plasenta.


Rasa haru meliputi keduanya.


Dharra yang terengah menengadah agar bisa menatap sang suami yang tengah menitikan air mata bahagia sekaligus takjub akan ciptaan Sang Maha Pencipta.


Dharra mengecup bibir Aji yang dibalas *****4an. Membuat para pejuang cinta mengalihkan pandangannya.


Sungguh tayangan yang tak pantas untuk para jomblo.


"Apa kamu sudah mempunyai nama untuknya?" tanya Dharra saat sang bayi dibiarkan telungkup di dada montok Dharra untuk mencari sumber penghidupannya.


Aji melihat gundukan miliknya yang kini dikuasai sang anak. Kenapa dia tak berfikir kearah sana ya?


"Buah gue..." gumam Aji dalam hati yang sedikit menyesal tak sempat menikmati terlebih dahulu buah favoritnya. Kini dia harus bersaing dengan anaknya. Setidaknya 2 tahun dia akan meminjamkannya pada sang anak. Selebihnya, buah itu kembali menjadi miliknya. Batinnya.


"Apa kau lupa kalau aku sempat hilang ingatan?" jawabnya sendu karena tidak bisa menyiapkan nama untuk anak perdananya.


"cup.. baiklah, karena kita sudah punya Bintang, maka aku beri dia nama Langit"


Aji tersenyum karena Dharra memasangkan nama anak kandungnya dengan anak sambungnya. Dia mengecup dalam pelipis istrinya.


"Berarti kini keluarga kita lengkap. Ada Bintang, ada Langit, dan kamu.. matahariku"


"Bubar bubar... " sang dokter yang selesai menjahit sobekan pasca melahirkan itupun membubarkan para jomblo akut yang hampir meneteskan air liurnya saat melihat pasangan itu kembali saling *****4*.


GAK TAKUT APA SI MONSTER BANGKIT?😁

__ADS_1


__ADS_2