My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Dikeroyok


__ADS_3

Dharra tiba tiba teringat dengan Dimas, sang mantan.


"Aji, aku boleh ketemu sama Dimas ga?"


Aji sontak membalikan tubuh Dharra. "Apa? ketemu siapa?"


"Dimas" Dharra memutar bola matanya malas. Aneh ya, player ko posesif.


"Mau ngapain ketemuan sama dia? mau nerima lamaran dia lagi? mentang mentang dia udah ngumpulin mahar, gitu? aju juga punya uang segitu- a a ah sakit sayang, elus elusin napa" Aji merasakan cubitan maut di perutnya, dan meraih tangan Dharra agar mengelus bagian bawahnya.


"Ngelunjak ya anda" Dharra meremat gemas bagian intinya.


"ahh... kamu nakal"


plak


Dharra menjeplak kening Aji. Ekspresi Aji yang seperti itu membuatnya sebal.


"Aku ketemuan dia mau nanyain sodaraku yang mana adalah anak paman dari ayah ku. Siapa tau dia mau nganter aku ketemu sama paman. Toh masih keluarga juga. Karena hasutan dari bibi, kita juga gak deket, padahal rumahnya deket Dimas. Yaaa beda RW sih sama aku"


"Aku ikut" Aji mengecup sekilas bibir Dharra lalu beranjak ke kamar mandi.


"Ya ampun ni jalu. Kenapa ga pake kamar mandi sendiri sih? aku juga mau pake kan?" keluh Dharra atas sikap seenaknya Aji.


tok

__ADS_1


tok


tok


Seseorang mengetuk pintu depan.


"Gawat, gimana kalo pak erte sama para kunti?" Dharra mencoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata tak dikunci Aji.


"waaaaaaaa..." Dharra terkejut karena pertama kali melihat tampilan polos Aji. Pun dengan Aji yang juga terkejut dengan masuknya Dharra secara tiba tiba. Seringai mesum tersungging di bibir basah nya.


Dharra langsung membalik badan tak mau tergoda.


"Itu.. anu.." gugup Dharra.


"Ada tamu. Kamu cepet balik sana ke rumahmu" tanpa menunggu lama Dharra langsung keluar. Aji menghela nafasnya.


"Hhhh.... sabar dikit lagi ya nak" dialognya dengan sang adik tanda kutip. Lalu Aji segera menuntaskan ritualnya dan kembali ke rumahnya untuk berganti pakaian.


tok


tok


tok


Seseorang juga mengetuk pintunya, semoga bukan si nenek lampir pikirnya.

__ADS_1


"Selamat pagi pak Rakha, maaf mengganggu. Tapi saya mendapat kabar jika anda menyimpan wanita semalam disini. Bisakah saya mengeceknya?" Pak erte ternyata yang mengetuk, lalu siapa yang mengetuk pintu rumah Dharra?


"Oh ya, silahkan. Maaf tadi saya baru bangun langsung mandi karena ada keperluan. Sebenernya siapa yang lapor pa?" Aji degan santainya membuat kopi untuk dirinya, tak lupa menawari pak erte.


"Biasa lah, tetangga depan rumah anda. Sebenarnya saya percaya pada pak Rakha, cuma saya jengah selalu direcoki sama mbak Yuli suruh gerebek pak Rakha. Tuh sekarang dia lagi ke sebelah" pak erte memberi petunjuk.


Aji punya firasat buruk jika Yuli benar benar mendatangi Dharra seperti pak erte mendatanginya. Bisa lain ceritanya kalo Yuli yang bertamu.


Aji bergegas keluar disusul oleh pak erte. Benar saja, Yuli dan kawan kawan sedang adu mulut dengan Dharra, dimana Dharra dalam kondisi mengenaskan dikeroyok para hyena.


"Sudah kubilang jauhi Rakha, atau kamu rasakan akibatnya" Yuli menampar lalu menjambak Dharra dan Dharra membalas menjambaknya.


"Emang apa urusannya sama kamu? urus suami kamu sendiri" sergah Dharra yang kemudian menyikut perut Yuli dengan lututnya.


Yuli seketika melepas cekalannya lalu menunduk memegangi perutnya.


"Rakha itu milik kami, kamu gak bisa seenaknya milikin dia, kamu orang baru disini. Dasar gak punya rasa hormat" lanjut kacung nya Yuli yang gemetar melihat keadaan Yuli yang bisa Dharra lawan. Dia tak menyangka Dharra bisa melawannya. Secara mereka pun ingin melawan Yuli tapi takut.


plak


Dharra melayangkan tamparan panas dipipinya terlebih dahulu sebelum mereka sempat menamparnya.


"Atas dasar apa dia milik kalian hah?" Dharra berteriak. Baru kali ini Aji melihat aura galak Dharra.


"Ada apa ini?" Aji memecah kegaduhan yang merugikan calon istrinya.

__ADS_1


__ADS_2