
"Anda tahu saya tidak gila harta" tukas Dharra mengetatkan rahangnya. Dia memang sudah menyiapkan diri untuk berita semacam ini. Tapi tetap saja rasanya sedikit kesal karena tidak jadi bebas dari ikatan pekerjaan yang mungkin bisa menjauhkannya dari keluarga.
"Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan anda. Begini saja. Kami minta 1 bulan untuk menggantikan posisi branch manager. Sedangkan posisi anda anggap sudah resign. Ini hanya semacam additional job. Bagai mana?"
"Mmmm.... setelah 1 bulan, suka atau tidak suka saya keluar. Apapun yang terjadi?"
"Deal" Seno segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Dharra.
Dharra melirik pada Aji yang dibalas anggukan. Aji tahu dia tak boleh egois. Istrinya sedang dibutuhkan banyak orang, meski dia juga sangat membutuhkannya. Toh hanya satu bulan.
Dharra mengantarkan Aji ke area drop off, menunggu bell boy membawakan mobilnya dari parkiran basement.
Ya, Aji akan kembali ke kota M karena sudah tanggung berjanji pada Bintang untuk pulang hari ini.
"Sayang, ga usah jadi pulang ya. Aku gak mau sendirian"
"Hanya 3 hari, sayang. Kita udah janji sama Bintang mau pulang hari ini. Kamu gak mau di cap sebagai orang tua yang suka ngumbar janji kan?"
"Tapi kan aku gak ikut pulang. Biar sekalian aja gitu bareng aku" rengek Dharra.
"Atau aku ikut kamu buat nemuin Bintang, trus malem berangkat lagi kesini, gimana?" bujuknya lagi.
"Nanti kamu kecapean, sayang. Inget sama anak kita yang satu ini. Lagian cuma 3 hari kok. Setelah itu aku temenin kamu disini sebagai gigolo pribadi kamu. Gimana? 3 hari ini juga waktunya aku nge-cas kamu kan?" matanya mengerling disertai alis yang naik turun.
Dharra benar benar tak rela ditinggal sang suami. Apalagi 3 hari. Sedetikpun dia tak mendapati sang suami berada di sisinya saat bangun tidur, dia gelisah. Padahal Aji sedang buang hajat di kamar mandi. Karena aroma tubuhnya yang membuat kehamilannya baik baik saja. Tak pernah sekalipun dia mengalami morning sickness.
Apa jadinya jika tanpanya selama 3 hari? Bisakah dia bertahan?
"Kamu pasti bisa, sayang"
cup
Aji mengecup kening Dharra, lalu berlutut untuk mensejajarkan kepalanya dengan perut Dharra.
"Sayangku, jagoanku. Kamu dengar papa nak? Jadilah anak yang baik ya selama papa gak ada. Jangan buat ibumu yang cantik ini kesusahan. Makan yang banyak biar cepet gede. Jagain mama dari para pengganggu. Papa akan segera kembali" cup
Aji mengecup perut Dharra yang sedikit menonjol itu. Dia tak canggung melakukannya meski di tempat umum. Justru dia ingin memproklamirkan kepemilikannya pada dunia.
Dharra pun tak keberatan dengan perlakuan Aji padanya di muka umum seperti ini. Semakin berat bagi Dharra melepas kepergian Aji. Maklum, hormon bumil emang suka lebay.
__ADS_1
Aji pun melaju dengan senyum manis. Namun setelah cukup jauh, air matanya tak terbendung.
Dharra kembali ke kamar, mempersiapkan diri untuk esok hari. 3 hari kedepan akan menjadi hari hari yang hampa.
Dia menatap ponselnya, dimana dia memasang wallpaper menggunakan foto mereka berdua saat sedang bermesraan di kamar.
Jarinya mengusap ponsel yang menampil kan foto mereka berdua. Setetes cairan bening turun dari sudut matanya.
"Aku kangen.." Dharra tergugu. Padahal Aji baru berangkat 30 menit yang lalu. Waktu yang dibutuhkan mencapai kota M sekitar 10 jam kurang lebih. Dharra tak mau mengganggu konsentrasi Aji dalam menyetir. Dia akan menunggu hingga Aji yang menghubunginya lebih dulu.
Air matanya tak bisa berhenti mengalir. Hingga Dharra tertidur dalam isakannya sambil memeluk ponsel yang bergambar dirinya dan sang suami.
Dharra terbangun dari tidurnya. Namun kondisi kamarnya gelap gulita.
"Dimana ini? kenapa gelap begini?" Dharra bertanya pada diri sendiri. Disadarinya bahwa dia tengah memegang ponsel. Lalu ia menekan tombol layar agar bisa melihat waktu.
"Jam 10? ini udah malem? pantesan gelap" Dharra menyalakan senter pada ponselnya lalu berjalan ke arah saklar lampu untuk menghidupkan lampu. Setelah itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Perutnya meronta ronta kala sudah kembali ke ranjang. Biasanya Aji yang mengingatkan atau menyiapkan. Kini dia harus mengurus dirinya sendiri seperti dulu. Tapi karena sudah terbiasa dengan kehadiran dan pelayanan Aji, dia terlena.
Sebelum makanan datang, Dharra melirik pada sosok besar yang menempati sofa. Teddy bear jumbo yang sengaja ditinggalkan Aji agar bisa menemani Dharra 3 hari ke depan. Selain itu, Aji ingin Dharra memberikan hadiah itu pada Bintang langsung dari tangan Dharra. Karena niat awal mendapatkan boneka itu karena ingin memberi hadiah pada Bintang secara eksklusif. Tidak bisa dibeli dimanapun. Karena label yang tertera pada bagian belakang boneka besar itu menunjukan tempat boneka itu didapatkan. Time Zone. Tidak semua orang bisa dengan mudah mendapatkan hadiah yang bernilai seribu tiket itu.
Dharra menempatkan boneka jumbo itu di kursi sebelahnya.
Makanan akhirnya datang pada pukul 22.30. Dia memesan 5 macam hidangan seperti yang biasa dia pesan. Namun selera makannya tak sebagus saat bersama Aji.
Dia bahkan banyak menyisakan makanan.
Dharra kembali meneteskan air mata kala tak ada usapan lembut di bibirnya ketika selesai makan. Dia begitu merindukan perlakuan lembut Aji padanya.
"Perusahaan sialan" Dharra melampiaskan kekesalannya pada perusahaannya.
Dharra lantas melihat waktu pada ponselnya.
"Jam setengah dua belas. Harusnya sih udah nyampe. Apa dia kecapean ya?" Dharra berniat menelpon nya. Namun urung karena mengingat waktu yang sudah larut. Aji pasti kelelahan karena perjalanan yang jauh. Akhirnya dia memutuskan untung mengirimkan pesan.
Ajikusayang :
__ADS_1
Sayang
Sudah sampai?
Sudah makan?
Sudah bobo?
Aku kangen๐
Telpon aku kalo udah bangun ya sayang.
Love you๐๐๐
send
Namun pesan yang terkirim itu menunjukkan centang satu. Artinya Aji mematikan data. Atau mungkin kehabisan baterai.
Dharra akhirnya merebahkan diri. Mencoba untuk kembali tidur karena besok adalah hari pertamanya bekerja kembali di kota ini, namun sebagai pengganti sementara.
"Merem plis mereeeem.... ah keknya tadi kelamaan tidur deh" Dharra tak kunjung bisa memejamkan mata.
Akhirnya Dharra menyalakan tv dan membuka buku. Entah siapa yang membaca siapa, dan siapa yang menonton siapa. Hingga akhirnya Dharra tertidur juga.
"Sayang... bangun..."
"Engh... bentar lagi.. masih ngantuuk.."
Dharra menutup mukanya dengan bantal. Lalu dia melemparnya. Terkejut dengan suara familiar yang dia dengar. Matanya dia paksa buka. Dipindainya seluruh ruangan yang terang.
"Ya ampun. Aku telat. Sayang... kenapa gak bangunin dari ta- di" seruannya sempat terpotong kala mendapati tidak ada seorangpun di kamar mandi.
Lalu siapa yang tadi bangunin?
HEUP DULU
LANJUT BESOK MAN TEMAN
KIRA KIRA SUARA SIAPA YA?๐ค
__ADS_1
LIKE N COMMENT YA, BIAR TAU KEKURANGAN AKU DIMANA๐๐ป