
Dharra panik kala mendapat berita mengejutkan yang disampaikan Mario.
Yang lebih mengejutkannya adalah kenyataan jika Mario adalah saudara kembar Marvin, mantan anak buahnya di dealer tempat kerjanya sebelum ini.
Marvin yang dengan tampilan wajah dengan rambut tipis di sebagian wajahnya membentuk jambang dan kumis membuatnya terlihat macho. Namun setelah mendengarnya membuka mulut, kesan macho itu menghilang seketika.
Tanpa banyak berpikir, Dharra segera menuju rumah sakit. Dia tak mau suaminya sendirian di rumah sakit.
Tanpa menghiraukan kehamilannya, Dharra berlari di sepanjang koridor dengan buntelan di perutnya yang sudah besar. Membuat orang orang meringis melihatnya.
Dharra tiba di depan pintu ruangan yang diinformasikan Mario. Tampaknya orang itu belum kembali.
Dia mengatur nafas yang tersengal sengal. Tak mau sampai suara nafasnya mengganggu suaminya.
Dharra perlahan memutar handle pintu dan sedikit membuka daun pintu itu. Namun tampaknya ada orang lain di dalam sana. Suara kikikan seorang perempuan? Dan suara suaminya? Selain itu mereka terdengar sedang saling melempar candaan? yang benar saja...
Tak mau menduga duga Dharra membuka lebar pintu itu.
Betapa mengejutkan pemandangan yang dilihatnya. Perawat yang tadinya duduk di ranjang pasien dengan rok span yang disingkap hingga menampilkan paha yang sedang dipegang Aji langsung turun dan gelagapan. Dia pun segera keluar dengan berlari kecil.
Dharra bisa melirik sekilas name tag pada dada sebelah kirinya, bernama Irene, yang juga kancing atasannya terbuka 1 buah.
"Apa kau masih betah bekerja dirumah sakit ini Irene?" Dharra menekan suaranya saat menyebut namanya. Membuat sang perawat menghentikan langkahnya.
"M-maaf.. t-tolong ja-"
"Siapa kamu berani memecatnya? apa kau tahu kalau ini adalah rumah sakit keluargaku?" Aji berkata dengan ketus pada Dharra.
What? Apa dia membelanya? batin Dharra. Lalu Dharra teringat dengan amnesia yang diderita Aji.
"Tentu saja aku mengetahui kalau ini adalah salah satu rumah sakit Oma Sekar"
Perawat yang terlihat gelagapan itupun segera meninggalkan ruangan dengan membawa harapan agar tak dilaporkan lalu berakhir dengan pemecatan.
Memang salahnya yang tak bisa menahan diri untuk tak menanggapi godaan dari para pasien.
Tapi bagaimana dia bisa menahan diri jika yang menggodanya adalah pasien seperti Aji.
"Kamu kenal dengan Oma?"
__ADS_1
"Tentu saja. Kami bahkan dekat. Lebih dekat dari yang kamu bayangkan" Dharra menjawab dengan tenang sambil mengira ngira apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya. Apa dia kembali pada ingatan lamanya sebelum mereka menikah?
"Sejak kapan kamu mengenalnya? lagi pula, apa yang kamu lakukan di kamarku? bukankah kamu tak ingin melihatku lagi?" tepat seperti apa yang Dharra duga. Dia kembali pada ingatan lamanya sebelum mereka bertemu kembali dan menikah.
"Aku hanya melaksanakan apa yang oma Sekar perintahkan. Tapi sepertinya kamu baik baik saja. Aku permisi"
"Tunggu" Aji menghela langkah Dharra yang berbalik setelah berpamitan.
"Ada yang ingin kau sampaikan pada oma? ah ya, kamu kan cucunya. Kamu bisa sampaikan sendiri"
"mmm... mengenai kejadian itu... aku.."
"Jangan khawatir. Aku sudah memaafkanmu" Dharra mengerti arah pembicaraan Aji lalu mengelus perut buncitnya sambil tersenyum. Membuat Aji menautkan kedua alisnya.
"Apa kamu sudah menikah?" pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan bukan? jika kondisi tubuhnya seperti ini. Namun Dharra segera memaklumi dengan kehidupan bebas suaminya sebelumnya.
"Tentu saja. Dan ini hasil kerja keras kami. Aku permisi" Dharra kembali tersenyum dan berbalik melangkah keluar dari ruangan itu.
Rasa sesak menguasai dada dan tenggorokannya. Dia tak mau meledakkan sesak itu di dalam ruangan.
Tubuhnya terduduk lemas di pintu ruangan yang tertutup. Menangis dalam diam, melepaskan beban perasaan yang menghimpit dadanya.
Mungkin perjalanan hidupnya, kisah cintanya akan lebih berat lagi.
Biarlah Aji tidak tahu status mereka saat ini. Dia tak mau memaksakan otaknya bekerja lebih.
Sekali lagi Dharra menyerahkannya pada yang Maha Kuasa.
Dharra menghubungi oma dan memberitahukan perihal kondisi Aji.
Oma menyuruhnya untuk menunggunya di rumah sakit. Namun Dharra menolaknya. Dia lebih baik membawa kenangannya bersama Aji dan menyimpannya sendiri.
Dharra berjalan gontai menyusuri parkiran. Dan itu bisa Aji lihat dari jendela kamar rawatnya yang berada di lantai 2.
Sebuah mobil Maybach hitam berhenti tepat di sampingnya. Lalu keluarlah sesosok pria yang kemudian menyampirkan jas nya pada tubuh bulat Dharra. Dan membimbingnya masuk kedalam mobil.
"Itukah suaminya? hhhh..." Aji menghela nafas.
Dharra kembali ke rumah oma dan bermain sebentar dengan Bintang.
Rencananya untuk menyambut suami tercintanya harus dia urungkan.
__ADS_1
Dharra membereskan kamar mereka yang telah Dharra hiasi degan taburan kelopak bunga. Dia juga menyimpan kembali lilin beraroma therapy yang terdapat di kamar mandi.
Dharra berniat menyewa sebuah apartemen kecil di dekat kantor agar memudahkannya pulang pergi kantor.
Pada kondisi Aji yang seperti ini tak mungkin dia tinggal di rumah oma, ataupun di rumahnya sendiri yang ada di kompleks perumahan sederhana. Apalagi rumah itu sudah di renovasi menjadi 1 dengan rumah Aji. Biarlah oma yang menjelaskan padanya. Dia hanya akan fokus pada perusahaan oma. Amanat yang diberikan oma padanya.
"Bintang ikut, mama. Bintang gak mau ditinggal lagi sama mama" Bintang menghiba dengan mata bulat nan berkaca kacanya. Bibirnya bergetar menahan tangis yang tak mau dikeluarkannya.
"Sayang, nanti oma nyariin Bintang gimana?"
Bintang melirik sekilas pada Mario yang tengah menunggunya disamping mobil.
"Oma.. oma pasti gak masalah kalo Bintang sama mama, bukan?" matanya terus bolak balik menatap Mario dan Dharra bergantian. Dharra mengerti. Bintang pasti cemburu karena dia bersama laki laki selain papanya.
"Baiklah. Biar mama kasih kabar Oma dulu ya" Dharra mengacak poni rambut Bintang dan melakukan panggilan. Setelahnya dia meminta mbok Iyem untuk menyiapkan pakaian Bintang.
Saat Dharra membimbing Bintang masuk ke mobil setelah mendapat persetujuan oma. Masuklah mobil merah milik Dharra hadiah dari oma yang digunakan untuk menjemput Aji pulang.
Aji tiba tiba melompat keluar dari mobil yang belum sepenuhnya berhenti itu.
"Tunggu. Mau kamu bawa kemana anakku?" teriak Aji yang langsung mendekati mobil yang Dharra hendak masuki.
"Papa.." teriak Bintang girang melihat papanya sudah kembali dari luar kota.
" Papa papa.. Ayo ikut sama mama" Bintang melompat kedalam gendongan Aji dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Aji.
"Mama?"
"Iya. Kata mama, mama mau tinggal di deket kantor. Bintang mau ikut mama. Papa juga ikut kan?"
"Bintang sayang. Mama tinggal sendirian. Bintang kalo mau sama mama-"
"Mama apaan? Bintang, kamu jangan sembarangan panggil mama sama orang lain. Udah kamu gak boleh kemana mana" Aji segera menurunkan kembali koper berisi pakaian milik Bintang. Membuat Bintang menangis dan berteriak.
"Papaaa... jangan turunin baju Bintang... Bintang mau sama mama ajaaa.... ng..ng..ng.. papa jahat.. papa ga sayang sama Bintang.. papa gak sayang sama mama.. papa gak sayang sama dede Bintang.. ng..ng..ng.."
Dharra langsung meraih Bintang dalam gendongannya. Dia tak keberatan jika perutnya tertekan. Bayinya pun Dharra rasa tak keberatan jika ibunya membujuk kakaknya yang sedang sedih.
"Tolong jangan terlalu keras dengan anakku. Sampaikan secara perlahan-"
"Sejak kapan Bintang adalah anakmu? Lagi pula aku adalah papanya. Kalau kamu mamanya berarti kita.. kita harus..."
__ADS_1
YANG MASIH PUNYA STOK VOTE HARAP VOTE OTHOR YAK😁
HADIAH N KOPINYA DITUNGGU BANGET BIAR SEMANGAT UP NYA NIH💪😤