My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Gempa


__ADS_3

Aji tak kuasa menahan diri, dia langsung melahap keaslian bongkahan itu, dan satu tangannya memilin cherry pada bongkahan lain. Membuat Dharra seketika mengeluarkan suara laknat yang pernah dia hujat.


Aji mendorongnya hingga terlentang di ranjang. Melepaskan kain yang masih menempel padanya secara perlahan.


Roti kotak kotak itu kini terpampang membuat Dharra menelan salivanya, dan pandangannya turun kebawah roti saat bulu halus terlihat merambat dari bawah sana.


Aji memperhatikan arah pandang Dharra dan membuka bagian bawahnya.


"Ini yang akan bikin kamu bahagia sayang" ucapnya serak.


tuing


Benda mirip tongkat yang baru pertama kali Dharra lihat pun sudah menegang kala Aji melepaskan lapisan terakhir. Dharra sontak menutup matanya. Dia yakin jika melihat milik laki laki matanya akan bintitan.


Aji tergelak dan meraih tangan Dharra agar mau membuka dan melihatnya.


"Sayang, jangan malu. Sini liat adek ku" bujuknya. Namun Dharra menggeleng dengan cepat.


"Gak mau. Nanti mataku bintitan" Aji terkekeh dengan pernyataan polos istrinya ini.


"Bintitan itu kalo ngintip. Kalo liat jelas gak akan bintitan kok. Percaya deh" Aji perlahan melepas tangan Dharra yang menutupi matanya. Dan tangan itu terlepas. Namun matanya masih menutup rapat.


"Dasar anak perawan" kekeh Aji. Tanpa banyak bicara lagi, Aji turun ke bagian bawah Dharra dan melim4atnya. Membuat tubuh Dharra menegang dan menggelinjang. Bahasa tubuhnya mengatakan ingin lebih, membuat Aji lebih terpancing lagi untuk segera memasukan bola dalam gawang.


"Kamu siap? Ini akan sedikit sakit. Tapi setelah ini akan terasa enak" bujuk Aji.


Dharra mengangguk cepat. Pancingan Aji berhasil membuatnya tak sabar merasakan kenikmatan dunia yang..


"aaaaahhh... saa..kiit..." Aji berhasil menembusnya. ****.. dia sempit. Aji mengerang kala menembusnya. Belum pernah dia merasakan yang sesempit ini. Bahkan dulu saat dia dijebak mamanya Bintang juga tak sesempit ini. Padahal usia mereka masih SMA saat itu. Aji mendiamkan miliknya dulu didalam sana. Agar Dharra terbiasa dengan kehadirannya. Aji mengecupi mata Dharra yang menitikan setetes air saat penyatuan pertama mereka berhasil tembus. Ciumannya turun ke bongkahan kenyal favoritnya. Melahapnya rakus bergantian. Membuat gelenyar aneh pada tubuh Dharra yang otomatis menggerakkan pinggulnya. Aji yakin kini Dharra siap dengan ronde selanjutnya. Dia mulai memainkan pinggulnya perlahan. Mulutnya menganga kala merasakan kesempitan yang mencengkeram miliknya saangat terasa nikmat.


"Dharra... kamu nikmat sayang.." aji terus menggerakkan pinggulnya dan hampir keluar. Namun dia lepas dahulu agar bisa bermain lebih lama. Ada ekspresi mengecewakan dari Dharra. Aji tersenyum melihat ekspresi itu. Dharra masih menginginkannya.


Aji segera menarik Dharra agar bangun dan duduk.

__ADS_1


Dia memerintahkannya untuk mendudukinya. Dharra menurutinya, dan..


bless


"aahh..." keduanya melenguh. Tanpa aba aba, Dharra menari nari diatas tubuh Aji secara spontan. Aji dengan bebasnya bermain main dengan bongkahan kenyal kesukaannya.


Tarian Dharra semakin cepat dan dan lebih cepat lagi, sesuatu akan keluar dan..


"Ajiii...."


"Dharraa.. aaahh..." keduanya pelepasan bersama. Keduanya terengah. Keduanya terkulai saling berpelukan.


Ini adalah pengalaman pertama Dharra yang luar biasa. Dan ini juga pertama kalinya Aji merasakan yang masih murni. Tanpa pengaman. Jadi terasa lebih nikmat dan puas.


"Terima kasih sayang. Terima kasih sudah menjaga mahkotamu untukku" Aji mengecupi wajah dan bibir Dharra lembut. Setetes cairan bening lolos dari matanya.


"Kamu kenapa?" tanya Dharra yang terkejut melihat air mata Aji turun tiba tiba.


"Maafkan aku jika dulu pernah membuatmu membenciku" ucapnya tulus yang dibalas senyuman Dharra.


"Tapi, kenapa kamu selalu terlihat marah dan menghindariku?" Aji lanjut bertanya.


"Aku anak perawan Ji. Aku malu kalo diperlakukan kek gitu" Dharra mengapit wajah Aji gemas. Aji langsung memeluknya sayang.


"Ya ampun anak perawan. Udah gak perawan lagi sekarang. Gimana dong?" Aji tergelak.


"Masih mau?" posisi mereka masih seperti tadi. Milik Aji masih menancap sempurna. Dharra menggerakkan pinggulnya perlahan membuat Aji kembali mengerang.


"uhh.. kamu nakal"


"MAMAA..." tiba tiba terdengar suara bintang berteriak.


"Gawat, Bintang bangun" Dharra langsung bangkit mencabut batang yang menancap sempurna. Membuat Aji mengerang ingin kembali menanamnya. Dia menyusul di belakang Dharra.

__ADS_1


"Mama kemanaaa...huuu.. dari tadi Bintang panggil panggil gak jawab..huuu" Bintang menangis sesenggukan.


"Sayang, maafin mama ya. Tadi mama sama papa lagi beberes di rumah sebelah. Mau bikin kamar buat Bintang" alasan Dharra memberikan ide buat Aji untuk merenovasi rumah mereka. Dharra pun bukan hanya sekedar asal memberi alasan. Dia memang berniat membuatkan kamar untuk Bintang. Toh sekarang mereka sudah bersama. Apa yang mereka miliki pun milik bersama sekarang, bukan?


"Benarkah? tapi Bintang gak mau pisah rumah sama mama sama papa"


"Ya enggak lah sayang. Nanti, rumah mama sama papa dijadiin satu. Kita buat kamar buat oma juga kalo oma mau main dan menginap disini" jelas Aji.


"Kok kamu mikir gitu juga?" tanya Dharra.


"Kamu juga?" Aji balik bertanya. Lalu mereka tersenyum dan saling berpelukan.


"Iiiih.. mama sama papa gimana sih. Yang harus dipeluk tuh Bintang. Kan Bintang yang nangis" rajuk Bintang membuat Dharra tertawa.


"Iya Bintang gemay. Dah yuk bobo lagi"


"Tapi jangan ditinggal lagi"


"Iya enggak akan. Mama bobo sini disebelah Bintang ya"


"Papa sebelah sini pa"


"Papa sebelah mama aja ya. Badan papa kan gede, nanti Bintang ke pencet gimana?"


"Ya udah. Janji ya, gak ninggalin Bintang lagi"


"Iya, sayang" Dharra mengecup kening Bintang dan berbaring disebelahnya. Aji mematikan lampu kamar dan ikut berbaring disebelah Dharra.


"Lanjutin yang tadi aah" gumam Aji dalam hati. Dia meloloskan miliknya tanpa membuka semua kain penutupnya dan melesakkannya pada milik Dharra dari arah belakang yang juga hanya membuka sedikit jalan.


"enggh" lenguhan keduanya reflek keluar.


"Lain kali jangan pake celana panjang ya. Biar gampang masuk" bisik Aji yang kemudian hanya mendiamkannya tertanam didalam sana. Dia ingin berlama lama menikmati momen seperti ini. Yang biasanya dia hanya melakukannya tanpa ada rasa cinta, dan segera memulangkannya saat matahari masih enggan muncul. Kini dia bisa bebas kapanpun menikmatinya sepuasnya.

__ADS_1


Dharra memejamkan matanya. Tak dipungkiri aktifitas barunya memberi warna pada hidupnya. Dan menambah daftar hobi favorit. Dia sedikit menggerakkan pinggulnya, memancing pergerakan Aji yang juga menuntut rasa lebih. Dharra tersenyum kala mendapati Aji terpancing gerakannya. Tanpa sadar, gerakan itu semakin cepat. Membuat Dharra ingin meloloskan lenguhan yang tertahan. Aji mendengus sambil terus bergerak dibelakang sana. Tangannya menyusup pada bawah kain tempat bongkahan milik Dharra bersemayam. Membuat Aji kembali mengerang dan meledak didalam sana.


"Mama mama.. ada gempa ma"


__ADS_2