My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Sewa Kamar Di Rumah Sakit?


__ADS_3

Dharra tadinya hendak melakukan drama agar bisa membawa oma ke rumah sakit. Sampai dia menemukan beberapa botol ampule obat suntikan di tempat sampah. Dharra penasaran dengan kandungan dalam merek obat itu.


Dharra dibuat shock kala melihat penjelasan dalam ponsel pintarnya. Ternyata itu adalah obat bius.


Dharra menangis sekaligus marah. Dia tak peduli lagi dengan kepura-puraannya.


brak


Dharra membuka pintu kamar itu kasar


"Pak Rakha. Kita harus membawa oma ke rumah sakit" titah Dharra yang kemudian meminta bantuan pak Rudi untuk menggotong oma ke mobil.


"Apa yang kau lakukan? kenapa juga-"


"Oma dibuat lumpuh" Dharra memperlihatkan botol ampul obat yang terdapat dalam tempat sampah.


"Apa kau mengenali ini?"


"Ini...."


"Obat bius"


"Apa?" Aji dan Rudi terkejut bersamaan.


"Apa kau tak pernah memeriksa keadaan nenek anda? orang yang sudah merawat anda dari kecil. Pengganti kedua orang tua anda" geram Dharra pada Aji yang terkesan tak peduli.


"Pak Rudi, tolong bantu saya. Biar saya yang urus oma dan Bintang. Silahkan anda nikmati moment pengantin baru anda bersama Laras" Dharra sudah tak bisa menahannya lagi. Dia benar benar murka dengan keadaan ini. Lebih baik kehilangan suaminya daripada kehilangan Oma dan Bintang.


"Bintang, sayang. Mau tinggal sama mama atau papa?" tanya Dharra lembut pada Bintang. Namun ada yang aneh dengan kata kata Dharra di pikiran Aji.


"Mama?" lirihnya


"Bintang.. Bintang mau sama mama.."


degg


Aji merasa sakit hati kala Bintang memilih Dharra.


"Sama papa juga" lanjut Bintang yang langsung meraih tangan Aji dan menariknya.

__ADS_1


"Kita gak punya waktu lagi. Ayo pak"


Dharra bersiap mengangkat oma yang dibantu pak Rudi. Namun Aji menghalaunya.


"Kamu siapkan pakaian Bintang, oma, dan aku. Biar aku yang bantu pak Rudi" Aji berkata lembut padanya. Ekspresinya murung.


Dharra langsung membereskan dan mengepak pakaian mereka bertiga secara kilat. Dia tak mau lebih lama lagi berada di tempat terkutuk ini.


Aji dan Rudi sudah menempatkan oma di mobil kantor.


Dharra mendekat dengan beberapa koper yang diseret bersamaan.


"Mana kunci mobilnya? Aku sama Bintang pake mobil itu. Kalian duluan, aku ngikutin di belakang"


Aji segera memberikan kunci mobil yang menggantung di lehernya.


Dharra menyambar kunci mobil itu dan langsung menghidupkan mesin.


"Pak Rudi, tolong sampaikan pada istri bapak agar memberitahu Laras kalau saya menemukan mereka dan membawa mereka pulang ke kota M"


"Baik bu"


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aji pada pak Rudi yang juga kebingungan harus menjawab apa.


"Aduuuh, gimana ya pak Rakha. Saya juga bingung jelasinnya. Mending bapak tanya sendiri deh sama bu Dharra. Saya takut salah ngomong"


Aji mendecak kesal karena tidak langsung mendapat jawaban.


Tapi ada sedikit rasa lega karena keluar dari rumah itu.


Tiba di rumah sakit, oma segera dibawa ke ruang IGD terlebih dahulu untuk dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Tak lupa Dharra memberikan keterangan tentang keadaan Aji dan memberikan botol ampul yang dia dapatkan di kamar yang oma tempati. Kebetulan rumah sakit itu adalah rumah sakit yang menangani kasus kecelakaan tang dialami Aji. Jadi mereka mempunyai data histori tentang Aji.


"Baik bu. Kami akan memberikan pernyataan dan keterangan hasil dari pemeriksaan nyonya Sekar agar ibu bisa melaporkan hal ini pada pihak kepolisian"


Dokter dan petugas medis lain mendukung apa yang akan dilakukan Dharra"


"Tunggu" Aji menyela.


"Kamu..ya kamu. Bukankah kamu yang selalu datang ke rumah untuk memberikan obat itu untuk oma?"

__ADS_1


Aji menunjuk salah satu perawat yang berjaga di IGD tersebut.


"Eh.. a a.. bu.. bukan.. bukan saya... sa..saya gak kenal ibu Laras" tukas perawat itu dengan gugupnya mengibaskan kedua tangannya didepan tubuhnya.


"Oh begitu. Baiklah, saya tinggal meminta rekaman cctv di komplek yang kebetulan berada didekat rumah" kali ini pak Rudi yang berbicara.


"Ibu Laras yang memberikan saya uang untuk biaya operasi jantung ayah saya. Tolong jangan hukum saya. Hari ini saya harusnya datang tapi tidak saya lakukan. Karena saya kasihan melihat ibu Sekar yang sudah sangat sepuh. Tolong jangan hukum saya, nanti tak ada yang mengurus ayah saya yang sakit" perawat itu memohon sambil berderai air mata. Akhirnya perawat itu memberikan kesaksian lengkap yang direkam.


Oma akhirnya di rawat secara intens. Tubuh lemah itu kini terlihat lebih segar. Tangan keriputnya tak lepas menggenggam tangan kiri Dharra.


Dharra tersenyum sambil menyuapi oma yang tak pernah melepaskan genggaman dan tatapannya.


Aji memperhatikan interaksi mereka sambil mengupasi kulit jeruk untuk Bintang. Sedangkan pak Rudi sudah pulang dengan Aryo, anaknya. Sekalian membuat laporan pada RT setempat. Selain itu, Rudi bersiap menyambut istrinya yang bisa saja dijadikan sandera untuk mengancam Dharra.


"Bukankah dia nenek ku? Kenapa dekat sekali denganmu?" tanya Aji yang heran karena oma terlihat sangat menyayangi Dharra, yang dia ketahui saat ini bahwa oma baru saja bertemu dengan Lia alias Dharra.


"Itu karena aku bisa melihat hatinya yang tulus, dasar bocah busuk. Kemarilah agar aku bisa memukul kepalamu agar amnesiamu sembuh" ketus oma yang baru bisa membuka suaranya. Aji terlihat mendumel kesal entah karena apa.


"Dharra sayang. Terimakasih karena sudah datang menyelamatkan kami. hik... oma.. oma gak tau bakalan kayak gimana nasib oma sama Bintang kalo kamu gak dateng" tubuh oma bergetar dalam isakannya.


"Dharra? kamu Dharra? bukankah namamu..."


"Dharra Pricilia"


"Dia istrimu yang sebenarnya" tegas oma.


"Instingmu dikemanain bocah busuk, sampe kejebak kalong wewe. Mana nyulik Oma sama Bintang lagi. Tau gak dia itu mau morotin kamu, oma tepatnya. Hanya kalo mau nyairin duit oma harus ada tanda tangan Dharra. Makanya dia gak bisa ngapa ngapain"


oma memukuli Aji yang tengah mendekati Dharra karena kenyataan yang baru dia ketahui namun belum dia ingat.


"Maksud oma?" tanya Dharra tak mengerti kenapa namanya dibawa bawa.


"Oma udah rubah sistem pencairan dan penjualan semua asset oma. Dharra sebagai kuncinya. Jadi kalau ada yang macam macam sama oma, gak bisa seenaknya ngambil aset keluarga besar kita. Termasuk saudara saudara papamu yang serakah itu. Kamu juga, Rakha. Kalau sampe kamu selingkuh, jangan harap namamu masih bertahan di kartu keluarga dan ahli waris oma. Semua sudah oma alihkan pada Dharra. Jadi oma bisa tenang sekarang"


"Kenapa harus Dharra, oma? Dharra gak mau. Tanggung jawabnya berat itu"


"Lihat? ini yang bikin oma yakin kalo istrimu ini bisa dipercaya. Kalo perempuan lain pasti minta sebelum dibagi. Nah ini, udah dikasih malah ditolak"


"Iya, gimana oma aja. Kalau Dharra istriku yang sah, berarti... rumah sakit ini nyewain kamar gak ya?"

__ADS_1


peletakk


__ADS_2