
"Tapi nyonya, kenapa harus ibu Dharra?" tanya salah seorang direktur.
"Jadi menurutmu siapa yang pantas? bahkan cucu kandungku sendiri yang merupakan pewaris terkuat dari segi hubungan darah tidak saya anggap pantas. Apa kalian pikir, jika saya mempercayakan kunci asset perusahaan pada salah satu dari kalian maka kalian akan menjamin tidak akan saling menjatuhkan? cih.. betapa harta bisa memporak poranda kan hubungan keluarga. Beruntunglah cucuku mempunyai usaha yang mapan. Perusahaanku bangkrut pun dia masih bisa bertahan dengan perusahaannya sendiri. Bagaimana dengan kalian?"
Semua orang terdiam. Oma memang benar. Keluarga mereka memang mengandalkan kejayaan dinasti perusahaan yang orang tua oma dirikan. Bahkan anak dan menantu mereka bekerja di perusahaan tanpa bersusah payah melalui serangkaian proses interview dan seleksi karyawan.
Saat mereka berlomba lomba masuk ke perusahaan, cucu kandungnya sendiri malah menjauh dan memilih mendirikan perusahaan sendiri.
Namun hasil usaha cucunya itu menjadi tolok ukur oma dalam memecut para kerabatnya yang berebut kekuasaan.
Ditambah dengan kehadiran Dharra di keluarganya. Oma semakin yakin untuk melepaskan seluruh hartanya pada sang cucu menantu.
Oma lebih baik kehilangan hartanya dibanding kehilangan orang orang tersayangnya karena keserakahan.
"Bawa dia pergi" titah oma pada petugas yang membelanggu Justin.
Justin yang didorong pergi oleh petugas menampilkan senyum smirk nya.
"Rakha, aku serahkan rapat ini untuk kau teruskan. Oma mau istirahat"
Aji pun meneruskan rapat tanpa membahas tentang perekrutan absurd itu. Dia lantas membahas tentang perkembangan dan rencana kedepannya agar perusahaan lebih maju lagi.
Para dewan direksi sebenarnya sangat puas dengan kinerja suami istri tersebut. Mereka merasa perusahaan lebih berwarna dengan ide ide pemasaran yang diberikan sang CEO ditambah dengan ide pemanis dari COO. Mereka lebih bersemangat lagi dalam bekerja bersama sama mengembangkan perusahaan.
Namun kini sikap mereka pada pak Indra sedikitnya berubah karena ulahnya yang lancang membawa orang tak jelas untuk masuk dan bergabung di perusahaan.
Selesai meeting, Dharra ijin pulang duluan pada Aji yang terlihat berat ditinggalkan sendiri di kantor. Dia merengek bak anak kecil yang enggan ditinggal sang mama di hari pertama sekolahnya.
Mario yang berdiri di sebelah sang bos lebay be like 😒
Dharra pulang duluan selain karena masa cutinya belum habis, juga karena dia belum membuat stok asi untuk jagoan mereka.
Aji menghela nafas. Lagi lagi dia harus mengalah pada sang anak.
"Pindahin aja anak anak kesini, sayang"
"Cup. Disini kurang luas untuk ukuran tempat tinggal anak anak, sayang. Coba kamu bayangkan. Kita butuh lemari untuk anak anak. Belum mainan mainan nya. Belum fasilitas lain yang anak anak butuhkan selain kamar dan kamar mandi. Jangan lupa dengan dapur. Berbeda jika kamu yang kerja di ruang kerja di rumah" Dharra panjang lebar memberikan pengertian sambil berkali kali mengecup bibirnya. Posisinya duduk di pangkuan Aji dengan tangan yang dikalungkan ke belakang leher sang suami.
Mario hanya jadi manequin bernyawa yang tegap berdiri membelakangi mereka. Seandainya dia benar benar menjadi manequin, mungkin tak hanya tak melihat, namun juga tak mendengar suara kecupan dan erangan mereka.
"Sialan. Nasib lo, mblo. Gini gini amat" gumam Mario yang beberapa kali menelan ludah saat telinganya menangkap aksi yang bisa membuatnya improvisasi berkelana sendiri.
Aji akhirnya melepaskannya setelah membuat bibir Dharra bengkak. Dia melepaskannya untuk saat ini. Dia akan membuat perhitungan dengannya nanti malam karena Dharra beberapa kali meremat sang monster yang kini menggeliat meminta pertanggung jawabannya.
__ADS_1
Nah kan bangun🤭
Tanggung jawab lo neng😅
*****
Seharian Aji hanya melipat dahi dan mulutnya. Tak banyak yang dia ucapkan. Hanya permintaan kopi dan makanan yang istrinya pesankan.
Ah istri.
Jika mengingatnya, semangat Aji membara. Ingin segera pulang dan membalas perbuatan istrinya yang membuat moodnya ambyar seharian ini.
Sang monster terus saja menggerutu dibawah sana. Resah dan gelisah, gundah gulana.
Aji menjadi tak fokus dalam bekerja. Ingin rasanya ia menyimpan sementara sang monster dalam kotak. Atau kalau saja tadi ia suruh Dharra membawa si monster tak tahu diri ini pulang bersamanya, agar Aji tenang bekerja.
Tak dia sadari, seseorang tak jauh darinya menampilkan senyum puas.
"Rasain lo, bos kamvret. Biar kamu tahu rasanya menahan diri. Enak enakan uwu uwuan didepan orang. Gak tahu apa banyak yang kesiksa gak punya pelampiasan" dumel Mario dalam hati.
"Kamu mengumpatiku?" tanya Aji tiba tiba.
"Ah? eh.. eng.. maaf bos"
Mario segera mengunci mulut dan hatinya rapat rapat.
"Tau aja kalo-"
"EKHEM.."
🤐
🤐
🤐
Waktu berlalu.
Kini tiba waktunya pulang karena jam menunjukkan pukul 5 sore.
"Bos ini belum selesai" sergah Mario yang menyodorkan beberapa file yang belum dipelajari dan di tanda tangani.
__ADS_1
"Maaf, perusahaan tidak membayar jam lembur" tukas Aji dengan enteng menjawab Mario yang tengah bengong dengan kelakuan bos nya.
Bagaimana tidak. Semua berkas yang dia sodorkan harus dikembalikan ke bagian perencanaan untuk di proses besok pagi. Tapi..
Bodo amat.
Waktunya pulang ya pulang. Kebetulan sekali sudah lama Mario tidak nge-gym. Sebagian lemak sudah menumpuk di perut kotak kotaknya yang hampir mirip roti kadet.
Aji segera melangkah keluar dari kantor. Dia ingin segera tiba di tempat ternyaman dalam hidupnya. Yaitu pelukan istrinya. Dia terus berjalan tak menghiraukan sapaan para karyawan yang sedikit membungkukkan badan sambil tersenyum.
Tak jarang mereka sekali waktu mencoba mengambil perhatiannya dengan membuka satu kancing kemejanya. Karena bagian bawah diharuskan memakai celana panjang, maka tak ada cara lain selain meminimkan bagian atas.
Tetap saja sang bos tak bergeming sedikitpun.
Aji bahkan tak mengindahkan panggilan Mario.
Memasuki basement, Aji merasa jengah dengan Mario yang terus memanggil dan mengejarnya.
ciiiit
sreeeet
"Hmmmmmpp...."
brukk
Sebuah mobil van hitam berhenti tepat di depannya dan membekap mulut Aji dengan kain yang sudah diberi obat bius.
Aji pingsan lalu dibawa masuk kedalam van yang kemudian melaju kencang.
Hal itu disaksikan Mario yang tengah terengah mengejar sambil menempelkan ponsel di telinganya.
"Gawat, oma. Bos diculik"
Lalu terdengar tawa menggema diseberang telpon.
"Hahahaha.... omaa oma.. sudah ku katakan jangan main main denganku"
"Apa yang kau lakukan padanya? kemana kau bawa dia?"
"Emmm apa kamu bercanda, wanita tua? ah ya.. kemana hilangnya kekuatanmu? hahaha.... asal kau tau wanita tua, hari ini aku datang bukan untuk perusahaanmu. Tujuan utamaku bukanlah itu. Kau telah menunjukkan kekuatanmu. Hebat, sungguh brilian. Tapi kau juga menunjukkan kelemahanmu. Rakha... dialah kelemahanmu hahaha.... Dan asal kau tahu, aku tak menginginkan hartamu. HAHAHA..."
Tawa megerikan itu terdengar menjauh.
__ADS_1
"DASAR BAJINGAN. KEMANA KAU MEMBAWA CUCUKU? JUSTIN.. JAWAB AKU.."
"Nyonya oma.. tenanglah. Saya akan menjemput anda" Mario menenangkan oma. Takut takut serangan jantung menyerangnya tiba tiba.