My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Tragedi Sop Buntut


__ADS_3

Mereka kembali ke rumah Oma menjelang sore hari. Namun pemandangan yang menyambut mereka adalah keberadaan Aji di teras depan dengan rambut acak acakan dan berjalan mondar mandir. Terlihat gelisah.


Dengan pakaian yang terlihat asal dia pakai, membuat kerutan dalam di dahi Dharra.


"Ya ampun, bajunya aja sampe kebalik gitu" gumam Dharra yang terfokus pada penampilan aneh suaminya yang ternyata memakai kaos dengan posisi terbalik. Bagian dalam di luar, dan bagian depan di belakang.


"Oma, apa Aji memang seperti itu jika traumanya kambuh?" tanya Dharra pada oma memastikan.


"Engga. Kalo traumanya kambuh, Rakha gak akan keluar kamar selama seminggu"


"Trus sekarang kenapa kayak gitu? apa trauma yang kambuh lebih parah?"


"Kayaknya kamu harus cek ke obgyn deh" jawab oma santai sambil membuka pintu mobil yang sudah berhenti. Disusul oleh Bintang yang segera berlari menghambur ke pelukan sang papa.


"Obgyn? Kenapa harus periksa ke bagian obgyn? bukannya ke psikiater ya?" Dharra bertanya pada diri sendiri. Dan tanpa dia sadari Aji sudah berada di samping mobil dan langsung membuka pintu, menariknya keluar lalu memeluknya erat. Dharra terkejut, dan lebih di kejutkan lagi saat mendengar isakan dari Aji yang menyembunyikan kepalanya di leher Dharra.


"Kamu bilang gak akan ninggalin aku. Kamu kemana aja? aku kuatir. Aku gak bisa kalo gak ada kamu. Jangan pergi lagi tanpa sepengetahuanku"


"Ya ampun. Maaf ya sayang. Aku lupa, saking senengnya sama hadiah oma sama Bintang, aku jadi lupa ga ijin dulu sama kamu. cup. maafin yaa" Dharra merangkul leher Aji dengan manja.


"Ayo masuk. Kamu udah makan?"


Aji menggelengkan kepala sebagai jawaban. Kepalanya masih setia menempel di leher Dharra.


"Nungguin kamu" lanjut Aji menjawab.


"Ya udah, yuk. Aku masakin sesuatu. Kamu mau dimasakin apa?"


"Aku mau disuapin sop buntut"


"Yaudah, ayok. Moga moga aja mbok Iyem punya stok buntut.

__ADS_1


Dharra mengapit lengan Aji dan menuntunnya ke dalam rumah. Dan Aji dengan patuh mengikutinya.


"Mbooook... ada buntut ga di kulkas? aku mau bikin sop buntut"


"Waduuuh.. gak ada non. Adanya iga"


"Sayang, sop iga aja ya?"


"Gak mau. Maunya sop buntut" Dharra melihat keanehan dalam air muka Aji. Cara bicaranya pun aneh. Benar benar seperti anak kecil. Kerasukan setan cilik apa ya? batinnya.


"Ya udah, aku ke super market dulu ya"


"Ikuuut..." Dharra benar benar gemas dengan tingkah Aji. Bulu kuduknya seketika berdiri. Merasakan aura mistis di sekelilingnya.


"Yuk, genti baju dulu tapi"


"Enggak, gini aja" tolak Aji yang ingin segera berangkat.


"Ya ampun.. liat kamu pake bajunya gimana coba?"


"Manja amat sih" Dharra menggerutu namun tangannya dengan cekatan membuka kaos Aji dan membalikannya lalu memakaikannya lagi. Sedikit menyisir rambut acak acakannya dengan jari jemari, lalu mengecup keningnya.


"Dah ganteng. Sana main" seru Dharra yang benar benar ingin menyemburkan tawa karena kelakuan suami manjanya.


"Asiiik" Aji bertepuk tangan kegirangan. Dharra terperangah dibuatnya. Dia pikir Aji akan membantahnya.


"Hah... I can't believe this"


Mereka berkendara ke super market terdekat menggunakan mobil baru Dharra. Aji terus saja menggenggam sebelah tangan Dharra yang tidak dipakai memegang kemudi. Untung saja transmisi mobil ini menggunakan sistem 6 percepatan otomatis, sehingga tak perlu repot memindahkan persneleng.


Dharra mendapatkan apa yang suaminya inginkan di supermarket itu, untung saja lokasinya dekat, jadi tak perlu terlalu lama membuang waktu.

__ADS_1


Mereka pun kembali dengan berbagai macam bahan masakan dan camilan yang semuanya Aji yang memilih. Dengan berbagai drama membuat Dharra mau tak mau menuruti kemauannya.


"Ribet amat sih maunya mantan duda yang satu ini" kesal Dharra yang sudah tak bisa dibendung lagi.


Sesampainya di rumah oma, Dharra segera meracik bahan untuk membuat sop buntut.


"Sayang, aku kan maunya sop buntut, kok kayak gitu?" tanya Aji yang melihat bahan mentah buntut sapi yang sudah dipotong di supermarket.


"Ya emang gini" jawab singkat Dharra.


"Buntut kan panjang, yang"


"Buntut yang ini gak tumbuh, soalnya gak dikasih susu hiho" jawab ketus Dharra.


"Trus kenapa yang itu bisa panjang panjang?" tunjuknya pada iga sapi.


"Yang itu dapet ngurut mak erot" jawab asal Dharra.


" Aku mau yang itu aja" lanjut Aji dengan polosnya.


"aaargh...." batin Dharra berteriak. Ingin rasanya dia menggoreskan pisau yang sedang dia pegang pada pergelangan tangannya. Tapi dia kan baru aja dapet hadiah mobil.


fuhh


Dharra menghela nafas panjang.


Relaaax


"Kayaknya soto madura enak deh"


Dah lah

__ADS_1


Dharra melengos meninggalkan buntut dan iga yang saling berpelukan.


"Mbok, terusin ya. Aku pusing. Dari pada makan orang"


__ADS_2