
POV AJI
Asisten sialan, seharusnya dia menikah agar mengerti dan merasakan betapa berharganya saat saat seperti ini.
Baru saja aku ingin menikmati masa masa menjadi orang tua yang sesungguhnya, karena waktu Bintang lahir aku tak merasakan benar benar menjadi seorang orang tua.
Bintang terlahir begitu saja tanpa ada aku yang menyambutnya. Hanya oma yang antusias dengan kehadirannya.
Bahkan saat isteriku meninggal karena pendarahan yang hebat pun aku tak mendampinginya. Aku bahkan tak tahu dia dimakamkan dimana. Entahlah. Rasa benci ini padanya bahkan belum padam meski dia sudah berada di liang lahat.
Dengan berat hati aku berpamitan pada istri tercintaku. Satu satunya alasanku meninggalkan pekerjaan sekaligus hobi dalam merancang sebuah event, dan memilih melanjutkan dinasti keluargaku.
Tak salah jika oma benar benar menyayangi dan mempercayakan seluruh hartanya pada Dharra, istriku. Dia bukan orang yang gila harta.
Dia bahkan mati matian mengembangkan perusahaan yang oma kendalikan terakhir kali.
Dengan malas akupun bertolak meninggalkan keluarga tercinta. Berharap segala urusan segera selesai.
"Bacakan agenda seminggu ini, Mar" Mario terlihat jengah dengan aku dan istriku. Jika saja kami bukanlah bosnya, sudah dia gantung di tiang jemuran. Jika istriku memanggilnya cabelita, maka aku memanggilnya Marimar. š¤¦š»āāļø
Mario pun membacakan agendanya selama seminggu. Aku mendengarkannya dengan seksama.
"Satukan semua jadwal di dua hari ini"
ciiit
Mario mendadak menginjak rem yang mengakibatkanku terpental ke depan. Jika saja aku tak memakai seat belt sudah dipastikan kepalaku terantuk sandaran kursi depan.
"Bikin SIM dapet nembak?" sarkasku sembari memelototkan mata.
"Maaf bos. Kakinya error" alasan macam apa itu?
Kulihat Mario menahan kesal. Cih, suruh siapa jadi asisten. Tapi kalo dia yang jadi bos...
Aku tak berani melanjutkan berandai andai. Aku sedikit kesal padanya karena dia cukup tampan.
Sampai di Hotel Grand A. Mario menelpon perwakilan perusahaan yang sudah meminta memajukan jadwal.
"Di ruangan VVIP 2, bos" Mario memberi informasi sembari menunjukkan jalan.
tok
tok
sreet
__ADS_1
"Silahkan masuk. Anda sudah ditunggu" ucap sang waitress mempersilahkan.
Aku yang melangkah didepan Mario seketika menghentikan langkahku saat mendapati orang yang bernama Andi adalah seorang wanita. Tepatnya salah satu mantanku di SMA dulu. Membuat Mario menabrak punggung lebar ku.
Sialan
Andi. S
Seharusnya kutanyakan apa nama belakangnya itu.
"Halo Rakha, senang bertemu lagi denganmu" wanita itu bangkit dan menjulurkan tangan kanannya dengan anggun. Tapi aku tak menyambutnya. Aku langsung duduk di depannya dengan Mario disebelahku. Aku yang memerintahkannya.
Cih
Gaya seperti itu sudah bisa kutebak arah tujuan akhirnya.
Tak mau berlama lama akupun langsung mengarahkannya langsung pada point utama karena malam semakin larut.
Ada sedikit kekesalan dalam sikap dan ekspresinya. Dan aku tak mau peduli.
Aku segera melangkah keluar setelah semua selesai dibahas. Dan ternyata orang ini tak terburu buru untuk kembali ke kotanya. Itu hanya akal akalannya saja karena mengetahui nama yang tertera dalam MOU adalah namaku.
Di dalam mobil aku tak mengalihkan tatapan tajamku dari kaca spion. Tentu saja menatap si Marimar.
"Ya bos? apa ada yang ketinggalan?"
Dia terlihat gelagapan dan mencoba menstarter mobil dengan gugup.
Aku tetap menatapnya, dan itu semakin membuatnya gelagapan sehingga beberapa kali dia mencoba menstarter mobil yang tak mau menyala seperti mengerti akan kondisinya dan meledeknya.
Bushhhh....
Tiba tiba kepulan asap masuk melalui saluran ventilator.
uhuk
uhuk
uhuk
"Bos.. kebakaran bos... keluar.. keluar..."
uhuk
uhuk
__ADS_1
Dasar kampungan. Mobil mewah saja bisa dibikin kebakaran.
Tak lama kami keluar, aku teringat dengan dokumen yang ada di tas kerjaku, akupun masuk lagi untuk mengambil tas kerjaku yang sempat dihadang si Marimar.
Aku berhasil menyelamatkan tas kerja. Namun ponselku dan ponsel Mario tak bisa diselamatkan. Karena kami sedang mencharger nya di mobil dan ikut terbakar.
Mario menghubungi nomor bengkel yang terdapat dalam kartu nama yang aku berikan menggunakan telpon resepsionis hotel.
Bengkel kawanku yang sangat recomended. Bengkel yang khusus menangani mobil mobil mewah.
Jika aku ingat kebelakang, aku pernah tertarik dengan istrinya yang tangguh yang mengawali pertemuan mereka saat istrinya bekerja sebagai montir di bengkelnya.
Tentu saja saat jiwa playerku masih mendominasi. Untung saja aku segera bertemu dengan Dharra. Jika tidak, aku mungkin sudah menjadi pebinor.
Montir pun datang. DikarenakanĀ limiterĀ arusĀ starterĀ terjadi over load di bawah kondisi tertentu saat prosedur menyalakan mobil, yang dapat berujung menyulut api dan kebakaran.
Hal ini dapat terjadi bila pengemudi mencoba menyalakan mesinnya berkali-kali meski mesinnya enggan menyala, sehingga arus listrik yang sangat tinggi dapat mengakibatkanĀ over heatĀ dariĀ limiterĀ arusĀ starter.Ā Montir itupun menjelaskan, kondisi ini dapat ditemukan pada mesin atau transmisi yang mengalami kerusakan.
Waktu menunjukkan lewat tengah malam kala kejadian. Sedangkan besok pagi pagi sekali jadwal meeting menunggu. Aku tak mungkin membatalkannya. Jarak dari sini ke rumah pun sangatlah jauh. Dan kami tak mendapatkan taxi.
Akhirnya aku memutuskan menyewa kamar di hotel ini untuk malam ini saja. Untung saja dompet...
Hah.. dompet?
Kampret
Sialan
Kenapa dompet aku keluarkan dari celana?
"Bos tinggal ada 1 kamar yang double bed"
"Ambil. Kamu yang bayar"
"What?"
"Dompetku di mobil. Dan kamu telah membakarnya"
Aku langsung mengambil kunci kamar dan melenggang pergi ke kamar sesuai nomor pada kunci.
"Jangan lupa konfirmasi pada perusahaan lain. Lewat E-mail. Oh iya, sekalian kamu kasih kabar pada istriku lewat e-mail pribadinya. Dia pasti khawatir"
Akupun terpaksa memberikan password akun e-mail perusahaan agar si Marimar bisa mengakses akun perusahaan dan memberikan konfirmasi reschedule meeting. Setelah hari ini aku akan mengubahnya kembali.
Pagi pagi sekali kami sudah check out dan JWM adalah tujuan pertamaku.
__ADS_1
DIRGAHAYU INDONESIAKUš²šØ