My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Memeriksakan Aji Ke Bagian Obgyn


__ADS_3

MAAF BARU BISA UP MAN TEMANšŸ¤—


Malam menjelang, Oma sudah melakukan temu janji dengan dokter spesialis kandungan. Perempuan tentunya.


Dharra berangkat ke rumah sakit ditemani Aji yang sedari tadi merengek minta soto madura. Dan nasib si buntut? akhirnya Dharra yang menghabiskannya tanpa menyisakan setetespun untuk Aji.


Sepanjang perjalanan Aji terdiam, sambil fokus melihat jalanan. Kali ini Aji yang menyetir.


"Sayang, tolong berenti di depan" Dharra meminta Aji untuk berhenti di kawasan kuliner.


"Kamu tunggu bentar disini" tanpa sepatah katapun Aji mengangguk namun menampilkan ekspresi dingin.


Dharra kembali dengan semangkuk soto madura yang masih mengepul. Lalu membuka bungkusan nasi yang dipesan bersama soto madura itu.


glek


Aji menelan ludah kala menghirup aroma khas soto madura namun matanya seolah tak peduli. Sesekali mencuri pandang saat Dharra sibuk memasukan nasi pada mangkuk yang sekalian dia beli pada mamang soto. Mengaduknya agar uap panasnya sedikit menghilang, meniupnya sebentar, lalu menyodorkan sendok berisi nasi plus soto itu pada Aji.


"aaaaa......" titah Dharra pada Aji. Tak tega juga dia mendiamkan Aji karena tingkah anehnya. Aji tak jadi makan pada saat di rumah karena keukeuh menginginkan soto madura. Tak seperti biasanya yang tak pernah pilih pilih makanan. Selama Dharra yang menyajikan, Aji pasti memakannya dengan lahap.


Aji mendecak melihat Dharra menyodorkan sendok itu. Namun dia melahapnya juga.


Senyum terbit di bibir keduanya. Aji terus meminta suap demi suap hingga tandas. Lalu Dharra menyodorkan gelas berisi teh panas untuk minumnya.


"Dah kenyang belum? mau apa lagi?" bujuk Dharra yang merasa bersalah karena bersikap terlalu kasar pada Aji yang nota bene sedang tidak baik baik saja.


"Mmmm... cium"


Aha... pertanda sudah kembali normal.


Dharra berdecak lalu tersenyum dan lanjut mengecup bibirnya sekilas.


"Kita lanjut?" tanya Dharra mengajak Aji melanjutkan perjalanan.


"Sekarang?" Aji balik bertanya dan langsung membuka seat belt, lalu membuka kaos dan...


"Kamu mau ngapain?" tanya Dharra terheran.


"Lanjut yang barusan" Aji menjawab polos.


"May gat" Dharra menepuk keningnya, tak percaya kepolosan mantan duda somplak ini.


***


Mereka tiba di rumah sakit lalu langsung menuju bagian obgyn. Dokter yang telah melakukan janjian dengan mereka telah menunggu, sehingga mereka tak perlu antri.


"Maaf sus, atas nama Aji Rakhadiredja" ucap Dharra pada perawat yang bertugas mengabsen pasien.


"Siapa? Aji... maaf nama itu tidak ada dalam daftar, nyonya" jawab sang perawat setelah mencari nama yang dimaksud.


"Apa? tidak ada? tadi oma saya yang janjian. Coba atas nama Dharra Pricilia"


Perawat itu kembali mencari nama dalam daftar dan..

__ADS_1


"Ah ini ada. Dharra Pricilia. Silahkan masuk. Anda sudah ditunggu dokter Sani"


"Terimakasih, sus"


"Aneh, yang sakit kan Aji, kenapa oma malah daftarin nama aku?" Dharra bertanya dalam hati


tok


tok


"Permisi, dok"


"Silahkan duduk, nyonya Dharra"


"Terimakasih. Tapi saya kesini bukan untuk memeriksakan diri saya. Tapi suami saya"


"Maaf, apa saya tidak salah dengar?"


"Iya. Apa oma Sekar tidak memberi tahu anda?"


"Sebelum saya mulai memeriksa. Saya ingin bertanya. Apa suami anda transgender?"


"Apa? trans apa?" Dharra terkejut dengan pertanyaan dokter.


" Dia memiliki trauma dan membuatnya berperilaku aneh, dok. Trans apaan maksud dokter?"


"Baiklah, mohon tenang ya bu. Mari sini duduk lagi. Bapak juga, silahkan duduk. Bisa minta tangannya?" akhirnya sang dokter tak mau berkata lebih jauh lagi. Dia memeriksa denyut di pergelangan tangan Aji dan Dharra secara bergantian.


"Apa?" Aji dan Dharra terkejut bersamaan. Lalu saling beradu pandang.


"Apa bapak dan ibu tidak tahu berada di bagian apa?"


Mereka menggelengkan kepala dengan mulut setengah terbuka.


"Bagian spesialis kandungan. Dan ibu Dharra saat ini tengah mengandung. Untuk lebih pastinya kita lakukan beberapa tes.


"Tung.. tunggu..saya.. ha..mil?"


"Sayang.. kamu.. hamil?"


"Aaaaaaaaaa.... aku bisa hamiil..." Dharra sontak berdiri dibarengi Aji yang juga kegirangan dengan kabar itu. Saling memeluk lalu berjingkrak bersama.


"E eh.. pak, bu.. jangan lompat seperti itu.." sang dokter panik dengan tingkah keduanya.


"Ah iya maaf"


Pada akhirnya Dharra dipariksa lebih lanjut secara detail sehingga bisa diketahui usia kehamilan Dharra yang menginjak minggu ke lima.


Selama perjalanan, sebelah tangan Aji terus mengecupi punggung tangan Dharra dan menaruhnya di depan dadanya.


"Kita punya anak sayang. Aku gak percaya akhirnya benihku tumbuh di perutmu. Kerjasama kita berhasil" ucap Aji dengan mata sedikit berkaca kaca.


"Kamu mau apa, sayang? mumpung kita masih di luar" tanya Aji yang terlihat celingukan di kawasan kuliner.

__ADS_1


"Aku mau goreng babat, di restoran sunda yang di depan itu" jawab Dharra menunjuk salah satu restoran sunda tak jauh dari tempat mereka. Aji menepikan mobilnya.


"Mau dibawa pulang atau makan di sini?"


"Bawa pulang deh. Eh.. makan di sini kali ya biar masih anget. Nanti bawa beberapa aja buat ke rumah"


Mereka akhirnya turun. Lalu memesan beberapa menu yang Dharra inginkan. Namun Aji hanya memesan 1 macam"


Saat pesanan Dharra datang, Dharra meminta Aji agar menyuapinya. Dia tak peduli dengan pandangan orang orang sekitar yang menganggap mereka norak.


"Makanan kamu mana, sayang?" tanya Dharra yang menerima suapan ke lima.


"Bentar lagi datang" Aji menjawab dengan tenang.


Lalu datanglah pesanan Aji.


"Rujak?" Dharra terheran dengan menu yang datang.


"Heem. Ingetin aku akan restoran ini ya. Jadi kalo malem malem mau rujak, bisa kesini"


Air liur tampak hampir menetes dari mulut Aji.


Saat Aji hendak menyuap rujak itu, Dharra mengambil alih sendok dan melahapnya.


"Pedeeees..." Dharra segera mengambil air minum dan meneguknya hingga tandas.


"Masa sih?" Aji menyuap sesendok, dan menggeleng.


"Engga ah. Gak kerasa pedes malah"


Dengan enteng, Aji melahap rujak uleg itu hingga habis. Dan memesan untuk dibawa pulang dengan bumbu terpisah.


Mereka tiba di rumah dengan berbagai bungkusan makanan. Dan memberitahukan kabar membahagiakan itu pada oma yang disambut binar bahagia.


Akhirnya oma mendapat cicit dari benih Aji.


Setelah membersihkan diri, mereka saling berpelukan di ranjang.


Dharra bahkan lupa dengan trauma Aji. Pun dengan Aji. Seolah kejadian kemarin adalah mimpi buruk.


"Sayang?"


"Hmm?"


"Aku lupa nanya sama dokter tadi" ucap Aji yang memejamkan mata, namun tidak tidur.


"Apa?"


"Apa kita bisa inu inu?" tanya Aji yang membuat kening Dharra mengkerut.


"Apa itu?" Dharra menjawab dengan bertanya.


Aji kemudian melancarkan aksinya dengan masuk kedalam selimut, dan turun ke bagian bawah Dharra. Lalu bermain main dibawah sana. Membuat tubuh Dharra bergetar, dan menggigit bibir bawahnya menikmati sensasi candu.

__ADS_1


__ADS_2