My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Bertemu Dengannya


__ADS_3

Aji merasa jengah dengan tingkah Laras yang terus berusaha mengembangkan daging jadinya. Dengan meniup, menggelang, menggesek, dan lain sebagainya.


Namun tetap si daging tak bergeming. Tak ada rasa bersalah pada diri Aji yang tidak bisa melayani kebutuhan 'istri tanda kutip' nya. Justru perasaan puas karena tak bisa memberikan yang wanita itu mau yang dia rasakan.


Sampai saat ini dia memang tidak percaya jika perempuan itu adalah istrinya.


tok


tok


"Ada tamu tuh" ketus Aji yang merasa linu karena batang nya terus diulik Laras.


Aji langsung mendorongnya kala sudah tak tahan dengan ke-linu-annya.


Dia langsung melenggang pergi ke halaman belakang dan menyalakan sebatang rokok. Entahlah, diapun merasa aneh dengan rasa dari rokok yang dihisapnya. Sudah berganti ganti merek rokok, namun rasanya tetap tak sesuai seleranya. Dia lantas membuang rokok yang baru sekali dihisapnya. Lalu membuang sisa batangan yang ada di bungkusnya.


Sepertinya merokok bukanlah kebiasaannya dahulu.


"Sayang, aku mau nganter mama Aryo shoping dulu ya. mmm ... kamu... ada uang gak? aku juga butuh shoping dan ke salon"


"Kamu tahu aku kere dan impotent. Kenapa masih bertahan? kamu bahkan belum memasak untuk anak itu. Kenapa juga kamu harus membawa mereka kalau tak bisa membiayai mereka?" Aji selalu berkata ketus saat Laras mengajaknya berbicara.


"Kamu itu gak tahu diri ya jadi laki laki. Masih untung kamu aku tampung disini. Dan nenek tua sama bocah tengik itu sengaja aku bawa kesini biar ingatan kamu pulih. Tau gini aku juga males nampung kamu yang gak berguna. Mau maunya si Dharra nik-" Laras menggantung ucapannya karena kelepasan. Aji mengernyitkan dahi kala Laras menyebut nama Dharra. Persis seperti yang nenek itu sebut. Tapi Aji tak mau panjang lebar terlibat obrolan dengannya. Dia hanya diam, lalu berbalik membelakanginya.


"Gak masalah kalo kamu gak punya uang. Pokoknya hari ini aku mau healing dulu. Anak itu dibawa Rudi ke day care. Pulangnya sore. Kamu buat apa aja yang ada di rumah buat makan" Laras segera pergi agar tak terlalu jauh membongkar kebohongannya.


Akhirnya mereka pergi. Untungnya mereka tak membawa mobilnya. Dia sangat tak rela jika mobil merah itu dipakai Laras. Jadi dia pura pura menghilangkan kuncinya.


Dia mencari sesuatu di kamar. Setiap sudut lemari dan laci dia geledah.


"Kenapa gak ada? seharusnya dokumen penting itu disimpan di lemari atau laci, bersatu dengan dokumen lain"


Aji melihat koper berwarna silver yang pernah dilihatnya saat pulang dari rumah sakit. Koper yang di gunakan untuk membawa pakaiannya yang hanya beberapa stel. Tapi dia baru tersadar saat tiba di rumah ini, tak sehelai pakaian pun milik seorang pria yang seharusnya adalah miliknya jika dia memanglah suaminya. Sedangkan pakaian yang dia miliki didalam koper bukanlah pakaian sehari hari. Tepatnya pakaian saat melakukan perjalanan jauh.


Aji membongkar isi koper itu. Dia menemukan dua buah buku kecil berwarna hijau dan merah. Dibukanya tertera namanya dan nama Larasati.


Namun ada yang aneh dengan fotonya.

__ADS_1


Foto dirinya yang berukuran 3x4 itu menampilkan ekspresi yang tidak seharusnya ditampilkan dalam pas foto.


Lalu setiap lembar nya tak ada cetakan braile.


Dia kembali merogoh setiap saku yang ada didalam koper itu.


Terdapat dua buku kecil lain dengan warna yang sama namun isinya berbeda.


Pas fotonya layak disebut sebagai pas foto. Lalu saat melihat foto wanita disebelahnya, dia sangat familiar dengan wajah itu.


tin


tin


Suara klakson mobil mengalihkan perhatiannya dari melihat nama wanita yang tertera di buku nikah yang lain.


Namun dia segera mengamankan buku itu agar tak ditemukan Laras si wanita aneh.


Aji segera mengintip ke jendela, namun yang dilihatnya adalah mobil kantor yang biasanya Rudi pakai.


Aji membuka pintu rumah dan hendak menghampiri Rudi dan bertanya ada keperluan apa. Apakah ada barang Bintang yang tertinggal?


Turunnya wanita itu disusul oleh Bintang yang tampak... ceria? Dan keceriaannya menular padanya. Dengan reflek diapun mengulas senyum mengembang yang baru dia tunjukkan sepulang dari rumah sakit. Perasaan saat ini, perasaan yang hangat kala melihat keceriaan si anak dan senyum mengembang wanita itu pada si anak.


Sejurus kemudian langkahnya terhenti kala si wanita membuka kaca matanya dan tersenyum lebar pada Bintang.


Sekelebat bayangan dalam mimpinya seolah muncul saat ini.


Senyum itu


Rambut itu


Suara itu


Dada...


degg

__ADS_1


Seharusnya bagian itu dibungkus lagi agar tak terlihat ukuran aslinya yang bikin kaum adam..


tuing


Miliknya tiba tiba meronta minta dilepaskan.


glek


Keringat dingin mengucur di dahinya. Jika harus dihitung. Semenjak keluar dari rumah sakit, sudah 10 hari dia tidak melakukan pelepasan karena tak terpancing apapun. Namun sekarang...


Kehadirannya mengobrak abrik jiwa dan raga nya.


"Papa..." Bintang berteriak memanggil papanya agar mendekat. Bintang memperhatikan sang papa yang menghentikan langkahnya kala melihat sosok sang mama yang mungkin dilupakannya juga.


Aji melanjutkan langkahnya mendekati mereka. Namun tangannya tiba tiba terserang tremor. Bergetaarrr..😂😂😂


"Papa, kenalin ini temen baru Bintang. Namanya.. ibu peri" Bintang tersenyum lebar. Berharap sang papa ingat dengan sebutan itu.


"H halo, a apa itu nama aslinya?" tanya Aji gugup.


"Tentu saja bukan, pak Rakha. Beliau ini bos sementara saya. Namanya bu Dhar..Lia" pak Rudi hampir keceplosan.


"Halo, pak Rakha. Panggil saja saya Lia" Dharra menegaskan dan mengalihkan perhatian Aji.


Dharra menyodorkan tangan kanannya seraya memperkenalkan diri. Dia tak mau gegabah dengan langsung memberitahunya tentang mereka. Biarlah hati dan Tuhan yang memberitahu.


Aji menyambut uluran tangan Dharra dengan jantung yang berdebar.


Perasaan berdebar ini tidak asing baginya. Seolah berhadapan dengan cinta pertamanya.


Dharra tersenyum memperhatikan ekspresi salah tingkah Aji padanya. Dia tahu Aji tak bisa semudah itu melupakannya.


Dharra sengaja tak memakai torso untuk menutupi bagian depan tubuhnya seperti yang selalu dia lakukan. Hal ini dia lakukan untuk suami tercintanya. Sah toh?


Namun pak Rudi harus kena imbasnya. Selama di dalam mobil terlihat pak Rudi beberapa kali meliriknya melalui kaca spion.


Lalu memberanikan diri bertanya.

__ADS_1


"ekhem.. maaf bu. Hari ini.. ibu tampak lain. Apa ibu berdandan khusus untuk pak Rakha?" tanyanya gugup sambul mengusap keringat di dahi dan melonggarkan dasi yang menjerat lehernya. Terlihat mulutnya komat kamit merapalkan mantra. Mantra pengusir otak mesum.


😂😂😂


__ADS_2