My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Kantin


__ADS_3

"Kenapa diam? kalau cinta kita kuat, kenapa sedikit saja bayanganmu tak pernah mengusik mimpiku?"


"Itu karena kamu sudah tergoda olehnya. Sebelum kecelakaan itu.. dia.. dia...."


"Aku apa?" Dharra memunculkan diri di pintu. Namun tak mau melangkah masuk. Dia takut kehilangan kendali.


"Aku menggodanya dengan cara murahan sehingga dia terlena padaku, begitu maksudmu?


Bukankah itu yang selalu kamu lakukan padanya? Menggodanya dengan cara murahan agar dia mau tidur denganmu dan mengklaim jika kamu mengandung anaknya. Oh.. bukankah itu yang barusan kamu ceritakan padanya dengan menukar posisi kita? sungguh cerita yang menarik. Aku mau cari makan dulu. Kalian selesaikanlah. Keputusanmu terserah padamu" Dharra langsung berbalik dan melangkah menuju lift. Dia ingin memakan sesuatu sebelum memakan mangsanya. Emosinya benar benar harus dialihkan.


Dharra segera memasuki lift. Otaknya memerintahkannya untuk kembali namun hatinya menolak.


Saat angka lift menunjukkan angka 2, lantai tempat kantin karyawan berada, dia segera menyeret kakinya keluar dari lift. Sepertinya berburu makanan karyawan tidak terlalu buruk. Selama ini makanan seperti itulah yang selalu diburunya. Setelah bersama Aji, barulah perut dan lidahnya dimanjakan dengan european dan japanese food yang harganya cukup mahal untuk seseorang sepertinya.


bughh


Tubuh mungil dengan perut buncit itu menabrak seseorang saat baru saja melangkah keluar dari lift. Hampir saja dia tersungkur kebelakang jika tangan kekar itu tak menahannya.


"Kalau mata kaki tak bisa melihat, setidaknya mata hati yang kau pakai. Karena mata kepalamu jelas bisa menipumu" sarkas laki laki yang menangkap tubuhnya.


Dharra benar benar tercengang dengan situasi hari ini. Dia langsung menegakkan tubuh nya yang membulat karena perutnya yang sudah besar.


"Ekhem... terimakasih tuan cabe" Dharra lantas meneruskan langkahnya ke area kantin. Namun lengannya tiba tiba dicekal seseorang dengan nafas tersengal sengal.


"Lepas-" Dharra ucapannya terhenti kala mengetahui yang mencekal lengannya adalah Aji, suaminya.


"Kenapa pergi? apa kamu berniat salah paham? kenapa tak memperjuangkanku?"

__ADS_1


"Aku sedang memperjuangkan anakku" tegas Dharra dengan dingin. Sungguh dia ingin meledak saat itu juga.


"Hei, bung. Bukan begitu cara memperlakukan wanita hamil" sergah lelaki yang tadi bertabrakan dengan Dharra.


"Ah anda masih disini rupanya. Ya, dia benar. Belajarlah memperlakukan wanita hamil dengan berbicara pedas. Itu suatu perilaku yang sangat tepat dan terpuji. Benar tuan cabe?" sarkas Dharra dengan senyum dipaksakan. Lalu melengos pergi ke dalam kantin. Perutnya sudah meronta ronta. Sepertinya makanan pedas bisa meredakan gemuruh perut dan emosinya.


"Sayang- Apa yang tadi kamu katakan pada istriku hingga dia berargumen seperti itu?" tukas Aji dengan rahang mengeras.


"Hey, easy dude. Aku hanya menyuruhnya untuk berhati hati dalam melangkah" ujarnya sambil mengangkat kedua tangan.


Aji menghempaskan tubuh lelaki kekar itu dengan menghentakkan kedua tangannya ke dada bidangnya. Lalu menyusul istrinya ke kantin. "Gara gara wanita sundal sialan. Siang ini rudalku gagal perang" gerutu Aji dalam hati.


"Sayang, apa kau yakin mau makan disini?" tanya Aji yang sudah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan sang istri.


"Tentu saja. Tak ada salahnya mencoba sesuatu yang tak biasa. Mungkin bagimu. Tapi aku sudah biasa. Ha.. nasi padang, udah lama gak madang" Dharra segera memesan nasi rendang plus sambal padang dengan lalapnya.


"Apa kau mau juga?"


Dharra lantas memesan 2 porsi. Tak lupa minumannya. 1 es jeruk, dan 1 lagi jeruk panas.


Aji hanya mengikutinya sambil tersenyum melihat tingkah sang istri yang celingukan dengan perut bulatnya. Namun ekspresinya selalu ceria. Padahal Aji ingat, baru saja ekspresi sang istri dingin sedingin es jeruk. Namun dia yakin sebentar lagi ekpresinya akan sepanas jeruk panas. Menyegarkan...


Para karyawan menyaksikan mereka sembari berbisik bisik. Sebagian tersenyum, sebagian ketakutan karena selama ini sikap Aji sang CEO tak pernah menampakkan senyum pada siapapun. Baru kali ini mereka melihatnya tersenyum hangat. Hanya pada wanita yang sedang menyusuri etalase makanan.


Aji menyeret lembut lengan istri menggemaskannya ke kursi. Pasalnya sudah beberapa menu dia pesan dan masih terlihat ingin memesan beberapa macam lagi. Lalu kapan rudalnya meluncur?


Dharra langsung menyantap nasi padang beserta kawan kawannya dengan lahap. Ekspresi nya membuat perut Aji merasa kenyang, namun bagian bawah perutnya meronta ronta.

__ADS_1


"Kenapa gak dihabiskan makanannya" tanya Dharra yang beberapa kali melirik piring Aji hanya separuh dihabiskannya.


"Aku ingin memakanmu" jawab singkat Aji sambil menyeka sudut mulut Dharra yang belepotan dengan serbet tissue yang tersedia di meja itu.


Perkataan Aji membuat orang orang yang berada dekat dengan mejanya sontak menyemburkan makanan yang baru disuapnya. Namun Aji tetap menatap istri chubby nya yang wajahnya berubah memerah.


"Kau kalo ngomong liat tempat dong" gemas Dharra mencubit punggung tangan Aji, matanya melotot, giginya terkatup, hanya bersuara lirih nan gemas.


"Ahh... sayang.. pelan pelan.." Aji mendesah kala merasakan cubitan Dharra yang tak terlalu sakit itu. Namun ******* ambigu itu kembali membuat orang disekitar mejanya kembali menyemburkan makanan dan minuman mereka.


Dharra langsung bangkit dan menarik tangan Aji untuk segera keluar dari situasi canggung itu. Untung saja makanan mereka sudah dibayar terlebih dahulu, dan makanan Dharra sudah tandas tak bersisa.


"Sayang, pelan pelan. Apa kamu sudah tak sabar memakanku?" Aji tertawa melihat tingkah istrinya yang salah tingkah. Betapa bahagianya menggoda istrinya seperti ini. Toh dia tidak melakukan hal mesum di muka umum. Biarlah seluruh dunia tahu jika dia tergila gila pada istrinya sendiri.


Dharra melepaskan pagutan tangannya dan langsung berlari kecil ke arah lift yang terlihat sudah banyak antrian.


Apa? antrian? bagaimana jika suami mesumnya ini menggodanya dengan kata kata absurd di dalam lift yang penuh?


Saat Dharra terlihat panik menatap kumpulan penunggu pintu lift yang tak kunjung terbuka itu, Aji meraih tangan Dharra dan menariknya lembut.


"Lift khusus direksi sebelah sini, sayang"


lagi lagi perkataannya membuat para penunggu itu mengalihkan perhatiannya ke arah mereka sambil saling sikut dan melempar senyum malu.


Lah, Dharra yang malu ko mereka ikut ikutan malu? emang Aji godain mereka juga ya? heran Dharra.


Tak menunggu lama, lift khusus direksi itu langsung terbuka pintunya. Aji membimbingnya masuk dan menekan tombol tutup. Karena lift itu khusus mereka, jadi mereka tak perlu berhenti disetiap lantai, dan langsung menuju lantai paling atas dimana tempat ruangan mereka berada.

__ADS_1


ting


Pintu lift tertutup. Aji tak menunggu lagi dan langsung memepet tubuh Dharra pada dinding lift, lalu menyergap bibir sensualnya. Dia tak tahan jika tak menyentuh istrinya barang sedetik saja.


__ADS_2