
"Apa yang kamu dengar, sayang?" tanya Aji yang kemudian membawa istrinya ke meja mereka yang sudah disiapkan khusus. Mungkin istrinya ini lelah, pikir Aji.
"Mereka seperti nya membicarakanku" jawab Dharra masih mengerutkan alisnya. Menatap satu persatu meja yang penghuninya tampak membisikan sesuatu pada teman disampingnya sambil melihat padanya.
"Tentu saja mereka membicarakanmu. Kamu pengantin yang paling cantik. Dan mereka pasti iri denganmu" Aji mengecup lembut pipi Dharra sembari menyuapinya buah kiwi kesukaan Dharra.
"Kamu.. kenapa memilih buah ini untukku?" tanya Dharra heran. Padahal letak piring buah kiwi cukup jauh dari jangkauannya.
"emmmm.... karena kamu.. suka?" Aji terlihat tak yakin dengan jawabannya.
"Ini memang buah kesukaan aku" Dharra tersenyum sambil melahap potongan buah yang sudah menancap pada garpu yang Aji pegang.
Aji mengecup bibirnya sekilas karena gemas dengan tingkah Dharra yang selalu mempesona dimatanya.
Dharra terkesiap lalu menutup bibirnya yang dikecup Aji di tempat umum. Kemudian melihat reaksi para tamu yang mungkin banyak yang memperhatikan mereka.
Namun lagi lagi yang dia lihat adalah ekspresi jijik dan benci yang mereka perlihatkan pada Dharra. Namun berubah menjadi manis kala Aji dan oma yang memperhatikan mereka.
cih
"Dasar para penjilat" pikir Dharra.
"Kalian pikir aku gak tahu kalo diantara kalian mungkin ada yang pernah terlibat hubungan ONS dengan suamiku, atau bahkan berharap bersanding dengan Aji di posisiku saat ini. Dasar bermuka dua" gerutu Dharra dalam hati.
Moodnya menjadi ambyar kala mengingat reputasi sang suami sebelumnya.
Dharra meminum jusnya, namun tatapannya tak sengaja mengarah pada salah satu meja di paling pinggir.
Diantara orang orang yang menduduki kursi pada meja berbentuk lingkaran dengan enam buah kursi mengelilinginya, tampak wajah tak asing sedang menatapnya tajam.
Wajah itu, seandainya saat itu adalah siang hari, mungkin wajahnya bisa terlihat jelas. Namun karena hari sudah gelap, ditambah pencahayaan lampu lampu kecil yang temaram, membuat suasana menjadi hangat, tapi tidak bisa membuat mata melihat lebih fokus dan jelas.
Aji menengadahkan tangannya didepan wajah sang istri yang tengah menatap kosong pada satu arah, yang mana saat Aji mengikuti arah pandangannya, dia tak melihat apapun Mungkin istrinya ini merasa bosan karena tidak ada siapapun yang dia kenal hadir di pesta ini.
Salahkan dia yang tak mengetahui masa lalu sang istri. Salahkan dia yang tak bertanya tentang tamu undangan yang ingin istrinya undang.
Dharra terkesiap saat sebelah tangan Aji mengambang didepan mukanya. Memberinya tanda untuk berdansa dengannya. Barulah Dharra tersadar dari lamunannya dan mendengar alunan lagu favoritnya pada masa SMA.
Dia ingat dengan jelas. Dahulu saat masih remaja, dia ingin pernikahannya diiringi lagu ini.
...All I am, ...
...All I'll be...
...Everything in this world...
...All that I'll ever need...
__ADS_1
...Is in your eyes...
...Shining at me...
...When you smile I can feel...
...All my passion unfolding...
...Your hand brushes mine...
...And a thousand sensations...
...Seduce me cause I...
...I do ...
...Cherish you...
...For the rest of my life...
...You don't have to think twice...
...I will love you still...
...From the depths of my soul...
...I've waited so long to say this to you...
...If you're asking do I love you this much...
...... I do......
( I do cherish - 98⁰)
Aji menciumnya mesra saat mereka baru saja menginjak area dansa yang dikhususkan untuk mereka.
Riuh tepuk tangan dan sorak sorai terdengar dari para tamu undangan.
Kekhawatiran Dharra teralihkan. Dharra kemudian tersadar jika semua yang dia rasakan saat ini hanyalah pikiran buruknya semata. Ketidak percayaan dirinya yang membuatnya menjadi negative thinking.
Dharra akhirnya memutuskan untuk menikmati momentnya menjadi ratu sehari, dan ratu seumur hidup Aji, rajanya.
"Ekhem... boleh kah aku meminjam ratu nya?" pinta Fajar menginterupsi kemesraan mereka.
Aji sebenarnya tidak rela jika istri cantiknya berada dipelukan lelaki lain. Namun saat mengingat jika pria sebaya istrinya ini adalah yang menjadi wali sah dari istrinya, mau tak mau dia mengijinkannya. Demi sopan santun.
__ADS_1
Aji berdiri di dekat mereka kala mereka mulai bergerak seirama mengikuti irama lagu.
"Apa kau bahagia bersamanya?" tanya Fajar.
"Apa kau bercanda? Aku bahkan bahagia bersama keluarganya juga. Aku merasa memiliki keluarga yang tak pernah kumiliki" Dharra menjawab dengan pasti.
Saat Fajar tengah menginterogasi Dharra yang dijawab dengan senyum dan tawa yang seharusnya hanya miliknya, seseorang menengadahkan tangan putih berhiaskan cincin dan gelang yang cantik.
"Bolehkah aku berdansa dengan raja sehari?" pinta Cynthia yang terlihat cantik dan elegan dengan gaun light grey nya.
Namun Aji tampak tak berminat padanya.
"Ayolah, anggap saja ini pesta perpisahan kita" Cynthia langsung meraih tangan Aji dang merangkulkannya di pinggangnya. Dan tangannya merangkul leher Aji.
"Aku pikir kamu gak akan bertahan lama dengannya. Tapi sepertinya aku salah" Aji enggan menatapnya. Tatapannya terus mengarah pada istrinya yang masih tertawa manis pada pria lain.
"Aku pikir, kamu akan memilihku. Aku bahkan rela memberikan seluruh harta keluargaku untukmu. Tapi... seandainya kamu bosan padanya, kamu bisa datang padaku"
cup
Cynthia mengecup pipi Aji yang sontak membuatnya terkejut dan menatapnya tajam.
Dia lalu melihat ke arah Dharra, mencari tahu apakah dia melihat aksi wanita bejat ini? Dan ternyata Dharra sedang menatapnya tajam.
Aji menyeringai melihat kecemburuan dimata istrinya.
Lalu Aji sengaja mendekatkan bibirnya di telinga Cynthia dan berkata "In your dream"
Suatu penolakan yang telak, namun terlihat seperti suatu godaan.
Aji menyeringai jahat setelah mengucapkannya. Dan melepaskan rangkulannya sedikit kasar. Jika saja wanita itu sedang tak mengandung, sudah dipastikan akan dia lempar keluar.
Saat Aji hendak mengambil alih sang ratu dari pelukan sang wali, tubuhnya tiba tiba bergetar kala melihat sang wali telah digantikan oleh lelaki lain.
BUGGH....
Aji tak bisa menahannya lagi. Dia langsung memukul Dimas yang tengah menggantikan Fajar untuk berpamitan dan melepasnya.
Dharra memekik dan terkejut sambil menutup mulutnya dengan kesepuluh jari lentiknya kala melihat tubuh Dimas tiba tiba terhempas karena bogeman sang suami.
"Siapa kamu, berani beraninya menyentuh wanitaku?"
Dharra segera menahan lengan Aji yang hendak melayangkan pukulan mautnya.
"Sayang sayang.. sudah cukup.. dia adalah teman lamaku yang hendak kembali pulang. Dia sedang berpamitan padaku" Dharra segera merangkul pinggangnya dan mengecupi rahangnya. Membuat Aji sedikitnya menjadi tenang.
" heh.. aku lega memberikanmu padanya. Memang seperti itulah seharusnya sikap pasangan melindungi pasangannya. Kau pun harus melakukan hal yang sama kala ada wanita lain yang menyentuh suamimu"
__ADS_1