
Aji mulai aktif bekerja lagi, namun bukan di perusahaan oma seperti sebelumnya. Dia tetap memilih menjalankan EO nya seperti yang dia ingat. Namun dia tidak ingat jika pernah menangani event kantor Dharra. Ada yang berbeda dengan sikapnya semenjak malam khilaf itu.
Dia menjadi dingin pada semua wanita yang ada di perusahaannya maupun kolega bisnisnya.
Pasalnya jika dia meladeni godaan para wanita seperti sebelumnya, dia yang akan tersiksa. Karena dia akan mendapat cibiran jika dia sudah tidak mampu. Selain itu dia akan membandingkan wanita yang mendekatinya dengan Dharra. Dan saat dia sadar jika itu bukanlah Dharra, batangnya memanglah mengkerut. Berhari hari dia tak bisa mengeluarkan lahar panasnya. Padahal dia sengaja membayangkan malam khilaf dengan Dharra agar bisa mengeluarkannya secara rutin. Pernah suatu saat dia mencoba berhubungan dengan satu wanita dengan mencoba menutup matanya agar tak melihat sang partner. Dan ajaibnya si monster menggeliat membuat sang wanita takjub dengan keperkasaannya. Tetap saja sang monster mengenali sarangnya yang kemudian monster itu kembali tertidur.
"Oma.. tolong Rakha. Apa yang harus Rakha lakukan? Rakha gak bisa kayak gini terus" Aji meratapi nasibnya dipangkuan oma. Dia duduk bersimpuh di kaki oma.
Oma merasa prihatin dengan cucunya. Meskipun brengsek, dia masih menghargai ikatan pernikahan. Dan sekarang yang dia yakini jika Dharra sudah bersuami dan dia tak mau menjadi duri bahkan merebutnya, meskipun rasa cintanya masih dia simpan dengan baik dihatinya.
Akhirnya oma memutuskan untuk memberitahunya tentang status perkawinan mereka dan kondisi kesehatan Aji yang tengah amnesia. Mengenai saran dokter untuk tak memaksakan ingatannya, biarlah Tuhan yang mengembalikan ingatannya. Setidaknya penuturan oma tentang status mereka bisa mencegah Aji dari sembarangan menyentuh wanita lain meski tak bisa terjadi apa apa.
Ada ketakutan dan dilema dalam diri oma tentang memberitahu kenyataan kehidupan Aji sebelumnya.
Apakah dia bisa menerimanya dengan baik, atau justru menumbuhkan penyakit lain seperti depresi. Satu yang pasti, oma tak akan di cap sebagai pembohong.
"Cucuku sayang. Ada hal yang ingin Oma sampaikan. Tolong jangan dulu menyanggah, biarkan oma menyelesaikan apa yang ingin oma sampaikan. Karena ini adalah kunci jawaban dari kegundahanmu"
Aji menengadahkan kepala memperhatikan oma yang hendak menyampaikan sesuatu. Dia mengangguk lemah.
"Sebenarnya.."
"Maaf nyonya oma, ada tamu" sela mbok Iyem.
"Siapa mbok?"
"Katanya dari Jerman, nyonya"
"Jerman? ngapain dia kesini? bukankah aku sudah memberikan apa yang dia mau?" gumam oma yang masih bisa Aji dengar.
"Siapa oma?"
"Bisa dibilang itu adalah pamanmu. Paman jauh karena dia adalah keponakan dari adik ipar oma. Tapi..."
"Selamat sore, oma Sekar. Masih cantik aja" sapa seorang pria paruh baya yang nyelonong masuk ke ruang tengah.
"Cih. Mau apa lagi kamu Justin?"
"He hei easy old lady. Jangan galak galak dong. Inget umur, oma" tukasnya tanpa menjawab pertanyaan oma
"Halo, siapa ini?" lanjutnya bertanya pada Aji yang sedang duduk bersimpuh memeluk lutut oma dengan sorot mata yang sulit untuk dijelaskan. Membuat Aji mengernyitkan dahi. Dia seperti pernah mengenalnya.
"Rakha, tunggu oma di halaman belakang" titah oma yang tak ingin cucunya ikut campur masalah nya.
"Baik oma" Aji pun bangkit dan melangkah menuju halaman belakang melewati dapur.
"Ah.. Rakha. Nice to meet you again, pretty boy" ( Ah..Rakha. Senang berjumpa denganmu lagi, bocah cantik)
Degg
__ADS_1
Aji menghentikan langkahnya dan berbalik.
Seringai jahat terbit di bibir Justin. Oma tak memperhatikan interaksi keduanya karena telah berlalu ke ruang tamu. Karena ruang tengah adalah ruang keluarga. Dan Justin bukanlah keluarga. Itu pikir oma.
Justin berbalik sambil tertawa nyaring meninggalkan Aji dan kebingungannya.
Aji melangkah gontai ke arah halaman belakang. Pikirannya berkecamuk. Dia terus mengorek ingatannya, dari mana dia pernah mendengar sebutan seperti itu?
ngiiiiiiiiiiiiiiing..........
Telinganya berdengung, kepalanya terasa sakit seperti dihantam puluhan ton karung pasir. Membuatnya terjatuh dan mengerang menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Aaaaaaaarrrrggghhh......"
Serpihan serpihan ingatan masa lalu yang mengerikan tersusun satu per satu
"Pretty boy"
"Pretty boy"
"I got you, pretty boy"
Sebutan itu terus berseliweran dalam ingatannya. Sebutan yang diucapkan oleh seseorang bersuara baritone.
"Tenanglah, ini tidak akan sakit"
"Aaaarggghhh..... sialaaaan... lepaskan akuuuu...."
Bayangan kejadian nahas itu yang membuatnya trauma hingga depresi kembali muncul.
Aji terus mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. Keringat mengucur deras. Pun dengan air mata. Dia lantas tak sadarkan diri dan jatuh ke kolam renang.
Sementara di dalam rumah, Oma tengah mencoba untuk mengacuhkan Justin dengan permintaannya.
"Coba saja kau berani mengungkitnya, aku tak akan tinggal diam. Selama ini aku diam karena menjaga martabat keluargaku"
"Heh, martabat. Martabat yang mana? Apakah dengan membiarkan cucu menantunya selingkuh didepan matamu merupakan martabat? Sekarang aku tanya. Dimana anak itu?"
"Oma..... oh sedang ada tamu. Maaf-"
"Well well, look who we have here... Siapa dia,oma? Cantik. Apa kau mau memberikannya-"
"Tutup mulutmu!"
Oma marah dan menyela perkataan menjijikan Justin pada Dharra.
"Dharra.. masuk dan temui Rakha di halaman belakang" titah oma sambil terus menatap Justin dengan nyalang.
"Tapi oma-"
__ADS_1
"Cepat turuti perintahku" oma mengaum sambil menghentakkan tongkat kayunya.
Dharra yang tak pernah melihat oma marah seperti ini pun hanya bisa mengangguk dan menurutinya untuk mencari suami amnesianya.
"Aku peringatkan, Justin. Sedikit saja kamu mengusik keluargaku, akan aku pastikan kamu menyesal telah terlahir ke dunia ini. Jangan pernah menyentuh keluargaku meski sehelai rambutpun. Atau kamu akan berharap untuk segera mati. Sekarang pergi"
Oma lantas beranjak dari kursi dan masuk ke arah ruang keluarga.
Justin yang ditinggalkan hanya tertawa nyaring lalu pergi.
"AJIIIII......" Dharra berteriak kala melihat seseorang dengan perawakan yang sama dengan suaminya telungkup mengambang di kolam renang yang dalam.
Dharra yang tak bisa berenang ditambah perutnya yang bulat hanya bisa berteriak histeris memanggil suaminya.
Membuat para pekerja di rumah megah itu lari berhamburan kearah halaman belakang.
Lalu seorang pekerja kebun langsung menceburkan dirinya dan menarik tubuh Aji ke pinggir kolam setelah sebelumnya tubuh itu dibaliknya sehingga posisinya menjadi telentang.
Mereka bersama sama menarik tubuh berat sang majikan keatas kolam dan membaringkannya.
Dharra mendekat sambil menepuk nepuk pipinya.
Air mata sudah tak terbendung lagi. Dharra menangis meraung raung memanggil namanya. Kemudian dia ingat tentang praktek pertolongan pertama pada korban tenggelam saat SMA.
Dia menengadahkan kepala Aji lalu menutup hidungnya sembari memberinya nafas buatan. Lalu kedua telapak tangannya ia tautkan untuk menekan dada Aji dengan tubuhnya sebagai beban penopang tangan yang memompanya.
Dharra melakukannya secara berulang kali.
Namun tak ada pergerakan dari tubuh kekar itu.
"BANGUN KAMU BAJINGAN..... KAMU BELUM MEMBERI ANAKMU SEBUAH NAMA... AKU TAK RELA KALAU KAMU PERGI BEGITU SAJA.... HAAAAAAAA...... BANGUUUUUN...." Dharra terus berteriak meraung sembari memukuli dada Aji.
"Aku akan menyusulmu kalau begitu... juga anak kita.. kami akan menyusulmu..." Dharra berkata lirih sambil berbalik merangkak menembus kerumunan.
"Aku akan menyusulmu sayang. Tunggu aku. Tunggu kami..."
Brurrrr
Dharra menceburkan dirinya ke kolam yang dalam itu. Membawa harapan jika mereka akan bertemu lagi. Mereka harus bertemu lagi. Bahkan hingga akhirat. Mereka harus terus bersatu.
Tekanan air itu menghimpit dadanya. Air memenuhi rongga paru parunya. Pandangannya sedikit demi sedikit meredup.
Dharra tersenyum kala sekilas melihat suaminya menghampirinya.
"Kamu datang.... kita akan terus bersama sayang...." batin Dharra bahagia dengan sambutan suaminya yang langsung menariknya kedalam pelukannya.
Gelap pun akhirnya menghampiri.
😰
__ADS_1
😰
😰