
MAAF KALO CERITANYA MUTER MUTER YA. OTHOR CUMA PENGEN NYERITAIN DUA KEPRIBADIAN AJI YANG BERBEDA TAPI TETEP SATU HATI
IKUTIN TERUS CERITANYA YA😉
*****
Aji panik dengan kondisi tubuhnya. Keringatnya mengucur deras. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kecelakaan seperti apa yang dia alami sehingga menyebabkan asetnya tidak mampu berdiri?
Dia frustasi. Ingin menanyakan pada kawannya yang seorang dokter.
"Dokter Ryan? males ah, ngapain nanya kek begituan sama dia. Yang ada malah ngetawain aku" tapi kemudian Aji tersadar jika dia tidak membawa ponsel.
Dia bahkan tidak sadar semenjak dari rumah sakit dia tak pernah memegang bahkan melihat ponsel.
"Sialan" Aji segera bangkit untuk pulang bertepatan dengan datangnya seorang wanita berpenampilan seksi dengan kuku yang di cat cantik menggerayangi pundak kokoh Aji. Aji tak bisa untuk tak tergoda. Dia menyambut rayuan dan ajakan sang wanita.
"Mas mas.. bayar dulu" seru bartender.
Aji mengeluarkan dompet. Namun tak ada isinya. Hanya jejeran kartu berukuran 2,5 inchi x 3,5 inchi.
"Tak masalah" Aji menyodorkan salah satunya sambil tersenyum kearah wanita seksi disebelahnya, mencubit gemas dagunya. Saat hendak mengecupnya
"Maaf mas, kartunya gak bisa dipake" sang bartender mengembalikan kartu itu.
Aji mengambil kartu lain sambil tetap menampilkan senyum manis pada sang wanita.
Lagi lagi kartu itu ditolak. Aji geram dan mengeluarkan kesepuluh kartu yang dimilikinya. Namun nahas, semua kartu itu di blokir oma yang sedang tersenyum puas di rumahnya karena mendapat notifikasi melalui ponselnya.
"Sukurin. Bandel sih jadi anak. Moga moga aja belum sempet nyelup" oma berharap Aji tak sempat kembali pada kebiasaan awalnya melakukan hubungan bebas dengan sembarang wanita yang ditemuinya.
Si wanita seksi itupun mencibir dan pergi meninggalkan Aji yang frustasi.
"Aku mesti gimana?" Aji menyugar kasar rambutnya yang sudah rapi menjadi tak karuan.
"Mas bisa pinjam telfonnya?" Aji meminta tolong pada bartender untuk meminjam telfon agar bisa menghubungi oma. Sumber ATM nya.
"Oma... kenapa kartu Rakha diblokir semua?"
".........."
"Gak sengaja? mana bisa gitu oma... trus Rakha sekarang gimana?"
"..........."
"Kenapa harus telfon Dharra? lagian udah malem oma, gak baik buat ibu hamil.."
__ADS_1
".........."
"I.. iya iya.. Rakha telfon Dharra sekarang. Minta nomernya.."
"............"
"Rakha ga ada ponsel oma sayang, oma cantik..."
"............"
"Iya, Rakha udah catet"
"............"
"Hah? jangan dikunci oma. Nanti Rakha gimana bisa masuk?"
"..........."
"Nginep di mana? halo.. oma... yah malah ditutup"
Aji menatap bartender yang menatapnya sambil bersidekap.
"Ehe.. sekali lagi aja ya mas. Nanti temen saya yang bayarin" Aji menghiba lalu memencet nomor yang terasa tak asing saat men dialnya. Dia menggerutu dengan ulah oma sampai telfon di seberang sana pun diangkat.
"Ha..Halo.. Dharra.. ini.. ini Aji. Aku.. bisa jemput aku di pub S? kartuku diblokir semua sama oma. Aku.. aku ga ada uang buat bayar..t tapi. kalo kamu gak bis-"
"Baik, aku tunggu. Eh... se.. sebaiknya kamu pake taxi, aku bawa mobil.. nanti.. nanti aku numpang dulu di rumah kamu.. boleh kan? oma.. oma ngegembok pagar rumah"
"........"
"Baiklah. Terima kasih"
Aji menutup telfon dan menunggu disana. Ada rasa hangat menjalar di hatinya kala mendengar suara Dharra di telfon. Perasaan yang sama saat dulu sewaktu SMA.
Sampai saat ini, dia masih menyimpan baik baik perasaan itu. Berharap dialah seseorang yang berada di sampingnya sekarang, memiliki kehidupan yang indah bersamanya.
Aji menelungkupkan kepalanya di meja bar. Kepalanya ia miringkan, sehingga terlihat beberapa orang yang berkumpul diujung meja saling melempar rayuan dan candaan.
Sebenarnya bukan ini dunia yang dia inginkan. Batinnya.
Tenggorokannya terasa kering, air dalam gelas berisikan cocktail itu baru diminum seteguk. Namun Aji tak bersemangat untuk kembali meneguknya. Dia ingin air mineral. Tapi di tempat seperti ini mahal harganya bagi seseorang yang tak punya uang sepertinya. Bisa saja dia ambil toh nanti dibayarin Dharra.
Namun jiwa gentle man mendominasi. Tak ada dalam kamus seorang Aji Rakhadiredja dibayari oleh seorang wanita.
"Tapi suaminya nanti salah paham gimana? ah.. pasti juga suaminya yang dateng kesini" tetap saja dia merasa gengsi dibayari seseorang.
__ADS_1
"Hhhh... kenapa hidupku jadi begini..." Aji frustasi dan menghentak hentakan sepatunya.
"Mau minum?" tanya seorang wanita yang menyodorkan botol air mineral dari arah belakangnya.
Suara itu tak asing di telinganya. Suara lembut yang selalu membuat jantungnya berdebar.
Aji menengadahkan kepalanya kala mendengar suara itu. Lalu melirik kearah botol yang digenggam tangan seorang wanita.
Aji menelusuri arah tangan untuk mengetahui pemilik tangan halus nan lembut itu.
"Dharra?" Aji terkejut, lalu langsung memeluknya erat. Seolah telah diselamatkan dari ambang kematian🙄
Dharra tersenyum lalu menepuk nepuk perlahan punggung Aji.
Aji terkejut dengan gerakan refleknya dan langsung melepaskan pelukan nyaman itu.
"ehm.. maaf" Aji lantas celingukan kearah belakang Dharra.
"Suamimu.. mana" tanyanya kemudian sambil mengambil botol air mineral yang disodorkan Dharra. Membuka tutupnya dan meneguknya hingga tandas.
Segarrr...
Itu yang dirasa Aji. Dia masih menunggu jawaban Dharra yang sedang membayari minuman Aji yang harganya tak seberapa baginya.
"Suami? ah maksudmu dia.. dia mmm.. sudah tidur" jawab singkat Dharra.
"Kamu gak masalah pergi tanpa ijinnya?" Aji lanjut bertanya. Dia tak mau menjadi duri dalam rumah tangga seseorang. Karena dia malas mengurusi hal yang sepele baginya namun berdampak besar ujungnya. Dia lebih baik melepaskan apa yang bukan haknya.
"Gak masalah"
"Lalu bagaimana dengan malam ini? apa suamimu akan marah kalau aku menumpang tidur malam ini?"
"Suamiku sangat pemarah dan pencemburu. Dia tak segan membunuh orang yang berani macam macam denganku. Bahkan dia tak segan mencongkel mata laki laki yang menatapku" Aji langsung mengalihkan pandangannya ke arah manapun asal tak menatapnya. Dharra ingin menyemburkan tawa. Lalu melangkah keluar dari pub. Suasana yang sangat tidak sehat bagi wanita hamil.
Langkahnya terhenti kala menyadari Aji tak mengikutinya.
"Apa kau berniat tidur disini? bagaimana caramu membayarnya? apa dengan menjual organ tubuhmu?" sarkas Dharra yang membuat Aji melompat dari kursi dan mengikutinya tanpa melihat padanya. Tentu saja untuk menyelamatkan diri dari amukan suami Dharra. Bagaimana pun dia masih ingin hidup merasakan berkeluarga.
Dharra meminta petugas valet parking untuk membawakan mobilnya. Dia memutuskan mengemudi karena meski hanya seteguk, Aji tetap mengkonsumsi alkoh*ol. Dia tak mau membahayakan jiwanya dan kandungannya.
Dharra duduk di kursi kemudi. Memasang seat belt lalu menyalakan mesin. Namun Aji tetap melihat kelain arah dan tak fokus dengan panggilan Dharra.
Akhirnya Dharra memasangkan seat belt Aji sambil menggerutu.
"Kalo dipanggil nyahut bisa kan? mikir apaan sih? udah tau kalo ini udah malem bla bla bla"
__ADS_1
Aji sontak terkejut lalu memepetkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menahan nafas kala jarak mereka sangat dekat.
Jantungnya berdegup kencang, wajahnya memerah, tak lupa sang rudal yang bangkit bereaksi.