
Dharra terengah engah saat kembali ke kursi. Semua orang bertepuk tangan untuknya. Begitu juga dengan Aji. Dia memberikan air mineral botol padanya.
"Aku gak tahu kamu sehebat itu main permainan itu. Kupikir hanya ide, Ternyata..."
"Hahaha... kamu sepertinya belum tahu aku yang sebenarnya"
"Kurasa pemenangnya sudah pasti.."
"Jangan. Aku jangan dimasukin. Biar mereka aja yang dapet. Masa panitia yang jadi pemenangnya. Kan gak pantes" Dharra kembali menenggak minuman dalam botol itu hingga tandas.
"Rakha, kapan seleseinya sih? aku kan laper" si model merajuk karena sedari tadi tak dihiraukan Aji.
"Bentar aku ambilin makanan dulu ke ruang panitia"
"Ada hubungan apa kamu sama Rakha?" seolah mendapat kesempatan, si model langsung mencecar Dharra.
"Maunya apa?" jawab Dharra santai.
"Awas aja kalo ada hubungan apa apa. Asal kamu tau ya, Rakha itu milik bersama. Jadi kamu gak bisa nge hak dia sembarangan, atau kamu bakalan nyesel" ancamnya.
"Jadi maksud kamu, kamu juga gak boleh nge hak dia kan? ck ck ck... kesian amat. Ga punya stok cowok lain apa?" Dharra tertawa puas sambil melenggang pergi.
__ADS_1
"Iiiih... dasar cewek ganjen, nyebelin..."
"Siapa yang nyebelin? Dharra mana?" Aji datang membawa 3 kotak konsumsi yang berisi kue basah.
"Ga tau ah, sabodo dia mau kemana, emangnya aku pengasuh dia?" sambil menghentakan kakinya kesal. Aji terlihat celingukan mencari keberadaannya.
Lomba berikutnya adalah lomba menari anak anak dan remaja. Lomba terakhir di puncak acara malam ini. Aji dan Dharra duduk di pinggir mengapit sang model yang lebih mepet pada Aji.
"Aduuuuh... mana mules lagi jam segini"
Aji terlihat melirik padanya melalui belakang kepala sang model, lagi lagi si model abal abal itu menghalangi pandangannya.
"Kalo pulang sekarang ga kan diperhatiin orang orang kali yak" Dharra terus saja memegangi perutnya yang mulai bergejolak.
Suara yang tak terdengar namun menimbulkan efek mematikan itupun akhirnya meluncur.
"Mampus, mana bau banget lagi" Dharra bangkit dan langsung lari terbirit birit. Menahan sesuatu yang akan menyusul keluar dari tubuh indahnya.
"Ya ampun bau bangkai dari mana sih? uhuk uhuk" sang model menjapit hidungnya dan mengibaskan tangannya didepan wajahnya. Dia lalu berdiri dan sedikit menjauh. Aji menoleh ke arah kursi Dharra yang sudah tak bertuan. Lalu dia tersenyum miring.
"Dasar. Untung sayang" gumamnya yang kemudian mendapat ide untuk mengunjunginya nanti malam.
__ADS_1
"Jangan kunci pintu belakang" pesan Aji pada Dharra melalui aplikasi hijau bergambar telpon.
Dharra melihat pesan itu dan membuka kuncinya. Namun dia mengunci pintu depan dan mematikan semua lampu.
Acara selesai pukul 12.30 malam. Para anggota panitia sempat mencari keberadaan Dharra, namun Aji menyampaikan jika Dharra pulang duluan karena kurang enak badan. Aji pun pamit untuk mengantarkan sang model pulang. Namun diperjalanan, sang model keukeuh ingin menginap di rumah Aji. Dia mendapat kabar jika seorang wanita menginap dirumahnya, sudah pasti melakukan uye uye dengannya. Tapi Aji memang sudah merubah diri untuk tak lagi murahan pada wanita lain.
"Kasih tau rumahnya gak? kalo enggak aku turunin disini" ancam Aji kala si model bersikukuh tak mau pulang. Akhirnya dia mengalah, daripada harus diturunin di tengah jalan.
Aji pun tiba di rumah pukul setengah dua malam. Terlihat lampu rumah Dharra gelap.
"Moga dia ga ngunci pintu belakang" Aji mencoba peruntungannya mengendap masuk lewat pintu belakang.
"Aman, gadis pintar " Aji lalu berjalan perlahan meraba raba karena ruangan yang sangat gelap.
"Pintu kamarnya kok jauh banget sih" tangannya meraba raba hingga merasakan memegang tubuh seseorang.
"Dharra?" panggilnya lirih, dia tak mau sampai terdengar oleh tetangga. Namun yang dipanggil hanya diam. Tangan Aji meraih ke bagian atas, namun sebelum mencapai wajah, tangannya tergelitik oleh juntaian rambut panjang. Rasa dingin menyeruak, dia mulai panik, bagaimana jika ini adalah...
"krrrrrrr..." suara dengkuran halus terdengar.
"Ya ampun ni anak, tidur sambil jalan" Aji kemudian menggendongnya ke kamar. Untung saja sebelum ke rumah Dharra dia membersihkan diri terlebih dahulu.
__ADS_1
Aji membaringkannya di kasur lalu ikut berbaring dan menyelimuti tubuh keduanya, memeluknya dari belakang dan mulai ikut ke alam mimpi. Aji merasa punya kebiasaan baru sekarang, tidur dengan memeluk Dharra.