My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Dobel Bonus


__ADS_3

"Liat apa kamu?" tanya dingin Dharra. Dia tahu kemana arah mata Aji.


"Ck, bonus dikit, napa"


tung


Dharra menoyor kepala Aji yang otomatis balik lagi ke tempatnya, seraya mengulum senyum.


"Ayok makan" Aji meraih sebelah tangan Dharra dan menuntunnya ke meja sofa yang telah tersedia berbagai makanan kesukaan Dharra waktu sekolah dulu. Mulai makanan berat hingga jajanan pinggir jalan.


"Tau aja kalo lagi laper" Dharra menggosok gosok kedua telapak tangannya, lalu langsung melahap salah satu jenis makanan yang ada. Tanpa ada rasa jaim, dia menghabiskan 1 menu, dan akan mengambil menu lain. Tapi tangannya ditahan Aji.


"Siniin makanan aku iih" Dharra berusaha mengambil bungkusan makanan kesukaannya yang lain.


"Ga boleh. Makan 1 gratis, makan 2 bayar"


"Ck... pemerasan. Berapa? nih aku bayar" Dharra mengeluarkan uang berwarna biru.


"Segitu mampu nya? cih makanan ini mahal tau"


"Ah elah bener bener ya ni duda satu, matre nya gak ketulungan. Meres anak perawan gak kira kira. Nih" Dharra kembali mengeluarkan uang pecahan berwarna biru.


"Nih, uang terakhir buat sampe akhir bulan. Mana siniin. Gimana gak baik coba. Dah aku kasih ongkirnya sekalian"


"Gak mau uang"

__ADS_1


"Lah, trus?"


Aji terlihat menunjuk pada bibir dan memonyongkan bibirnya. Dharra memicing lalu menjapit bibir Aji dan mencium pipi nya.


"Dah, lunas ya. Semua makanan ini punya aku" Dharra lantas merebut bungkusan makanan yang dipegang Aji, yang tengah melongo menyentuh pipi nya. Dia sering mendapat perlakuan lebih lebih dari itu. Namun perlakuan Dharra yang sederhana tadi membuat wajah nya memerah dan jantungnya jedag jedug.


Dharra yang memperhatikan Aji tersenyum sambil menggigit sendok.


"Kenapa? enak ya dicium anak perawan?" Dharra lanjut menertawakan Aji yang menunduk malu.


Mereka pun lanjut menghabiskan makanan yang Aji beli. Mubazir kan kalo gak di habisin.


"Kamu.. emang makan sebanyak ini?"


"Gak takut gendut?"


Dharra menggeleng. "Buktinya aku gak gendut, kan? emang kenapa kalo aku gendut?"


"Ga papa sih. Cuma heran aja. Selama ini aku kenal cewe, pasti mereka sibuk ngomongin berat badan kalo makan banyak dikit. Makanya porsinya seiprit. Sedangkan kamu, kamu gak keliatan hawatir sama sekali"


"Masalah ya? takut ngabisin uang kamu ya?"


"Justru aku seneng. Kamu gak jaim. Jadi semangat kan nafkahinnya" Aji tersenyum malu malu.


"Yeee siapa juga yang mau kamu nafkahin?" Dharra melempar bola tisu.

__ADS_1


"Banyak" jawabnya cuek.


"Tapi aku gak mau" lanjutnya. Ada sedikit kelegaan di hati Dharra.


"Aku maunya nafkahin kamu aja sama anak anak kita" lanjutnya lagi sambil mengunyah makanan.


"Pede amat bawa bawa anak segala"


"Iyalah. Tunggu aja besok pagi. Oma mau bawa penghulu kesini"


"Hah? ih gak mau Aji ih bilang sama oma aku gak mau nikah sekarang sekarang. Sini mana hape nya?"


"Nih, di saku. Ambil aja sendiri. Kayak yang tau nama kontaknya aja"


Dharra menepuk nepuk saku celana Aji. Ketemu. Dia merogoh saku celananya. Tapi tak terasa ada benda pipih. Hanya ada benda panjang dan empuk.


"ahhh..Dharra.. kamu.. harus tanggung jawab"


Dharra bingung, namun saat dia menyadari apa yang ia genggam di dalam saku celana Aji, dia pun terkejut.


"Waaaaaaaaa......" Dharra berteriak menarik tangannya dan menatapnya. Meratapi nasib tangan perawannya.


Aji tergelak dengan tingkahnya. Kejahilannya berhasil mendapatkan dobel bonus.


"Tangan perawanku...."

__ADS_1


__ADS_2