
Enghh... aaargh...
Aji mengerang merasakan sakit di kepalanya. Dia tidak mengingat kejadian yang menimpanya. Sampai saat dia hendak memijat kepalanya, tangannya tertahan di belakang tubuhnya.
Dia dalam keadaan terikat.
Dia berada dalam ruangan yang gelap dan lembab.
Seketika rasa panik menyerangnya. Dia meronta. Berusaha membuka ikatan. Kilatan kilatan masa lalu kembali menghampiri. Keringat bercucuran. Tangisnya hampir pecah kala mengingat kengerian yang pernah dilaluinya dulu bakal terulang.
"Dharra.. Dharra.. tolong aku.." lirihnya disela usahanya melepaskan diri dari jeratan yang mengunci tangannya.
Lalu dia teringat pesan dan senyuman sang istri.
"Sayang, tenangkan dirimu. Tarik nafas... hembuskan... tarik nafas lagi... hembuskan lagi... lakukanlah berulang hingga kamu merasa tenang. Kuatkan dirimu karena kamu yang bisa menolong dirimu sendiri. Jadilah kuat untuk kami. Demi kami. Kamu pasti bisa. Aku yakin itu"
Aji kemudian mencoba menenangkan diri. Dia lantas berusaha untuk duduk dan terus berusaha agar ikatannya melonggar.
Meski tali rami itu melukai tangannya, Aji terus mencoba, sampai dia mendengar suara tawa sepasang manusia mendekati ruangan gelap itu.
Aji langsung kembali ke posisi meringkuknya. Dia akan berpura pura belum sadar agar tahu siapa yang membawanya ke tempat ini dan apa maksudnya.
"Tampaknya mereka terlalu banyak membubuhkan obat bius nya" ucap suara wanita. Namun ada yang aneh dengan suaranya.
"Hei, bangun pretty boy. Aku punya sesuatu untukmu" Justin mengguncangnya dengan sepatunya yang mengkilat.
"aaargh... dimana aku?" Aji berpura pura mengerang dan menggeliat.
"Apa.. apa yang kau lakukan padaku? apa maumu?" tanyanya terkejut melihat penampakan wanita didepannya. Dia bisa melihatnya dengan jelas karena lampu sudah dinyalakan.
Sang wanita memanglah terlihat cantik dan seksi. Kelewat seksi malah. Tapi tampak tidak alami. Selain make up yang tebal, juga wajahnya terlihat aneh.
Bibir tipis, hidung mancung, dagu runcing, pipi merona, mata sayu, tapi yang bisa dia nilai dari keseluruhan hanyalah satu.
KAKU
Ya. Wajah itu terlihat kaku.
"Apa dia salah minum obat?" pikirnya sambil tanpa sadar terus menatapnya.
"Justin, apa kamu lihat? dia menatapku. Apa kamu pikir dia menyukaiku?" tanya sang wanita dengan tingkah centilnya.
"Apa kau berniat menikah dengannya?" tanya Justin menjawab sang wanita.
"Mana mungkin. Aku hanya ingin bersenang senang dengannya saja"
Aji duduk bersila. Sang wanita mendekat dan jongkok didepannya.
__ADS_1
Aji tak peduli jika sang wanita mengekspose pahanya. Aji bahkan tak terpengaruh.
"Halo Rakha. Apa kabar?" suara sang wanita berubah menjadi suara baritone .
Aji membelalak.
"Kau tidak mengenalku?"
"Apa aku harus mengenalmu?"
"Heh.. dari dulu kau tak berubah. Sombong dan arogan. Tapi aku suka. Apa kamu tahu keluarga Richie?"
Aji tak menanggapi.
"Bukankah kamu berteman dengan anak mereka? Kamu bahkan sering main ke rumahnya dan bermain PS seharian. Jika saja oma mu tidak menelpon polisi, mungkin kamu bahkan menginap dirumahku"
degg
"Wilson adalah anak tunggal. Apa kamu... jangan bilang kalau kamu adalah..."
"Aku apa?" tanyanya sambil menahan tawa.
"Kamu anak pembantunya?"
"Ahahahahaha....." wanita aneh itu tertawa nyaring hingga kepalanya menengadah.
bugghh...
Sebelah tangan Aji yang terlepas menghantam rahang sang wanita abal abal.
Justin terkejut dengan pergerakan tiba tiba Aji lalu langsung mendekat.
Namu Aji bangkit dengan cepat dan langsung menghantam Justin dengan telak. Membuatnya tersungkur dan terantuk ujung meja.
Tanpa membuang waktu, Aji segera keluar dari ruangan yang ternyata adalah ruang bawah tanah dari bangunan terbengkalai.
Dia terus mencari jalan keluar dengan menyusuri koridor yang diterangi dengan lampu temaram. Hingga dia melihat pintu yang sedikit terbuka.
"Astaga monyet kon*tol siah..." Marvin berteriak dengan latahnya hendak membuka pintu dari luar bersamaan dengan munculnya Aji dari dalam.
Aji tertegun.
Sejurus kemudian Marvin menarik tangannya menjauh dari pintu yang kemudian ditepis Aji.
"Iiih lagi terancam juga gaosah sok jual mehong deh ma eyke. Kesindang mak, yey mo keluar ga. Ato mo belai belaian sama eyke?"
"Tunjukin jalan keluarnya" titah Aji tegas.
__ADS_1
"Iiiih gemesh deh ma lakik macho-"
"Cepat"
"Ya ampyuun galak amir. Eyke tambah gemesh tau gak. emh" Marvin menyempatkan mencolek dagu Aji.
Marvin berjalan memepet benteng yang memagari bangunan tua itu. Menurut ceritanya, Justin dan Wilson sudah lama melakukan praktik pelecehan dan penjualan organ manusia.
Wilson adalah anak tunggal dari pasangan Robby Richie dan Anna Whales.
Wilson adalah seorang transgender yang kini berganti nama menjadi Wanda.
Sang ayah mengumumkan pada koleganya barang siapa yang mau menikahi anaknya, maka dia akan menjadi pewaris sah dan menguasai harta kekayaan keluarga Richie yang mana adalah pemilik perusahaan bonafit tempat Justin bekerja dan menjabat sebagai Direktur Keuangan terakhir kali.
Tentu saja Justin tergiur. Kekayaan keluarga Richie jauh diatas kekayaan Oma Sekar.
Justin yang seorang biseksual tentu saja ada main dengan Wanda. Itulah sebabnya dia dengan mudah lepas dari jeratan hukum.
Saat Justin mengutarakan niatnya pada Wanda, tanpa dia duga Wanda pun berpikiran sama. Namun dia mengajukan syarat.
"Madam Wanda tuh tergila gila sama yey dari jaman sekolah dulu tau. Yey punya muka kelewat ca em sih. Eyke juga gak tahan kalo liat yey. Tapi tenang aja. Eyke orang yang setia. Eyke lebih takut sama bini yey. Galaknya gak ketulungan. Eyke baru tau kalo bini yey punya dada yang.. BEUUUHH.... awas-"
Marvin tiba tiba berbalik dan memepet tubuh Aji di tembok saat melihat penjaga mendekat.
Mereka kini berhadapan.
"Ahhh..."
Marvin bergerak naik turun menggesekkan miliknya pada tubuh Aji.
Sontak Aji mendorongnya dengan kasar.
"Aaaww...."
"Siapa disana?"
"Tangkap mereka"
"Pak Rakha, lariiii...."
Aji langsung mengambil seribu langkah tanpa banyak berfikir. Dia tak peduli arah. Yang terpenting adalah dia keluar dari benteng dan pergi menjauh.
Aji terus mengerahkan tenaganya. Dia berlari sekencang yang dia bisa.
Namun didepan sana tampak seorang pria mengarahkan senpi padanya.
dsing
__ADS_1