
Dharra meraih salah satu tangan Aji yang merangkul pinggangnya lalu membimbingnya ke arah perut Dharra yang sedikit menonjol.
"Kamu pernah berpesan pada anak kita sebelum kecelakaan, kalau dia harus menjagaku dari para pengganggu. Tapi sepertinya dia lebih memilih menjagamu" Aji terlihat tak kuasa menahan haru nya. Senyumnya mengembang sambil menatap perut Dharra yang ia usap.
"Good job, boy. Jagalah papa dan mama selalu dari para pengganggu ya. Terutama mama dari si Ryan itu. Kalo sampe dia berani lagi..." Aji gemas kala mengingat dokter Ryan yang selalu menarik perhatian Dharra.
"Kamu ingat dokter Ryan?"
"Dokter Ryan? siapa dia? apa yang menangani kandunganmu? kenapa harus laki laki? ki-"
Dharra langsung menjepit bibir Aji yang kelewat cerewet itu dengan telunjuk dan jempolnya.
"Kayaknya saran oma bisa dicoba"
"hah? saran? saran yang mana? kamu belum jawab pertanyaanku sayang. Siapa dokter Ryan? apa dia seling-"
Dharra segera menutup mulut Aji dengan bibirnya. Karena posisi sang monster masih betah berada disarangnya, Dharra mulai beraksi lagi menari nari diatasnya. Aji menenggelamkan kepalanya diantara bongkahan kembar botak nan kenyal itu.
"aahh... sayang... gak peduli seberapa lama atau seberapa sering aku amnesia, aku tetap menginginkanmu"
Aji merubah posisi mereka perlahan. Membuat Dharra membungkuk didepannya. Saat sedang memacunya, tampak bayangan mereka di cermin yang ukurannya tak terlalu besar. Hanya cukup untuk 1 orang. Namun tetap gerakannya seolah menonton tayangan biru...
Sekelebat bayangan percintaan mereka disaksikan oleh cermin menghampiri.
Aji reflek menghentikan pacuannya karena kepalanya yang terasa sedikit nyutnyutan.
"Sayang....hhh.... terusin.. aku mau...ahhhh"
Aji tersadar dengan lenguhan sang istri lalu segera memacunya lebih kencang hingga Dharra kembali meledak. Namun Aji masih bertahan.
Aji meraih handuk lalu membungkuskannya pada Dharra agar tak kedinginan dan menggendongnya ke kamar.
Dharra terheran dengan sikap Aji. Biasanya dia selalu menuntaskan meski sudah keluar dua kali.
"Sayang.. kenapa udahan? kamu gimana?"
__ADS_1
"Siapa bilang udahan?"
Aji lantas merebahkan Dharra di ranjang dan memacunya kembali.
"Sayang... bangun..."
Suara lembut itu kembali terdengar. Aji mengerjapkan mata, memastikan pendengarannya jika itu memang mimpi yang sama yang selama ini menemaninya.
Aji membalikan tobuh polosnya. Lalu mendapati sang istri sedang membangunkannya.
"Sayang... bangun... ayo ke rumah sakit, oma kasian sendirian"
Aji terdiam menatap sang istri yang sudah siap dengan pakaian santainya. Mereka memang berencana untuk kembali menemani oma di rumah sakit meski oma melarang mereka. Namun Dharra bersikeras ingin menemaninya dengan alasan banyak setan di rumah sakit. Tentu saja oma berdecak kesal karena cara Dharra memperlakukannya seperti anak kecil.
Sementara oma di rawat, Bintang tinggal di rumah pak Rudi. Syukurlah orang baik selalu berada disekelilingnya.
Bukannya segera bangkit, Aji malah menarik dan mendekap Dharra dalam kungkungannya.
"Terima kasih, sayang" Aji berkata lirih di telinga Dharra lalu mengecup kepala sampingnya.
"Kenapa?" tanya Dharra yang sedikit khawatir.
"Maksudmu?"
"Suaramu.. aku selalu mendengarmu membangunkanku setiap pagi. Membuatku merindukan sosok yang tak kulihat saat pertama kali membuka mata.
"Kamu.. mendengar suaraku?"
"he em... aku bersyukur bisa bertemu lagi sama kamu" tak disangka setetes cairan lolos dari sudut mata Aji.
Dharra lalu mengecup bibir Aji sekilas, lalu bangkit dan menepuk bokong polos Aji.
"Mandi sana. Bau" kelakar Dharra yang membuat Aji tertawa karena kejahilannya.
Saat tiba di rumah sakit, oma ternyata sudah bersiap dengan pakaian santai. Oma sudah diperbolehkan untuk pulang.
__ADS_1
Namun yang lebih mengejutkan adalah, diam diam oma membeli sebuah apartemen di kawasan kota, yang jaraknya tak terlalu jauh dari kantor Dharra.
"Oma serius beli apartemen?"
"Ya habis oma sama Bintang harus tinggal dimana? Daripada sewa kamar hotel lagi kan sayang uangnya. Udah gak papa, itung itung investasi" ucap oma dengan santainya.
"Ya ampun nini nini kalo dikasih mainan hape ya gini. Mainannya bukan game online, tapi beli properti. Kita kan cuma 2 minggu lagi disini oma. Masa oma hambur hamburin uang sih?" Dharra masih tak rela oma menghamburkan uangnya sendiri.
"Ya ampun, ni cucu mantu oma pelit juga ya. Oma mau beli 1 gedung apartemennya juga gak akan bangkrut, Dharra sayang"
"Bukan gitu"
"Trus kamu maunya oma sama Bintang jadi penonton ke uwuan kalian, gitu? mana punya cucu suka ga tau tempat lagi. Main sosor aja"
"Ya enggak gitu juga, oma"
"Udaah, mulai sekarang kamu belajar berinvestasi. Mungkin cuma ditempati 2 minggu, selanjutnya kamu bisa sewakan atau mau kamu jual lagi juga terserah kamu"
"Kok terserah Dharra sih, oma?"
"Ya terserah kamu. Orang oma beli atas nama kamu. Udah buruan, oma nanti pingsan lagi nih. Oma cape, pengen bobo nyaman"
"Ya ampun oma. Main beliin aja-"
"Kamu tuh ya sayang, kalo mantu lain pasti ngerengek minta dibeliin apartemen mewah, nah kamu harusnya bersyukur. Kalopun minta pesawat jet juga oma pasti beliin" Aji mengompori.
"Pesawat jet? berapa harganya? kayaknya perlu tuh biar cepet dari sini ke-"
"Oma oma udah cukup, ga ada pesawat ya oma. Lagian gak ada buat landasannya"
"Iya, jangan pesawat jet oma. Helikopter aja yang landasannya gak perlu panjang"
"Wah. Ide bagus tuh"
"Adududududuh...." Aji meringis kala Dharra mencubit pinggangnya gemas.
__ADS_1
Dharra kesal karena Aji malah mengompori oma untuk terus membeli hal yang tidak mereka butuhkan. Suatu penghamburan.
AYOK SIAPA YANG MAU DIBELIIN PESAWAT TEMPUR SAMA OMA😎