My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Resign?


__ADS_3

Fajar menyingsing, ayam milik tetangga mulai menggeliat mengepakkan sayapnya dan berkokok. Mengusik para pekerja dan pelajar yang berlomba mengisi ruas jalan.


Hari ini hari senin, jika saja Dharra mengajukan cuti menikah mungkin dia masih bisa beristirahat hari ini. Karena kelakuan suami koplak nya yang ingin segera menghalalkannya, sehingga dia tak sempat menghubungi pihak kantor dan bawahannya tentang status baru nya.


"Ya ampun, badanku remuk" Dharra menggeliat. Merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Semalaman Aji menyiksanya habis habisan. Tak cukup membuat gempa di kamar, dia menariknya ke ruang tengah dan melanjutkannya. Lalu kembali ke rumah Aji dan menjelajahi rumahnya. Kini mahluk buas itu terkapar di kamarnya sendiri. Lemes bestie🤭


Dharra segera bangkit dan memasak air untuk dirinya mandi air hangat. Dia belum sempat memasang pemanas air karena kesibukannya. Untunglah mereka kini merencanakan merenovasi dua rumah mereka menjadi satu, dan Dharra merencanakan memasang bath tube juga pemanas air agar bisa merendam tubuhnya yang remuk. Sudah terbayang kedepannya badannya akan selalu remuk seperti ini karena keganasan mantan duda koplak itu.


"Untung sayang" gumamnya sambil meracik bahan untuk membuat sarapan mereka bertiga.


cup


Aji memeluknya dari belakang dan mengecup pipinya.


"Pagi mantan perawanku"


"Ya ampun, kaget tau"


cup


Dharra membalas mencium pipi Aji


"Pagi juga tetangga mesumku" kekehnya kala mengingat umpatannya waktu pertama kali pindah dan disuguhkan suara laknat yang kini ia suarakan.


"Kok tetangga mesum? kamu ngumpat-in aku kek gitu?"


"heem. Tetangga mesum, setan cabul" Dharra tergelak yang langsung diserang Aji dengan meremas bongkahan kembar. Namun malah berbalik efeknya padanya.


"Gak, gak lagi lagi ya.. aku mo ke kantor, Bintang bentar lagi bangun. Kamu... jauh jauh dari aku.."

__ADS_1


Aji tak mengindahkan peringatan Dharra, dia terus melangkah mendekati Dharra yang bergerak mundur. Seringai tipis Aji semakin melebar. Monster buas itu kembali bangkit dan menerkam mangsanya. Namun Dharra bisa menghindar sambil memekik, dia memutari meja makan dan lari ke ruang tamu.


"Aji.. jangan sekarang ih, aku udah gak ada tenaga.. stop... jaga jarak.. patuhi protokol kesehatan... " Dharra terus mengoceh sambil terus menghindari terkaman si buas.


"Mama.. papa.. ngapain kejar kejaran di dalem rumah? hoaem..."


Untung saja Bintang bangun, mahluk buas itu terpaksa masuk kandang lagi.


"Sayangnya mama udah bangun? mau mandi dulu atau makan dulu?" tanya Dharra mengalihkan pertanyaan Bintang.


"Mau mandi dulu aja. Mama, mau su*su juga ya sarapannya" pinta Bintang yang masih lemas bangun tidur.


"Iya sayang, nanti mama bikinin su*su buat sarapan juga"


cup


"Papa juga mau su*su, mama" intonasinya Aji yang nyeleneh membuat Dharra melayangkan cubitan maut di pinggangnya, membuat Aji mengaduh kesakitan.


Rutinitas baru mereka dimulai hari ini. Mereka bertiga yang keluar dari rumah yang sama secara bersamaan, membuat jiwa kepo Yuli meronta ronta.


Sedari subuh dia hanya menyapu dan mengepel di balik jendela dan teras depan saja sambil memperhatikan aktifitas di dalam rumah Dharra. Suara gelak tawa pria dan wanita sesekali terdengar dari dalam sana. Selain itu kacung Yuli yang tinggal disebelah rumah Dharra pun melaporkan hal yang sama semalam.


Pasangan baru itupun akhirnya keluar dari rumah Dharra. Aji melipir ke garasi rumahnya untuk mengeluarkan mobilnya dan mereka pun berangkat dengan tujuan pertama adalah sekolah Bintang lalu ke kantor Dharra.


Di parkiran kantor Dharra, Aji terlihat enggan melepas Dharra.


"Hari ini ijin aja ya ya ya... aku masih pengen habisin waktu sama kamu" bujuknya sambil merajuk.


"Sayang, seandainya ini adalah perusahaankupun aku gak bisa seenaknya kan? Lagian kamu juga punya tanggung jawab. Inget, bentar lagi event nya loh. Banyak yang harus kamu siapin kan?" Dharra mencoba memberi pengertian. Meski sebenarnya dia juga masih ingin berduaan.

__ADS_1


"Mmm... gimana kalo makan siang aku jemput? kamu mau makan apa?" Aji mencoba cara lain.


"Makan siang? boleh. Apa aja boleh. Udah ya, aku harus morbrief. muach" Dharra mengecup bibir Aji melalui jendela yang dibuka lebar.


"Nanti siang aku jemput" teriak Aji yang wajahnya sudah memerah karena perlakuan inisiatif istrinya.


"Hai ganteng. Bye ganteng. muach" Marvin datang dari arah belakang dan meraih dagu kasar Aji yang ditumbuhi bulu halus, lalu melakukan ciuman jarak jauh seraya mengedipkan sebelah matanya.


Seketika Aji membatu, wajahnya pias, lalu segera pergi dari sana dengan keringat mengucur deras. Betapa trauma itu sangat mempengaruhinya hingga kini.


"Aku harus bilang sama Dharra biar mecat itu orang. Kalo enggak, bisa mati aku diginiin terus"


Jam makan siang tiba. Aji sudah menghubungi Dharra agar segera turun dan ke parkiran. Meski Dharra menyuruhnya agar menunggu di atas agar lebih nyaman, namun Aji menolaknya mentah mentah. Tak mau bertemu manusia jadi jadian tentunya.


"Hai sayang, cup. Maaf ya aku tadi ngasih pengarahan dulu, biar abis makan siang bisa langsung ninjau lokasi event. Jadi gak perlu balik lagi ke kantor" Dharra tak tahu inisiatifnya mencium pipi Aji membuatnya meremang. Padahal dia sering kecap kecup dengan banyak wanita sebelum bertemu lagi dengan Dharra. Tapi jika Dharra yang memperlakukannya seperti itu, jantungnya selalu seperti mau lompat lompat kegirangan dan berteriak. Padahal mereka sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar kecap kecup.


"Gak perlu balik lagi ke kantor?"šŸ’”otak mesum Aji seketika bekerja.


"ehehehe..."


"Kamu kenapa? sumringah amat?" tanya Dharra heran dengan seringai lebar Aji.


"Engga. Seneng aja bisa kerja bareng. Aku jadi mau pertimbangin permintaan oma buat nerusin perusahaan keluarga. Selama ini aku protes sama mereka karena maksa aku buat nikahin mamanya Bintang. Padahal kan bukan salah aku. Bukan aku yang ngejebak. Kenapa juga aku harus tanggung jawab? Jadi aku gak mau nerusin perusahaan. Sampai mereka meninggal. Sepeninggal mereka aku tetap tak mau mengurus perusahaan. Dan sampai sekarang, perusahaan di jalankan oma melalui sambungan online. Tapi sekarang udah ada kamu, gimana kalo setelah kontrak kamu selesai kamu kerja bareng aku aja ngelola perusahaan keluarga. Kamu masih kerja juga kan? pasti kamu juga nolak kalo aku suruh berenti kerja dan jadi istri yang baik nunggu suaminya pulang. Iya kan?" jelas Aji panjang lebar.


"Pinteeeer anaknya mertuaku" gemas Dharra mencubit kedua pipi Aji.


"Kalo perlu, kamu resign aja sehabis event. Biar oma tenang. Kesian kan oma udah sepuh" Aji memelas. Namun ada sesuatu yang mengganjal pikiran Dharra kala Aji mengutarakan maksudnya.


Entah lah, Dharra berpikir sesuatu yang berbau kemesuman. Ya, pasti itu.

__ADS_1


__ADS_2