
Mario berhasil membujuk bosnya untuk memindahkan pekerjaan kantor ke rumahnya. Pasalnya sang bis merajuk mengajukan cuti hingga Dharra menghabiskan masa cutinya. Dan siapa yang menangani perusahaan? Tentu saja Mario dijadikan tumbal.
Namun bukan lulusan luar negri jika tak bisa berfikir cepat. Mario mengajukan syarat untuk kenaikan jabatan.
Aji bertambah geram saat syarat yang Mario ajukan adalah posisi sebagai Direktur utama, atau CEO menggantikan dirinya. Dia punya kualifikasi yang patut dipertimbangkan oleh dewan direksi.
Aji benar benar kalah telak kala berargumen dengan bawahannya. Baru kali ini si marimar membangkang.
Heh, tidak semudah itu Fulgoso.
Mario akhirnya bernafas lega kala ancamannya berhasil mempengaruhi keputusan bos nya.
Sebenarnya Mario bukan tipe orang yang ambisius. Dia kuliah di luar negripun karena beasiswa. Bisa bekerja di perusahaan besar dan mendapat kepercayaan sudah sangat ia syukuri. Mengingat banyaknya hutang yang harus dia lunasi karena ulah ayahnya yang mana adalah seorang penjudi.
Saat ayahnya meninggal, para rentenir bermunculan mengobrak abrik rumah mereka, mengambil surat surat berharga, menyita motor kesayangannya yang ia gunakan untuk bekerja sebagai seorang cleaning service.
Namun saat dia bergabung di perusahaan Aji. Dia hanya bersyukur dipertemukan dengan orang sebaik nya juga keluarganya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabdi pada mereka karena telah mengeluarkannya dari kesulitan ekonomi.
Dharra senang karena suaminya tak mengabaikan tanggung jawabnya terhadap perusahaan saat dia memutuskan untuk menikmati dan membantu Dharra dalam mengurus dan merawat baby El.
Dharra takjub kala Aji ingin direpotkan olehnya kala dia tengah melakukan pekerjaan lain. Dalam artian, semua pekerjaan rumah yang tak ter-handle Dharra, Aji yang menyelesaikan.
Padahal mereka mempekerjakan 2 orang ART. Tepatnya sepasang suami istri paruh baya yang sudah tak mempunyai anak, karena anak anak mereka meninggal beberapa tahun yang lalu karena suatu insiden mengerikan. Dan sang suami telah di vasektomi.
Dharra telah menidurkan jagoannya dan sang putri.
Hari ini adalah hari yang ditunggu. Pasalnya Dharra telah selesai masa nifasnya. Dia melebihkan waktu 3 hari, berjaga jaga jika belum benar benar bersih.
Dharra bersiap dengan pakaian perangnya.
Dharra perlahan mendekati ruang kerja suaminya. Sedikit menempelkan telinga pada daun pintu yang tertutup itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Namun sang suami belum kunjung menyelesaikan pekerjaannya juga.
Inilah saat baginya untuk mengingatkan sang suami untuk menyimpan pekerjaannya untuk besok. Karena tubuh juga perlu diistirahatkan.
ekhem
Dharra mendehem untuk memperlancar jalur tenggorokan lalu merapikan rambut dan pakaian minimnya. Sedikit membetulkan posisi kembarannya dan perlahan memutar kenop pintu.
"Iya sayang, udah dulu ya udah malem ini..."
Dharra menghentikan gerakannya yang hendak membuka lebar daun pintu itu. Dia kembali berdiri membelakangi pintu agar bisa mendengar percakapan suaminya dengan seseorang di seberang telpon.
"Besok aku bisa kesana karena Dharra ada acara keluar... Iya tenang aja, aku pasti dateng... hmm.. apa sih yang enggak buat kamu sayang... oke..bye.. see you tomorrow"
__ADS_1
degg
Dharra terhenyak kala mendengar percakapan lanjut suaminya.
Tidak mungkin jika lawan bicaranya seorang laki laki kan? Dia masih trauma dengan hal semacam itu. Berarti...
Dharra geram dan langsung masuk kembali ke kamarnya. Membuka lemari dan mengambil beberapa helai kaos T-shirt dan jaket tebal. Kemudian dia kenakan semua pakaian yang ia ambil dari lemari. Lalu dia juga mengambil beberapa celana training dan kembali ia kenakan.
Kini penampilannya seperti buntelan kain berjalan. Dia tak peduli. Tubuh seksinya hanya untuk suaminya, bukan untuk penghianat.
Dharra segera merebahkan tubuh bulatnya dan memiringkan tubuhnya membelakangi area suaminya.
Dia mati matian memejamkan mata sembari mengeratkan gigi menahan amarah.
Kali ini dia tak mungkin salah paham.
Enak aja, sebulan terakhir ini apa yang tidak dia lakukan demi menyenangkannya. Tapi ternyata dia masih mencari pelampiasan diluaran sana.
Dharra merasa jijik kala membayangkan jika sang suami celup sana celup sini, lalu dia yang dapat kotoran dimulut.
hoek
Dharra merasa ingin muntah kala membayangkan mengulum batang yang telah dicelup terlebih dahulu pada wanita lain.
Dharra menahan air matanya agar tak turun dengan sekuat tenaga. Dia tak mau membuang air mata berharganya demi orang yang telah menyia nyiakannya.
Karena lampu sudah dia matikan terlebih dahulu, Aji tak bisa melihat ekspresinya saat ini.
Aji tak menyalakan lampu karena takut membuat tidur Dharra terusik karena sinar lampu.
Langkahnya terhenti kala dia menginjak sesuatu.
Aji meraihnya,dirasakannya bahwa itu adalah kain tipis berbahan satin yang terongok di lantai.
Aji menipiskan bibirnya.
Dia yakin jika istrinya kini tengah polos di dalam selimut.
Dia menghitung hari, dan dia mengetahui jika hari ini adalah hari ke tiga istrinya telah bersih dari nifas.
Aji pun perlahan membuka helai demi helai miliknya.
Dengan langkah dan gerakan mengendap, dia menyelusup ke balik selimut.
__ADS_1
Namun bukan tubuh polos istrinya yang dia dapati.
"Guling? sejak kapan ada guling di kamar ini?" gumamnya.
Dia meraba raba guling di depannya karena pencahayaan kamar cukup gelap.
Namun dia meyakini jika ini adalah tubuh wanita, karena dia baru saja meremas gundukan.
Tapi siapa? Dharra tak mungkin segendut ini pikirnya. Meski ukuran dada nya terbilang maksimal. Namun tubuhnya cukup ramping.
Dia tak mau berspekulasi.
Dia meraih tombol lampu meja nakas disamping tempat tidurnya dan menyalakannya.
Benar dugaannya. Itu adalah seorang wanita. Karena posisinya membelakanginya, dan hanya rambutnya saja yang terlihat dia mencoba membalikannya. Namun tubuh itu menolaknya.
Aji segera meraih celana piyamanya dan kembali mengenakannya.
Dia tak mau salah menggauli jika ternyata orang ini salah kamar, dan dia dipergoki Dharra.
Akhirnya dia melangkah memutar ke sebrang tempat tidur untuk melihat wajah yang tengah berbaring di ranjang cintanya.
Aji pun menekan tombol lampu di meja nakas sebelahnya agar dapat melihat dengan jelas wajah sang empunya.
"Sayang? kamu... kamu baik baik aja kan? kamu sakit? kenapa pakai pakaian tebal seperti ini?"
Aji terkejut karena yang dia kira adalah orang lain yang salah kamar, ternyata itu istrinya sendiri dengan penampilan yang out of the box.
Dharra tetap memejamkan matanya sembari merapatkan mulutnya.
Dia tak mau tersihir karena melihatnya. Dia tak mau terbujuk karena membuka mulutnya.
Aji mengecupi wajahnya, namu tetap tak ada pergerakan.
"Sayang... pasti panas kan pakai pakaian setebal ini?" Aji membuka sleting jaketnya namun dia mendapati kaos besar didalamnya.
Aji kemudian memelorotkan celana trainingnya, yang ternyata masih ada celana training lain didalamnya.
Hingga beberapa pasang ia buka namun masih ada dan ada terus kain yang membungkusnya. Hingga dia frustasi dan menyerah.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan memotongnya dan meninggalkannya untukmu"
degg
__ADS_1
Dharra terhenyak dan membuka matanya. Membuka lapisan terakhir di tubuhnya dan menarik sang suami yang hendak masuk ke kamar mandi hingga tersungkur diatas ranjang. Melucuti kain yang menutupi sang monster lalu melesakkannya dan menari diatasnya.
"Kalo dipotong mana bisa buat enak enakan?"