My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Pohon Tua Tapi Berkualitas


__ADS_3

Dharra celingukan mencari keberadaan oma dan mbok Iyem. Namun tak ditemukannya.


Akhirnya dia menemui si pengirim mobil yang mana adalah bawahannya.


"Maaf nunggu lama ya pak"


"Gak apa apa bu. Gimana, turunkan aja mobilnya?"


"Iya langsung turunin aja. Mau saya test drive disini. Kebetulan orang yang pesennya lagi keluar dulu"


"Baik bu. Bro, mendarat bro" lanjutnya berteriak pada rekannya agar menurunkan mobil dari truk.


Setelah mobil diturunkan, Dharra mengecek kelengkapan seperti manual book, ban cadangan, dongkrak dan kunci kunci, lalu mengetest perlistrikan dan memastikan fungsi tombol tombol dan AC bekerja dengan baik. Lalu membuka plastik pembungkus jok depan maupun belakang agar bisa diketahui jika ada kecacatan juga bagian kabin. Setelah dirasa tidak ada masalah, Dharra mengecek kondisi body dan cat juga kaca film, apakah terdapat goresan atau pemasangan film yang tak sempurna. Lalu tahap terakhir adalah test drive. Dharra bukannya tak bisa mengendarai mobil. Hanya saja kondisi ekonominya yang belum memungkinkannya untuk memiliki mobil sendiri. Dia belajar dari temannya semasa sekolah, berjaga jaga jika saja dia mendapatkan pekerjaan sebagai supir pribadi seorang nyonya besar.


Sekarang kemampuan itu ia gunakan untuk mengetest mobil pesanan oma.


Mulus


Satu kata yang terlontar dari mulut Dharra kala mengetest mobil itu di sekitar komplek selama beberapa keliling.

__ADS_1


Dharra turun dan memastikan pita besar yang dipasang di mobil itu menempel dengan apik. Lalu sekilas membaca kartu ucapan yang menempel di kaca depan mobil yang bertuliskan


..."Happy Wedding...


...Dharra Sayang...


...Love...


...Oma dan Bintang"...


Dharra menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, matanya berkaca kaca, bibirnya bergetar menahan tangis haru yang akan pecah.


"Mama suka sama hadiahnya?" tanya Bintang yang sebelumnya mengecup pipi Dharra.


"Suka. Mama suka, sayang. Terimakasih. Terimakasih Oma" Dharra juga memeluk tubuh ringkih sang oma.


"Bintang yang harusnya bilang makasih. Terima kasih karena mau jadi mama Bintang" Bintang kembali mengecup pipi dan memeluk Dharra.


"Terimakasih karena sudah menjadi matahari di keluarga kami, sayang" lanjut oma.

__ADS_1


Dharra tergugu menangis haru. Baru kali ini dia diperlakukan dengan spesial sebagai manusia. Selama ini dia dianggap sebagai parasit, meski di keluarganya sendiri. Keluarga sang bibi pastinya.


Setelah serah terima mobil dilakukan, Dharra mengajak Bintang dan juga oma berkeliling komplek, lalu ke rumah mungilnya yang bersebelahan dengan Aji.


Lalu Dharra menceritakan rencana mereka untuk merombak total rumah mereka menjadi satu.


Oma sangat antusias dengan rencana mereka. Tentu saja mereka harus punya rumah sendiri meski nanti rumahnya akan diwariskan pada mereka. Karena Aji merupakan pewaris tunggal.


"Ekhem.. calon tetangga baru nih. Baguslah kalo situ pindah. Gak bikin tetangga gerah" Yuli yang sedang berpura pura menyiram tanaman mengungkapkan isi hatinya kala melihat Dharra tengah membawa seorang wanita tua untuk berkeliling melihat lihat rumah .


"Eeh.. mbak Yul.. gimana kabarnya? sehat? iya nih saya mau pindah. Rumahya mau ditombak biar Oma Sekar bisa betah tinggal disini" ucap Dharra ramah. Tidak mungkin kan dia meladeni ulet bulu yang satu ini. Bisa gatel nanti.


"Bagus lah. Mendingan juga pohon tua" sarkas Yuli.


"Iya, mbak Yul bener. Mending pohon tua tapi berkualitas. Dari pada albasiah. Kelihatan muda tapi rapuh, murahan pula. Mari mbak, saya permisi"


Oma merasa puas dengan balasan Dharra. Bisa dipastikan komplek ini akan rame kalo Dharra benar benar meladeni si ulet bulu.


Yuli lagi lagi dibuat geram oleh tingkah Dharra yang gak bisa di intimidasi.

__ADS_1


Apalagi saat Dharra membleyer mobil barunya. Apalah arti mobil mungilnya yang masih nyicil itu.


__ADS_2