My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Mati Kedinginan


__ADS_3

Brukk


Aji terjatuh kesamping karena dorongan seseorang.


Dilihatnya tubuh yang mendorongnya itu berada diatas tubuhnya.


"Dharra? sayang apa yang kamu lakukan disini? apa kamu terluka?" Aji menilik wajah dan tubuh Dharra dengan kuatir.


Dharra mengintai sekitar yang ternyata sudah diamankan pasukan khusus yang oma kerahkan.


Dharra lantas memeluknya erat sambil mengis tergugu.


"Aku kira aku kehilanganmu huuuuu"


Aji merasa terharu. Dia lantas mengusap belakang kepala dan mengapit kepalanya agar Dharra mentapnya.


"Aku sudah berjanji padamu bukan, kalau aku akan kuat untuk kalian. Aku bertahan demi bisa bersama kalian selamanya" Aji mengecup dalam bibir Dharra. Dia bersyukur bisa kembali ke pelukan istrinya.


"Ekhem.. bos.. mobil sudah siap" lagi lagi Mario dihadapkan pada situasi yang menyiksa kejomloannya.


"Mario, Marvin-"


"Saya tahu. Dia yang memberi tahu lokasi bos"


Aji dan Dharra pun masuk ke mobil yang telah disiapkan.


Tak lupa mereka memanggil ambulan jadi luka yang di derita Aji bisa di tangani dengan cepat.


Saat sang perawat hendak membuka kemeja Aji karena terdapat robekan dan hendak memeriksanya, Dharra melarangnya dan mengambil alih obat antiseptic itu dari tangannya.


Dharra lantas menarik tangan Aji menuju mobil mereka dan sebelah tangannya menenteng pencuci luka dan obat antiseptic.


Aji menurut saja. Dia tak masalah jika istrinya membawanya kemanapun.


Di dalam mobil, Mario sudah bersiap. Dharra menyalakan lampu kabin dan memerintahkan Mario untuk jalan.


Jalanan lengang, Dharra tak mau berbagi tubuh suaminya dengan siapapun.

__ADS_1


Kalau hanya membersihkan luka lecet dia pun bisa melakukannya. Dharra tak sudi jika tangan lain menyentuh tubuh suaminya.


Dharra membuka kemeja Aji yang sobek dengan perlahan. Dia tak mau menyakiti suaminya.


Aji memperhatikan sikap protektif Dharra dengan senyuman. Dia suka jika istrinya merasa cemburu dan terancam.


Terancam suaminya direbut wanita lain.


Percaya atau tidak, Dharra merawat luka Aji sambil duduk di pangkuannya. Dia serius merawat luka sang suami. Aji terus menatapnya sembari menyeringai.


Sang monster mengenali sang pemilik yang tengah duduk menimpanya.


Dharra terkejut dengan pergerakan monster Aji yang terasa menggeliat, lalu menatap matanya.


Seolah mendapat aba aba, mereka saling memangsa dengan membabi buta.


ciiiit


Mario segera menginjak rem dan keluar dari mobil untuk mengamankan diri.


"Sialaaaaan.... kenapa gak nunggu sampe rumah aja sih? mana sepi gini"


Aji mematikan lampu kabin karena dia sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Mario, kenapa berhenti? mana bos mu?" tanya oma yang menghentikan mobilnya karena melihat Mario berdiri di pinggir jalan yang sepi sendirian.


"Nyonya Oma? itu anu- tanyakan saja pada mobil yang bergoyang" tukas Mario sambil menampakkan senyum terpaksa.


"Dasar bocah bocah somplak. Kamu ikut saya saja. Mereka masih lama. Bisa mati kedinginan kamu"


Mario pun menurut. Dia benar benar menyelamatkan dirinya. Untung saja oma datang dan menawarinya tumpangan. Kalau tidak, bisa jadi orang ketiga diantara pasangan tak tahu tempat itu.


Aji terus menggempur Dharra tanpa ampun. Inilah tujuannya saat keluar kantor. Dia sangat merindukan istrinya dimanapun dan kapanpun.


"Sayang. Aku merindukanmu" ucap Aji disela sela hentakannya.


Dharra mengalungkan kedua kakinya pada pinggul Aji yang bergerak perlahan. Lalu menarik pinggul itu agar bagian inti mereka menempel sempurna.

__ADS_1


"Aku mencintaimu" Dharra mengungkapkan perasaannya pada Aji. Perasaan mendalam yang dia tahan selama bertahun tahun. Perasaan yang bukan tumbuh seiring mereka hidup bersama. Namun perasaan yang sudah muncul saat mereka masih belum berpacaran.


Seperti layaknya para gadis yang memujanya. Dharra pun memiliki perasaan yang sama sewaktu dulu.


Hanya saja dia tak memperlihatkannya. Dia memilih mengacuhkannya dan berpura pura tak tertarik padanya.


Bukan apa apa. Karena saat itu dia sekolah di sekolah negeri namun favorit. Dimana isinya adalah siswa siswi dari kelas menengah keatas.


Tentu saja dengan nilai nilainya yang hampir sempurna dan beasiswa, dia bisa masuk ke sekolah itu.


Saat itu, Dharra selalu diejek para kumpulan siswa populer. Namun dia menikmatinya karena Aji yang mengejeknya.


Dia tidak tahu jika jantung Dharra berdetak kencang kala Aji mengejeknya. Bukan karena kesal bahkan marah, namun karena merasa diperhatikan.


Pada saat Aji terpengaruh obat jahanam dan hendak menodainya. Dia menangis dan marah. Marah karena harus melepaskannya agar tak menghancurkan masa depannya. Dia punya mimpi lepas dari jeratan sang bibi.


Dia menangisi nasibnya yang terpenjara oleh bibinya sendiri.


Namun kini, dia bisa memilikinya seutuhnya. Bukan hanya raganya, namun juga hatinya.


"Kamu.. apakah itu benar?" Aji tak percaya sekaligus terharu dengan pernyataan Dharra.


Dia memeluknya erat sembari terisak.


"Terima kasih... terima kasih karena kamu sudah memberikan hatimu dan menjaganya untukku. Maaf kalau aku tak bisa menjaga diriku untukmu. Aku.. aku terlalu kecewa dengan keadaan" Aji mengecupi seluruh wajah Dharra sambil berlinang air mata.


"Terima kasih Tuhan. Engkau telah menyelamatkanku dengan mempertemukan kami kembali" Aji mengucap syukur dalam hati.


Selama ini dia selalu berdo'a dalam hati, agar dia dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya. Tapi dia takut. Takut akan kenyataan jika Dharra sudah menikah dan memiliki kehidupan yang bahagia.


Dia meladeni para wanita yang ingin tidur dengannya, hanya ingin membuktikan pada dirinya sendiri, betapa murahannya mereka. Hanya dengan ketampanan, mereka dengan sukarela memberikan mahkota berharga mereka.


Aji selalu terbayang akan Dharra saat berhubungan dengan mereka.


Betapa Dharra adalah wanita terbaik yang akan membuatnya bahagia dan berhenti dari dunia kelam. Dia akan menuruti semua kemauannya jika Tuhan memperkenankan mereka bersatu.


Terbukti dengan keputusannya untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan yang selama ini oma pimpin.

__ADS_1


"I love you so much, honey"


__ADS_2