
Pergerakan cekatan Dharra sambil mengenakan pakaian tidur berbahan satin berwarna salem dengan panjang se paha, yang kimononya tak ditalikan membuat bongkahannya yang dibebaskan dari sangkar memantul mengikuti gerakan naik turun badannya. Membuat jakun Aji juga naik turun.
Ko tinggal turun naik, ko tinggal turun naik
Ko tinggal turun naik turun naik trus
Ko tinggal turun naik, ko tinggal turun naik
Ko tinggal turun naik turun naik trus
😁
😁
😁
Aji yang sedang duduk bersimpuh dengan kedua tangannya diangkat keatas sedari tadi di pojokan ruang tengah sekaligus ruang makan karena mendapati raut dingin Dharra saat dia memasuki rumah. Aji mencoba mendekati agar bisa menjelaskan, namun Dharra memelototinya dengan dingin dan tetap menutup mulutnya rapat rapat. Dia tahu kalau wanita sedang merajuk gak bisa diajak bicara. Sudah dipastikan jatahnya malam ini kena diskon.
Dia lantas dengan inisiatif menghukum dirinya seperti ini.
30 menit berlalu setelah suara ketukan tetangga laknat mengganggunya menikmati pemandangan menggoda namun menyiksanya.
Pegel memang. Namun bagian bawahnya lebih pegel lagi. Dharra benar benar menyiksanya.
Dharra selesai dengan masak nya. Dia lantas menyusun piring dan mengisi air ke dalam gelas gelas, lalu duduk dengan menyilangkan kakinya. Menampilkan pahanya yang mulus.
glek
Posisi duduk Dharra tepat bersebrangan dengan Aji, sehingga lagi lagi Aji mendapat bonus pemandangan yang belum tentu bisa dia nikmati.
"Mau sampe kapan duduk disitu?" tanya Dharra acuh tak acuh.
__ADS_1
"Sampe kamu memaafkanku, sayang" Aji menjawab dengan memelas.
"Hh.. emang siapa yang marah sama kamu?"
Aji sontak sedikit menurunkan tangannya yang terasa sangat pegal.
"Kalo gak marah sama aku, trus kenapa langsung pulang? aku juga kan laper"
"Mules aku tuh, jadinya pulang. Apalagi liat kek begituan. Tambah mules yang ada. Menikmati pula" Dharra menyendok nasi ke dalam piring untuk mereka berdua.
Aji bangkit meski sempat kembali terjatuh karena kakinya kesemutan, lalu perlahan bangkit dan mendekat pada Dharra, dan duduk di sebelahnya menampilkan senyum lebar.
"eit... mandi dulu sana, cepet. Jijik aku disentuh tangan bekas pegang virus" tukas Dharra saat Aji hendak meraih kedua tangannya.
"hhhh.... resiko jadi cassnova ya gini" dengan lunglai Aji melangkah ke kamar mandi dan mandi dengan kilat.
Aji segera kembali duduk di sebelah Dharra setelah memakai piyama nya. Dia meneguk air minum yang telah Dharra siapkan lalu membuka mulutnya ke arah Dharra.
"ck.. manja" Dharra mendecak namun menyuapkan sesendok penuh nasi ke mulut Aji, lalu lauknya.
"Biarin manja sama istri" tukas Aji sambil mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
Dharra terus menyuapi suami manjanya, dan sesekali menyuapi dirinya sendiri. Dia tak menyangka seorang Aji Rakhadiredja bisa se kanak kanak ini.
"Gemay" batinnya.
Tiba tiba terasa sesuatu menggelitik pahanya yang terbuka. Dharra melirik ke bawah, dan ternyata tangan nakal Aji sedang menjelajah disana. Dharra menatapnya tajam, namun Aji tengah asik mengunyah makanan yang Dharra suapi dan sesekali tersenyum padanya.
Seolah tangan itu punya jiwa tersendiri.
"Kamu ga ada niat buat pake tangan kamu sendiri buat makan gitu?"
__ADS_1
"Tanganku lagi sibuk, yang. aaaaa...." Aji meminta suapan lagi.
"Trus kenapa gak kamu pake buat nyuapin aku?" Dharra merasa jengah dengan kelakuan Aji yang nyeleneh.
"Kamu bisa gantian suapin kan? aku dulu baru kamu. Jadi fungsional, sementara tanganku bisa mengerjakan yang lain yang lebih penting. aaaaa...."
entah sudah nambah berapa kali, itu perut kenapa belum penuh juga? satu tangannya yang lain terangkat meraih salah satu bongkahan si penggoda imank, dan sedikit meremasnya. Membuat Dharra reflek mengeluarkan lenguhannya.
"hhhhh... Aji..aku gak bisa konsen ini" Dharra lantas menyimpan sendok dan berlalu ke kamar mandi.
Aji terkikik, merasa puas telah membalas tingkah Dharra yang sedari tadi membakar otak dan hasratnya.
"Tinggal nunggu perang keringet nih. Asiiik bakalan batal diskon" gumamnya sambil terus menyendoki makanan ke dalam mulutnya. Perang nanti malam butuh tenaga ekstra.
Dharra mencuci mukanya di kamar mandi sambil mendinginkan wajahnya yang mulai memerah.
"sialan. Ngapain juga aku pake kek beginian? aku lupa kalo dia tuh biawak. malah di kadalin. jadi bumerang kan.." Dharra frustasi dengan triknya yang ingin menyiksa Aji malah berbalik padanya.
tok
tok
Pintu kamar mandi diketuk.
"Sayang... udah belum pipis nya? gantian dong.." suara lembut Aji membuat Dharra bergidik.
"Di rumah sebelah aja" teriak Dharra menjawab Aji sembari waspada.
"Udah diujung nih, takut ngompol" lanjut Aji yang membuat Dharra segera membuka kuncinya. Kan berabe kalo Aji sampe ngompol.
ceklek
__ADS_1
"Waaaaaaaa......" Dharra reflek berteriak kala mendapati Aji langsung masuk ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun dan mendorong tubuh Dharra yang hendak keluar kamar mandi.