
"Tolong sampaikan surat pengunduran diri saya pada manager HRD. Kamu cari tahulah sendiri.
Dharra lantas menarik tangan Aji untuk keluar dari area ballroom. Entahlah, firasatnya buruk jika berlama lama berada disana.
Benar saja, tak lama mereka berjalan menuju lift dan menunggu pintu ruangan berukuran 2,5m x 2,5m itu terbuka, tampak kemunculan Laras memasuki pintu lobby dengan wajah yang tak karuan. Baru kali ini Dharra melihat Laras keluar rumah dengan tanpa bersolek.
Dharra tadinya hendak menghampiri Laras, karena tujuannya kesini apalagi kalau bukan ingin mencari masalah dengannya?
Namun Aji menggelengkan kepala seraya menepuk nepuk punggung tangannya.
"Berhenti peduli pada orang yang salah" kalimat itu sontak membuka pikiran Dharra jika memanglah benar, suatu hal yang sia sia jika dia peduli pada orang yang tak pantas dipedulikan. Biarlah dia membuka aibnya sendiri.
Mereka lanjut makan di restoran hotel, karena meski belum waktunya makan siang, perut Dharra sudah meronta ronta. Tepatnya janinnya. Sedangkan Aji menikmati secangkir kopi dengan croisant, plus ekspresi menggemaskan sang istri kala menikmati hidangan yang dia pesan. Sesekali menyeka sudut mulut Dharra yang belepotan karena ulah makanan. Ingin rasanya dia menyekanya dengan lidahnya jika saja mereka sedang berada di kamar.
"Kamu... ngga apa apa?" tanya Aji disaat Dharra sudah hampir menghabiskan makanannya. Dia sudah menahannya sedari tadi untuk tidak bertanya. Tapi dia tak mau membuat Dharra kehilangan selera makan.
"Apanya yang gak apa apa?" Dharra lanjut menyendok dessert yang baru datang itu. Semangkuk es krim kacang kesukaannya. Dia menikmati lelehan eskrim itu di mulutnya. Seperti biasa, Aji yang bertugas menyeka sudut bibirnya. Namun kali ini benar benar menggunakan lidahnya.
"Ternyata memang nikmat" Aji nyengenges dengan kelakuannya. Semburat merah muncul di wajah Dharra. Dia lantas melirik ke segala penjuru arah, memastikan jika ada yang melihat aksi suami somplaknya.
"Kamu kalo mau beraksi lihat tempat, napa?" ucap Dharra gemas sambil mencubit punggung tangan Aji yang dibalas kekehan.
__ADS_1
"Aku nanya malah dibalas nanya" Aji masih terkekeh. Lalu dia menyuapkan 1 sendok eskrim lagi pada Dharra. Dharra hanya tersenyum, sedikit malu tapi dia menyukai diperlakukan seperti itu. Dan diapun membuka mulutnya untuk menyambut suapan sayang dari suami tercinta.
"Kita kesini kan niatnya buat nerima penghargaan buat kamu" Aji menumpukan kepalanya pada sebelah tangannya sambil terus memperhatikan ekspresi dan wajah sang istri yang semakin tembem dan imut. Sebelah tangannya ia angkat untuk membelai wajah sang istri yang tak pernah absen di mimpinya. Masih sedikit tak percaya jika akhirnya dia memilikinya. Dia pikir akan terus bertualang dari satu lobang ke lobang lain hingga mendapatkan akhir yang mengenaskan. Tapi ternyata Tuhan masih menyayanginya dengan mempertemukan dan mempersatukan mereka untuk menyelamatkan kehidupan bobroknya.
"Justru aku lega. Aku gak perlu lama lama di tempat ini untuk bekerja. Berjauhan dari kamu benar benar menyiksaku" Dharra akhirnya menjawab apa yang diinginkan Aji.
"Trus sekarang kita mau ngapain?" lanjut Aji yang masih setia membelai wajah Dharra. Jempolnya mengusap bibir Dharra. Ingin rasanya melu*matnya saat itu juga.
"Anggap aja ini honeymoon kita. Biarin gak ke pantai juga. Atau ke tempat tempat romantis seperti Paris misalnya. Yang penting sama kamu. Dan akan aku pastikan, aku akan menguras isi dompetmu hahaha...." Dharra berceloteh dan membuat candaan receh sambil membuat gaya bertolak pinggang saat pura pura tertawa jahat.
Aji benar benar dibuat kehabisan kesabaran dengan istri gemay nya ini. Dia langsung menyambar bibir Dharra yang terbuka sehingga memudahkan lidahnya untuk langsung merogoh mulutnya.
Aji tak peduli dengan pandangan para waiter/waitress yang memperhatikan mereka sambil saling berbisik dan tersenyum malu. Untung saja pengunjung restoran masih sepi.
"Siapa yang kamu maksud 'mas'?" tanya Aji yang tidak suka jika ada wanita yang mengaku ngaku mempunyai hubungan serius dengannya.
"Ya kamu mas Rakha. Hei hei perhatian... aku berjalan mencari cari suamiku yang gak pulang pulang, eeeh taunya lagi mesra mesraan disini sama wanita lain. Sedangkan aku yang lagi hamil anaknya di tinggalkan tanpa sepeserpun" Laras dengan nekat nya mengambil atensi orang orang yang ada di restoran itu. Tampak beberapa orang menyorotkan kamera ponselnya pada Aji dan Dharra. Sudah dipastikan hari ini akan viral di medsos.
Orang orang mulai saling berbisik dan mencibir. Tak terkecuali para karyawan restoran tersebut.
Aji bangkit dengan tenang, sebelum istrinya naik pitam. Bisa membahayakan janinnya.
__ADS_1
"Bukti apa yang kau punya jika aku adalah suamimu?" Aji terlihat merogoh saku jasnya dan mengeluarkan buku kecil berwarna hijau dan merah.
"Kalau kamu tidak membawa buku nikah kemana mana, kamu sebutkan saja tanggal pernikahan kita" tantangnya tenang. Dharra hanya menyeruput jus kiwi kesukaannya sambil menaikkan sebelah bibirnya.
"Oiya. Apa kamu ingat nama lengkap suamimu ini? atau jangan jangan kamu hilang ingatan? lalu kenapa kamu mengenaliku sebagai suamimu? apa salah satu insting seorang istri yang hilang ingatan?" lanjutnya benar benar membuatnya tak bisa membela diri.
"Heh.. sudah kuduga. Wanita sepertimu selalu mengandalkan cara murahan" sarkas Aji sambil memasukkan kembali buku nikah mereka.
"Ayo sayang. Kita istirahatkan bayi kita" Aji menarik lembut tangan Dharra hingga berdiri. Lalu sebelah tangannya lagi mengusap lembut perut Dharra yang masih terlihat rata.
"Kalian.. ya kalian yang sedang merekam. Tolong fokus pada wajah wanita itu. Siapa tahu suaminya yang asli sedang mencarinya" perintah Aji pada pengunjung dan karyawan yang tengah merekam skandal murahan itu.
Laras benar benar murka. Dia berteriak histeris sambil memaki orang orang yang tengah merekamnya. Baru kali ini dia dipermalukan di depan umum.
Maksud hati ingin mempermalukan Dharra di depan rekan kantornya, namun dia malah diusir pihak panitia karena dianggap merusak suasana karena penampilannya yang tak ber make up.
Saat berada di luar hotel, dia kembali menoleh ke arah hotel, lalu dikejutkan dengan pemandangan romantis yang seharusnya dimilikinya.
Restoran hotel itu tepat berada di bagian depan hotel. Sehingga kaca besarnya mampu menampilkan orang orang yang tengah berada di dalamnya.
Diapun kembali mencoba peruntungannya. Namun nahas. Kembali harus menelan pil pahit merupakan suatu rekor baginya. Rekor mendapatkan ketidak beruntungan dalam satu hari berturut turut.
__ADS_1
Jika ada yang ingin menyumpahi, orang itu pastilah Dharra. Karena dahulu Dharra yang berada di posisinya. Hanya saja ketidak beruntungan Dharra disebabkan oleh orang lain, bukan perilakunya sendiri.