My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Menjemput Bintang


__ADS_3

Tubuh Aji bergetar. Keringat bercucuran. Tatapannya kosong. Dharra mengusap lembut punggung tangan Aji, menenangkannya.


"Utarakanlah apa yang ingin kau utarakan" Dharra berkata lembut. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap sebelah pipi Aji dan mengarahkan kepalanya padanya agar Aji bisa menatap matanya dan memberi nya kepercayaan.


Perhatiannya benar benar teralihkan. Aji menatap mata itu. Mata yang teduh penuh cinta. Mata yang membuatmu nyaman dan aman.


Aji menghela nafas panjang, kemudian dia memberanikan diri mengorek lukanya. Membuang nanah agar tak membusuk.


Oma turut memperhatikan ekspresi cucunya yang baru ia lihat lagi setelah bertahun tahun tak muncul gejala trauma itu.


"Dia.. orang itu... yang melecehkanku waktu SMA"


degg


Oma terperanjat. Begitupun dengan Dharra, istrinya yang menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Aku melihatnya beberapa hari terakhir sebelum kejadian. Kupikir... kupikir dia adalah ayah dari salah satu murid sekolah. Dia selalu memakai mobil mewah, namun parkir jauh di luar gerbang sekolah. Selalu memperhatikan kearah sekolah kita"


"Hingga suatu hari dia mendekatiku dan bilang kalau oma sakit keras lalu memintaku ikut dengannya. Aku tak menaruh curiga. Yang kupikirkan adalah oma. Saat perjalanan melenceng dari jalur pulang, aku mulai khawatir dan bertanya kemana tujuan mereka membawaku. Dan dia hanya bilang... 'tenang saja pretty boy'... hhh" Aji menyempatkan mengatur nafasnya.


"Lalu dia berhenti di depan sebuah bar dan membawaku masuk melalui pintu belakang. Tiba tiba..." Aji terlihat lebih gemetar dan keringat sebesar biji jagung bermunculan di keningnya. Matanya terpejam, seolah mencari jarum dalam jerami diotaknya.


Dharra bangkit dan memeluk kepalanya sambil berdiri. Mendekatkannya pada sang anak. Memberitahunya jika dia tak sendiri. Dan dia harus kuat agar bisa melindungi anaknya kelak.


Helaan nafas yang tercekat keluar dari mulutnya. Seolah memberikan jalan bagi oksigen agar bisa masuk ke paru parunya.


"Seseorang dengan penampilan pria, tapi bertingkah seperti wanita menunggu kami di sebuah ruangan tertutup. Mungkin itu adalah ruangan khusus karyawan.


"Laku laki itu... memaksaku telungkup di sebuah meja, lalu... argh.." Aji mengerang menahan sakit pada kepalanya. Setetes demi setetes air mata lolos dari pelupuk.

__ADS_1


Dharra berlutut, meraih rahang Aji dan mengecupnya. Aji menatapnya dan kembali tenang.


"Dia mengikat tanganku kebelakang tubuhku dalam keadaan telungkup di meja. Lalu.. mereka bersama membuka celanaku dan.. dan mengerjaiku bergantian..." Aji langsung tergugu dan memeluk Dharra erat. Ketakutan yang teramat sangat terasa dari kekuatannya memeluk Dharra. Seolah meminta pertolongan.


"Sayang, ssshhhhh..... it's okay.. sshhh... ada aku disini... kamu sudah aman..." Dharra menepuk nepuk lembut punggung Aji sambil terus memberikan kata kata menenangkan.


"Ya ampun cucu oma... kasihan sekali kamu nak. Ternyata laki laki bejat itu juga sudah menghancurkan cucuku" oma tak kuasa menahan tangisnya.


"Tapi, bukankah traumamu sudah sembuh? bukankah kamu pernah ditangani seorang psikolog?"


"Psikolog itu ternyata seorang g*ay, oma. Dia juga hampir melecehkanku.


Aku... aku mengobati diriku sendiri dengan mengkonsumsi obat anti kecemasan"


Oma menangis tergugu. Dia tak menyangka cucunya menderita luka psikologis yang teramat menyakitkan.


Dharra memberikan pelukan pada keduanya bergantian.


"A-apa? ancaman macam apa itu? ngancam nyawa oma kek atau nyawa Rakha kek. Kenapa harus mundur dari ahli waris?"


"Karena oma lebih mencintai ahli waris ketimbang Rakha dan diri oma sendiri" Dharra berkata dengan percaya diri.


"Oma memang paling tega sama cucunya sendiri. Sebenernya yang cucu oma siapa sih?" Aji bersungut menyusul oma yang lebih dulu bersungut dengan pernyataan Dharra.


Dharra menampilkan senyum kemenangan. Triknya berhasil dalam mengunci oma.


Akhirnya mereka menyusun rencana. Sudah dipastikan jika Justin mengincar Bintang untuk mengambil warisannya. Tak ada yang tahu jika seluruh harta kekayaan turun temurun keluarga oma diwariskan pada Dharra.


Penjagaan diperketat, meski sebulan ini tak tampak kemunculan Justin, oma tak mau lengah. Oma telah bekerjasama dengan pihak kepolisian dan menanggung malu atas identitas Justin yang masih kerabat mereka. Dan ternyata pihak kepolisian memanglah sudah memasukan Justin si pelaku pedofil dalam daftar pencarian orang. Dan merekapun mengerahkan orang orang mereka untuk turut melacak dan mengawasi keberadaan Justin.

__ADS_1


Usia kandungan Dharra memasuki bulan ke 9. Gerakannya sudah tak selincah sebelumnya. Namun Dharra tetap tak bisa diam. Dia merasa tak biasa jika hanya duduk diam.


Selain itu dia tak kan berhenti bergerak jika Aji sang suami tak menangkapnya dan menguncinya dalam pelukannya.


Seperti biasa, waktu istirahat adalah waktu sakral bagi mereka. Aji tak tega melihat perut Dharra yang sudah besar dan mengeras itu. Dia lantas tak menuruti egonya untuk menyalurkan hasratnya. Dengan duduk saling berpelukan dengan posisi Dharra yang duduk bersandar pada dada Aji di sofa kantor, saling bercerita dan saling melempar canda pun sudah sangat cukup baginya. Merasakan dan menyalurkan kasih sayang tak mesti soal hubungan badan belaka.


"Sayang.. aku ijin pulang lebih awal ya. Aku ingin menjemput Bintang dari day care" Dharra memiringkan tubuhnya agar bisa menyentuh dada dan menghirup aroma tubuh suaminya.


Dharra terlihat nyaman dengan posisi itu, membuat Aji terus mengecupi pucuk kepalanya dengan sayang berkali kali. Dan sesekali Dharra menengadah meminta kecupan di bibir.


"Memang seharusnya kamu sudah mengambil cuti melahirkan sayang" Aji mendekap erat Dharra. Dia tak keberatan jika harus tertindih tubuh bulat Dharra. Dia justru merasa nyaman saat tubuhnya dijadikan sandaran istrinya. Jangan sampai dia mencari sandaran lain.


"Tapi aku gak mau jauh dari kamu. Gimana kalo aku pindah kesini. Maksudku tinggal di ruang istirahat kamu. Tapi aku gak kerja. Statusku cuti. Hanya saja aktifitasku 24 jam disini. Kamu juga bisa memantauku dan Bintang secara langsung. hnn?" Dharra mencoba memberi solusi.


"Apa kamu gak kan bosen? Bagai mana dengan Bintang?"


"Aku gak masalah dimanapun asal selalu deket kamu. Masalah Bintang. Dia juga pasti gak akan keberatan jika kita ajak tinggal disini. Hanya sampai aku melahirkan. Aku gak tenang kalo jauh dari kamu, sayang" bujuk Dharra.


Aji mengecup keningnya.


"Apapun untukmu sayang"


Dharra pun berangkat menuju tempat menitipkan Bintang. Tempat yang paling ia percaya setelah sekolahnya. Dan sebelumnya Dharra mampir dulu di tempat penjual baso tahu dekat dengan day care itu. Perutnya tiba tiba menginginkan baso tahu saat melihat kepulan asap dari panci yang dibuka mamang baso tahu.


Dia memesan dengan bumbu dan sambal terpisah.


Setelah itu barulah dia berjalan kaki dari pedagang itu ke day care yang jaraknya hanya 50m. Mobil yang dikendarai Mario mengikutinya dari belakang.


"Loh, bu Dharra? Katanya sudah mau melahirkan? barusan ajudan oma Sekar yang jemput. Katanya mama Bintang lagi di rumah sakit, sudah mau melahirkan. Jadi buru buru jemput Bintang"

__ADS_1


pyarrr


Bungkusan itu langsung terlepas dari genggaman dan jatuh ke tanah.


__ADS_2