
Raul memberi informasi jika Laras melarikan diri. Orang orangnya terus melacak kemana tujuan Laras pergi.
Untuk sementara Dharra bisa bernafas lega. Setidaknya dia sedikit tenang dengan kondisi kesehatan Oma yang berangsur membaik.
Dharra memutuskan pulang ke hotel setelah jam kantor usai. Dia hendak membersihkan dan merelaxasi diri sebelum kembali ke rumah sakit.
Untunglah janinnya baik baik saja setelah mengalami kram pada perutnya karena kelelahan.
Dharra menyandarkan kepalanya pada tepian bathtube. Memejamkan matanya sambil menikmati sensasi aroma lavender yang menenangkan dari lilin beraroma.
Dharra menyetel lagu dari ponsel pintarnya yang diletakan di atas rak kaca pada wastafel.
Alunan lagu dari Spice Girls berjudul Viva Forever membuatnya merenungi kecelakaan yang dialami suaminya dan telah mengakibatkan amnesia.
Do you still remember how we used to be?
Feeling together, believing whatever
My love has said to me
Both of us were dreamers
Young love in the sun
Felt like my savior, my spirit I gave you
We'd only just begun
Hasta mañana, always be mine
Viva forever, I'll be waiting
Everlasting, like the sun
Live forever, for the moment
Ever searching for the one
Yes, I still remember every whispered word
The touch of your skin, giving life from within
Like a love song never heard
Slippin' through our fingers, like the sands of time
Promises made, every memory saved
As reflections in my mind
Hasta mañana, always be mine
__ADS_1
Viva forever, I'll be waiting
Everlasting, like the sun
Live forever, for the moment
Ever searching for the one
Dia akan menunggunya. Sampai kapanpun.
Air hangat itu beriak, dan volumenya meninggi. Perlahan mata Dharra mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya.
Sosok tinggi besar nan kekar berdiri polos di depannya. Membuat Dharra tersentak karena terkejut.
"Astaga nangka.."
Dharra benar benar terkejut dengan penampakkan terkini dari tongkat ajaib Aji yang membengkak.
"Kamu.."
"Ya, istriku? kamu merindukanku?"
Sungguh, Dharra sangat sangat merindukannya.
"Aku merindukan suamiku" jawab Dharra datar. Dia tak ingin menampilkan ekspresi mengharap untuk disentuh. Padahal Aji sudah ikut bergabung masuk ke dalam air.
Sampe tumpe tumpeeh...
Ingin rasanya Dharra menyemburkan lenguhannya. Apa lagi saat kaki yang dikecupi itu disusuri perlahan dengan telunjuknya hingga ke lutut. Lalu ke bagian belakang lutut dan paha bagian dalam.
Dan kaki yang menyentuh pedal itu di gerakkan pada pedalnya, sehingga Dharra bisa merasakan sentuhan gagah sang jagoan melalui telapak kakinya.
Dharra menengadahkan kepalanya pada sandaran bathtube. Membuang perlahan nafas panasnya.
Namun Aji memindahkan kedua kaki Dharra ke samping pinggangnya dan merangsek maju. Hingga lembah dan tongkat itu saling menempel. Membuat Dharra mengangkat kepalanya karena terkejut dengan kemajuan tiba tiba itu.
Namun keterkejutan Dharra membuat kepalanya berdekatan bahkan bibir mereka hampir menempel. Mata saling menatap. Membaca ekspresi dan perasaan masing masing yang saling menginginkan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dharra dingin namun serak.
Hembusan nafasnya menantang bibir seksi Aji untuk menikmati bibirnya yang sensual.
"Menafkahi istriku" Jawab singkat Aji yang berbicara dengan sedikit menempelkan bibirnya. Pandangannya naik turun menelisik wajah istrinya.
"Persis seperti yang ada dimimpiku selama ini" ucapnya sembari menyelipkan helaian rambut nakal yang menjuntai.
Setiap ucapannya menghembuskan nafas nakal yang menarik minat bibir sensual Dharra agar membukakan jalan.
Membuat Aji dengan mudahnya merogoh mulut yang menganga itu dan mengobrak abriknya dengan lembut.
Rasa yang tak asing bagi Aji. Dia sangat mengingat rasa itu. Rasa yang membuatnya selalu menginginkannya.
__ADS_1
Dharra terhanyut dalam lum*atan lembut Aji yang ia dambakan. Tapi Dharra ingin memastikan sesuatu. Dia melepas pagutan nikmat itu.
"Bagaimana dengan Laras? dia istrimu bukan?"
Dharra menelan duri yang mengganjal di tenggorokannya. Menatap mata yang membara karena gairah yang tertahan. Alisnya mengernyit kala Aji menampakkan senyum.
"Dia bukan istriku. Buku nikahnya palsu. Apa kamu tau?" Aji menggesekkan ujung tongkatnya pada pintu gua. Lalu meles*akannya perlahan karena gua itu ternyata sudah siap.
"Ahhh..." keduanya melenguh karena penya*tuan itu.
"Dia bahkan tidak bisa membangkitkan monster yang satu ini. Dan monster ini mengenali tuannya" Aji mengangkat bok*ong Dharra dan menempatkannya diatas pangkuannya.
Kini si kembar botak itu terpampang jelas di mata Aji yang segera dilahapnya rakus.
Dharra sudah tak kuasa menahan kerinduannya. Dia bergerak tanpa aba aba, menikmati setiap sentuhan yang Aji berikan di setiap inchi tubuhnya.
"Ahh... sayang... aku merindukanmu..." bisik Dharra.
"Panggil aku lagi, sayang..." Aji menambah keganasannya saat Dharra memanggilnya 'sayang'. Membuat Dharra kehilangan kewarasannya dan menyambut keganasan si monster kecil.
Meskipun Aji belum mengingat apapun, namun rasa ini dia ingat betul. Selama hampir 2 minggu tak tampak kehidupan dari sang monster, namun kala Dharra muncul di mimpinya, sang monster mulai menggeliat.
Pernah suatu waktu Laras mendapati tendanya berdiri kokoh. Namun saat meraihnya, penyangga itu otomatis melemas. Laras benar benar frustasi dibuatnya. Melihat ukurannya saat tegap dibalik celana boxer, membuatnya membayangkan kegagahan sang monster mengobok obok miliknya.
Aji mengerang kala sang monster memuntahkan lahar panasnya yang memenuhi kawah kecil nan hangat itu. Bersamaan dengan Dharra yang mengejang karena semburan itu menghantarkannya ke puncak.
Tubuh Dharra melemas. Kepalanya terkulai di pundak berotot sang suami.
Aji membelai belakang kepala dan punggungnya. Membasuhkan air hangat yang mulai agak dingin itu.
"Aku akan terus berusaha mengingat kita, sayang" Aji menyeka keringat bercampur uap di kening Dharra, lalu mengapit kedua pipinya dan mengecup bibirnya.
"Bagaimana jika ingatanmu tak kembali? Aku tak mau seolah bercinta dengan orang asing, dan berselingkuh dari suamiku"
"Maka aku akan jatuh cinta lagi padamu, dan merebutmu dari suamimu"
Dharra tergelak.
"Bagaimana jika aku selingkuh dengan yang lain?"
Aji menatapnya geram. Rahangnya mengetat.
"Maka aku akan memasungmu di ranjang, dan menyiksamu setiap saat"
"Apa kau benar benar tak pernah menyentuhnya?" yang Dharra maksud adalah Laras. Dia sedikit sangsi jika Aji tak pernah menyentuhnya. Sedangkan seingat dia, Aji tak bisa menahan diri jika sudah lewat tiga hari. Staminanya sungguh luar biasa.
"Sudah kubilang dia hanya bereaksi padamu" Aji menjawabnya dengan spontan sambil mengecup bibir Dharra.
"Tampaknya do'a mu berbalik padamu" Dharra berkata sambil menampilkan senyum puas karena suami hot nya ini tak bisa menyentuh wanita lain.
"Maksudmu?" Aji mengernyitkan dahi, meminta penjelasan.
__ADS_1
DO'A YANG MANA HAYOOO