
Ryan memasuki ruangan. Cynthia tengah berbaring sembari memejamkan mata.
"Apa kau tidur?" tanya Ryan.
"mmm" gumam Cynthia yang masih setia memejamkan matanya.
"Kalau boleh tau, dimana suamimu?" lanjut Ryan bertanya penasaran.
"Tadi sudah ketemu kan? sayangnya, dia menolak peduli" jawab enteng Cynthia.
"Maksud mu..."
"Iya, Rakha. Aku sudah meminta pertanggung jawabannya saat aku baru mengetahui kalau aku hamil. Tapi... seperti yang kamu lihat tadi. Tapi aku gak akan nyerah. Demi anak ini. Demi anaknya"
"Oh" singkat Ryan yang mengerti kenapa Aji tidak mau berurusan dengannya. Ternyata wanita ini licik.
Ya, Ryan sangat tahu kalau Aji tak pernah tak pakai pengaman kala menyalurkan hasratnya pada wanita berbeda. Jadi tak akan ada yang bisa menggunakan trik murahan dengan pura pura hamil anaknya. Selain itu, Aji pun khawatir tertular penyakit kelam*in. Dan bisa dipastikan jika yang dikandung wanita ini adalah bukan anak Aji.
Ryan tersenyum miring kala melihat akting Cynthia yang bahkan seorang awam sepertinya bisa menilai kepura puraan wanita ini.
"Baiklah Cynthia, aku akan menanggung biaya rumah sakit. Hubungi lah keluargamu untuk menjagamu. Ada yang harus aku urus. Sekali lagi saya minta maaf karena tak sengaja. Berhati hatilah. Aku pergi" Ryan memutuskan untuk segera pergi. Tak mau lebih lanjut disalah pahami yang berujung pernikahan paksa seperti yang ada di novel novel.
Cynthia langsung membelalakan mata kala Ryan tak terenyuh dengan cerita karangannya.
__ADS_1
"T Tung..gu.." Ryan sudah menghilang di balik pintu kala Cynthia mencoba membumbui ceritanya. Setidaknya menanyakan nama dan pekerjaan.
"Sialan.. dengan cara apa lagi aku bisa ngejebak Rakha? Orang itu juga lumayan sih, tapi aku lupa gak nanya namanya. Eh.. dia bilang mau nanggung biaya rumah sakit? hmm..." seringai licik kembali menghiasi wajahnya.
Sesuai saran dokter, Cynthia sudah bisa pulang setelah menghabiskan 1 ples( botol ) infus. Dia segera menuju ke bagian administrasi.
"Permisi, suster. Saya mau bayar administrasi atas nama Cynthia, dari ruang IGD"
"Baik, tolong tunggu... atas nama Cynthia sudah dibayar lunas, nona"
"Apa? lunas? siapa yang bayar?"
"Iya nona. Tadi laki laki yang datang bersama nona yang membayarkannya"
"Ooh, baiklah, sebentar nona... ini alamatnya"
"Ah.. terima kasih banyak suster. Kalau begitu saya permisi"
"Kena kamu" gumam Cynthia yang berhasil mendapatkan harapan baru.
Karena hari masih siang, dia berniat mencari alamat yang dia dapat dari bagian administrasi rumah sakit. Tentu saja dia mencari makan terlebih dahulu karena perutnya sudah meronta ronta sedari tadi.
Ryan kembali ke Mall tempat diselenggarakannya pameran. Dia mendapat selebaran dari rekan sesama dokter. Saat tahu jika perusahaan tempat Dharra bekerja yang mengadakan pameran, dia berniat berkunjung, sembari menunjukan partisipasinya mendukung program promo perusahaan Dharra dengan membeli salah satunya. Sekalian mendapatkan simpati darinya sebagai bonus.
__ADS_1
"Penuh banget, mana dia?" gumam Ryan yang mencari keberadaan Dharra.
Ryan menemukan keberadaan Aji yang tengah menekuk wajahnya, pandangannya fokus pada satu arah.
Yap, Dharra. Aji tengah menahan perasaan cemburu kala melihat Dharra tengah dikerubungi oleh para calon konsumen yang terlihat antusias dengan produk yang tengah di pamerkan yang mayoritas adalah kaum adam.
"Kenapa harus sama dia? SPG-SPG pada nganggur, kenapa malah nanya nanya sama Dharra" gerutu Aji yang terlihat dari kejauhan tengah komat kamit.
Akhirnya Aji mendekati salah satu SPG agar menghandle sebagian calon konsumen yang tengah mengerubungi Dharra.
Untungnya SPG itu berhasil mengambil alih sebagian beban Dharra yang kewalahan dan seharusnya memang tugas SPG.
Baru saja Dharra menghela nafas lega, Ryan mendekatinya.
"Dharra.. sudah kuduga itu kamu"
"Eh, dokter Ryan? kesini juga? sama siapa?" Dharra terlihat celingukan. Namun bukan mencari keberadaan yang membersamai Ryan. Melainkan mencari keberadaan suaminya yang takut salah paham dengannya.
"Iya nih. Temen aku ngasih selebaran. Kebetulan aku lagi niat mau genti mobil"
"Oh kebetulan. Kita punya produk baru. Sebentar.. Mil..Mili.. sini, handle dulu" panggilnya pada Mili. Sebagai bentuk penolakannya secara tak langsung.
"Tolong jelasin produk baru kita. Aku mau ke toilet dulu. Maaf ya dok, saya mau ke toilet dulu. Dari tadi saya tahan" tanpa menunggu jawaban dari Ryan, Dharra segera pergi ke arah toilet.
__ADS_1
"hhh... bisa aja ngelaknya" keluh Ryan bergumam.