
Hari ini Dharra mengeluh kurang enak badan. Bagaimana tidak. Seminggu ini dia memang tak bisa tidur. Lingkaran hitam dimatanya tampak menjelaskan.
Bukan hanya Dharra yang tak bisa tidur. Aku pun terkena imbasnya.
Selain Dharra yang selalu bergerak gerak dan berguling guling diatas tempat tidur karena selalu waspada akan sesuatu yang dia anggap ada padahal tidak ada, juga karena lampu kamar yang tidak boleh dimatikan.
Dia akan histeris kala kondisi ruangan gelap. Bahkan saat aku menyentuhnya karena menginginkannya.
Aku tak bisa egois dengan berpindah tidur menjadi terpisah darinya.
Tidak.
Kami adalah satu.
Aku harus merasakan penderitaan yang dia rasakan, seperti hal nya dia merasakan penderitaanku kala itu.
Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatanku.
Aku masih mencari waktu dan moment yang tepat untuk memberikan shock theraphy pada Dharra.
Aku tak bisa gegabah mempertaruhkan keselamatan keluarga ku.
Hari ini adalah week end. Seharusnya kami jalan jalan, refreshing atau sekedar menghabiskan waktu untuk bermain bersama dirumah. Namun karena Dharra tampak sangat lelah, aku tak mau dia drop. Untunglah Bintang anak yang cerdas dan pengertian. Dia sangat memperhatikan perubahan mamanya. Dia pun tak merengek minta jalan jalan atau mengajaknya bermain di rumah.
Dia membiarkanku mengurus mamanya.
Dharra terlelap dalam dekapanku di sofa. Dia terlihat tenang dalam tidurnya. Syukurlah.
Akupun melakukan hal yang sama. Ku pejamkan mata merah ku sambil memeluknya. Menyalurkan kehangatan dan kenyamanan untuknya.
Terasa kecupan basah dikeningku yang ternyata adalah putri sulungku.
Dia mengecup kami bergantian. Mengatakan jika dia menyayangi kami dan meminta kami agar selalu kuat menghadapi apapun melalui kecupannya.
Aku tersenyum meski mataku terpejam.
Anak itu
Tak pernah sedikitpun aku menyesal memilikinya.
Meski bukan darah dagingku, tapi dia salah satu kekuatanku.
Aku ikut terbangun kala kurasakan pergerakan di pelukanku.
Dharra bangun dari tidurnya dan berjalan masuk ke kamar mandi.
Kami ada di lantai bawah, dan kami tadi tertidur di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
Baby El kami letakkan di bantal besar yang di gelar diatas karpet bulu. Dengan dikelilingi bantal dan guling kecil. Kami biasa melakukannya karena memudahkan kami dalam mengurus dan mengajaknya bermain sembari menonton tv. Selain itu, pergerakannya yang aktif membuat kami khawatir jika secara tak sengaja tubuh mungil itu menggelinding karena saking aktifnya.
Aku memindai pintu kamar mandi. Sepertinya Dharra sedang buang hajat.
Aku mengucap mantra dan menaruh sesuatu di dekat sang jagoan kami.
"Sayang, papa butuh bantuanmu, agar mamamu sembuh. Maafkan papa nak"
Aku mengecup pipi gembul sang jagoan yang tampak terusik tidur nya.
Lalu aku kembali ke posisi terakhir dimana Dharra meninggalkanku.
Ya, aku pura pura masih lelap. Padahal jantungku tak hentinya berdegup jedag jedug. Hatiku terus mengucap mantra keberhasilan yang sangat kecil kemungkinannya.
Harapanku hanya Tuhan.
Terdengar suara siraman air dari toilet. Menandakan jika Dharra selesai dengan hajatnya.
ceklek
Suara pintu terbuka, lalu langkah dari sendal bulu mendekat dan terhenti setelah beberapa langkah.
Suara tarikan nafas kasar darinya terdengar.
"Aji..." dia memanggilku dengan suara pelan namun bergetar.
Aku berusaha bertahan dengan kepura puraanku.
Terdengar nafasnya yang memburu perlahan tenang. Tampaknya dia mulai menguasai dirinya.
"Enggak boleh. Kamu gak boleh ganggu anakku. Mahluk kotor nan menjijikan. Menjauhlah dari anakku" bisiknya berbicara pada mahluk tak bernyawa.
Ya, aku membeli mainan berbentuk serangga berwarna coklat.
Aku dan Mario berkeliling mencari mainan itu di setiap toko mainan. Hingga kami menemukannya di pelosok.
Dan itupun hanya tinggal satu satu nya stok lama.
Syukurlah.
Setelah berkonsultasi dengan psikiater yang menangani Dharra, shock theraphy merupakan salah satu cara dalam menyembuhkan pasien trauma. Hanya cara itu sangat jarang dilakukan mengingat efeknya yang tidak bisa dipastikan akan keberhasilannya. Dan dokter itupun tak pernah menganjurkannya pada pasien pasiennya.
Teknik pengobatan ini digunakan untuk mengatasi depresi kronis bernama electroconvulsive therapy (ECT) ternyata juga bisa dipakai untuk menghapus kenangan buruk di masa lalu.
Mungkin ini terdengar seperti sesuatu yang hanya bisa ditemukan di film-film fiksi ilmiah. Namun nyatanya ECT atau yang biasa dikenal dengan 'terapi shock' ini terbukti efektif meredakan gejala depresi kronis yang dialami seseorang dengan cara memicu kejang di otaknya.
Hanya saja terapi ini mempunyai semacam efek samping yaitu menghilangkan sejumlah memori ketika terapi sedang berlangsung, termasuk memori yang terjadi bertahun-tahun lalu tapi muncul ke permukaan lagi karena prosedur tersebut. Inilah yang dimanfaatkan peneliti untuk menghapus kenangan buruk pasien, atau trauma yang ingin dilupakan si pasien.
__ADS_1
Mengingat dampak buruknya, aku tak mau gegabah.
Aku punya metode tersendiri dalam menghapus kenangan buruknya.
Hadapi.
Seperti yang kualami saat itu, aku harus menghadapai apa yang kutakutkan selama ini. Dengan tekad ku untuk melindungi keluargaku, aku berhasil menghadapi ketakutanku sendiri.
Dan aku yakin jika Dharra juga wanita yang bertekad kuat dalam melindungi keluarganya.
Jika aku tak membahas dan meminta pendapatnya, dan dia membenarkan adanya metode ini, mungkin cara ini juga tak mungkin kulakukan.
Aku sengaja menaruh mainan serangga berwarna coklat itu di dekat pembaringan baby El.
Dan Dharra yang tadinya akan langsung histeris, namun karena dia melihat baby El yang sedang terancam, dia berusaha menguasai dirinya sendiri.
Aku mengintipnya melalui celah mataku yang sedikit terbuka.
Sembari berbisik mengeluarkan kata kata ancaman bagi si serangga palsu, Dharra perlahan menarik bantal pembaringan sang anak, hingga agak menjauh dari target.
Dia lantas terlihat berjinjit menjauh dan berjalan cepat dengan kaku telanjangnya kearah kamar pembantu.
"Malah masuk kamar bibi. Ngapain dia kesana. Anak ditinggalin gitu aja. Hadeehh... mesti mikir- eh dia keluar lagi. Bawa... sapu lidi?"
Perlahan mengendap sambil mengangkat sapu lidi itu, bersiap berperang melawan mahluk mungil.
Jika saja Dharra tidak sedang depresi, mungkin aku sudah menyemburkan tawa.
sreettt
plakk
Dharra berhasil melempar jauh mahluk mungil itu dengan ayunan sapu lidi nya, bak bermain golf. Dan kecoa kawe itu telak menabrak pintu kaca.
Bisa dipastikan jika itu sungguhan, maka kecoa malang itu pastilah terkena gegar otak dan langsung dilarikan ke ugede.
Dharra membuka pintu kaca itu lalu kembali menghantamnya dengan ayunan berikutnya hingga mahluk mengenaskan itu terhempas jauh.
Dharra segera menutup pintu kaca dan menguncinya. Lalu tubuhnya tampak bergidik.
"iiiiii...."
Dharra pun mendekati sang jagoan dan memangku nya. Menciuminya sembari terus membisikan kata menenangkan.
"Sudah aman, sayang. Jangan khawatir. Ada mama disini. Kamu aman, sayang. Gak ada yang bisa ganggu kamu" Dharra terlihat mengecupi seluruh wajah dan tangan mungil itu.
"Ciuman untuku mana?" ujarku yang akhirnya membuka mata dan meminta jatah kecupan padanya.
__ADS_1