
Dharra cukup terkejut dengan kehadiran mbok Iyem. Dia bahkan sempat menghentikan Aji, namun tak digubrisnya karena tengah berada diatas awan. Adanya kehadiran orang lain membuat Aji lebih bersemangat dan lebih merasakan kenikmatan yang akhirnya menyeret Dharra ikut merasakan kenikmatan itu. Untung saja mbok Iyem segera kembali menutup rapat pintu dapur, bahkan berjaga di luar pintu dapur sambil menutup telinganya.
Mbok Iyem berada dalam situasi yang membagongkan. Jika dia pergi ke kamar, takut ada orang lain yang juga memergoki mereka. Jika pintu dapur di kunci dari luar, mereka nanti gak bisa keluar. Akhirnya dia memutuskan mengorbankan diri untuk berjaga di luar pintu dapur sembari merapalkan mantra agar tak tergoda erangan kedua mahluk yang mungkin bisa membuatnya mencari pelampiasan.
🙈
🙈
🙈
Pagi menjelang. Dharra sudah bersiap dengan seragam kantornya. Dia sibuk menyiapkan sarapan dibantu mbok Iyem yang terlihat lesu dan pucat.
"Mbok, sudah mbok istirahat aja. Saya bisa nyiapin ini sendiri kok" ucap Dharra sambil memasukkan makanan untuk bekal Bintang ke dalam kotak bekal bergambar Queen Elsa.
"Enggak apa apa non. Mbok cuma masuk angin aja kok. Abis ini kerokan dikit juga sembuh"
"Makanya kalo ada Dharra sama Rakha di rumah ini, mbok Iyem jangan berani berani keluar kamar. Kesiksa jadinya kan?" sindir oma yang hapal dengan libido cucu kamvretnya.
"Dharra sayang. Kenapa kamu kembaliin uang mobilnya?" tanya oma sembari membawa ponsel pintarnya ke meja makan dan mengambil satu potong roti isi yang Dharra siapkan lalu memasukan kedalam mulutnya, lalu meneguk susu kalsium untuk manula.
"Oma ini gimana sih? harganya kan 950 jutaan oma, sedangkan oma transfer 1,5M"
"Kenapa harus dikembaliin? lebihnya itu untuk biaya pengurusan"
"Kebanyakan dong oma"
tring
Notifikasi pesan di ponsel Dharra berbunyi.
Dharra menutup mulutnya tak percaya dengan pesan yang masuk melalui e-mail nya.
"Oma... kenapa di balikin lagi? lebih gede dari yang Dharra kembaliin lagi?"
__ADS_1
"Kenapa? kurang? oma tambahin nih"
"eh.. jangan.. gak usah oma.. nanti oma bangkrut aduuuuh, nini nini mainan rekening, dikira game apa?" Dharra terlihat mendumel panik.
"Kamu itu, menantu lain pasti sibuk morotin kekayaan mertuanya. Nah kamu malah nolak morotin" gerutu Aji yang sudah dengan stelan kerjanya dan mendekat pada Dharra lalu mengecup bibirnya sekilas. Membuat Dharra mendengus kesal.
"Kamu itu suka gak tau tempat ceplak ceplok nya"
"Oma...Dharra kan udah ada dari mas kawin yang Aji kasih. Mendingan oma pakai untuk keperluan yang lain. Lagian harusnya kan Dharra yang kasih ke oma" Dharra berkata dengan lembut sembari mengusap punggung tangan keriput milik oma.
"Ga papa sayang. Nanti semua milik oma pasti buat kalian juga. Anggap aja ucapan terimakasih oma sama kamu karena udah mau terima cucu bejat oma apa adanya, juga Bintang" setitik cairan menggenang di pelupuk mata oma. Dharra langsung memeluk tubuh ringkih itu dengan sayang.
"Oma ngomong apa sih? yang namanya manusia ga ada yang sempurna, oma. O iya, nanti mobil baru oma agak siangan dikirimnya. Dharra juga nanti ikut nganter kok"
"Iya, sayang. Oma tunggu ya. Oh iya, kata Rakha, selesai pameran ini kamu mau resign? serius kamu sama Rakha mau ngurusin perusahaan oma?" binar bahagia terpancar dari mata oma"
"Iya oma. Rencananya gitu. Semoga gak ada hambatan ya. Dharra juga gak tega liat oma masih sibuk ngurusin perusahaan. Padahal punya cucu kompeten" sindirnya pada Aji.
"ck.. kamu itu gak tau aja kalo di perusahaan oma tuh kebanyakan karyawannya perempuan. Serem kan kalo aku di apa apain?"
"A a a ah... sayang... pedes ih nyubitnya"
Aji mengusap kasar perutnya. Lalu Dharra mengobatinya dengan mengusap lembut perutnya menimbulkan gelenyar yang membangkitkan cula tunggal.
"Sayang.. kamu harus tanggung jawab" wajah Aji memerah membuat Dharra tergelak. Oma tersenyum bahagia melihat kebahagiaan cucunya. Pantas saja selama ini dia tak mau dengan wanita manapun, dan memilih kencan singkat. Ternyata wanita yang cucunya gilai memang patut untuk digilai. Bahkan sang dokter yang mana adalah teman Aji juga menggilainya. Ya, oma tahu itu.
Aji dan Dharra berpamitan untuk berangkat kerja. Mereka mengantar Bintang terlebih dahulu lalu menuju kantor Dharra karena hari ini Dharra stand by di kantor, dan pameran sudah di delegasikan pada Marvin dan Mili.
Dharra mengurus pengiriman mobil yang dibeli secara cash saat kemarin. Untung saja unit yang di minta ready stock, sehingga tidak membutuhkan waktu lama dalam memproses dan mengirimkan.
Dharra membuka e-mail yang masuk yang ternyata dari kantor pusat yang memberitahukan jika Dharra diharuskan untuk menggantikan posisi Branch Manager di kantor pusat selama 1 bulan karena branch manager yang menjabat sedang melakukan pelantikan kepemimpinan di luar kota. Selain itu Dharra diharuskan hadir dalam perayaan ulang tahun dealer karena akan mendapatkan reward atau penghargaan atas pencapaiannya yang signifikan selama dia menjabat di kota itu.
tring
__ADS_1
tring
Ponsel Dharra berbunyi beberapa kali saat Dharra sedang fokus membaca isi e-mail dari kantor pusat. Diraihnya ponsel yang tergeletak di samping laptop kerja dan nama Mili tertera di layar.
"Ya Mil, ada masalah apa?"
"........."
"Apa? pingsan?"
"........."
"Kenapa gak dibawa ke rumah sakit?"
"........"
"Marvin? gawat... aku kesana"
Dharra langsung menaiki taxol yang sudah dipesan dan langsung menuju Mall tempat digelar pameran mobil perusahaannya. Rahasia masa lalubAji yang belum sempat dia tanyakan membuatnya khawatir. Apalagi menurut Mili, Aji kini dibaringkan di ruang kru dan dijaga oleh Marvin.
Dharra benar benar gemas dengan kondisi jalanan yang tiba tiba macet. Kenapa dia gak naik ojol aja biar lebih lincah dan lebih cepat? pikirnya yang kemudian memesan ojol di dalam taxol karena mobil itu tak bergerak juga sepuluh menit ini. Kebetulan ojol yang dipesan sudah sampai di titik jemput yang sudah Dharra tentukan. Dan lokasinya tak jauh dari tempat taxol yang dia tumpangi terhenti.
"Pak maaf saya pake ojol aja. Ini ongkosnya. Bapak silahkan selesaikan pesanan saya. Maaf ya pak, saya ada keadaan darurat. Lebihnya buat bapa aja" Dharra memberikan 2 lembar uang berwarna merah pada supir taxol. Padahal ongkos yang tertera tidak sampai 100 ribu. Dia langsung menaiki ojol dan menginteruksikan agar bisa sampai di tujuan dalam waktu 10 menit.
Untunglah supir ojol itu hafal dengan jalan tikus menuju Mall dan tiba dalam waktu yang tepat sesuai permintaan Dharra.
"Bu Dharra, ayo cepat. Pak Rakha mengamuk" sambut Mili yang langsung menarik tangan atasannya itu agar mengikutinya.
"Aji..."
grepp
Aji langsung menarik Dharra dan memeluknya erat. Keringat membasahi seluruh wajah serta tubuhnya. Matanya merah memancarkan ketakutan.
__ADS_1
"Jauhkan dia dariku.. tolong.."