My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Ternyata Masih Mampu


__ADS_3

"ahh...." Laras memekik karena Aji meremas bukitnya dengan kencang. Terlihat rahangnya mengetat. Sorot matanya nyalang dan tajam. Mengisayaratkan keganasan. Namun Laras semakin bersemangat.


"Sayang... aku ingin merasakan milikmu" bisik Laras parau yang sudah tak bisa menahan has*ratnya.


Aji mendorongnya kencang hingga Laras ter jerembab ke belakang dengan bokong yang mendarat terlebih dahulu.


"Lalu milik siapa yang kau rasakan selama ini? apa benar kau istriku?"


"Maksud... maksudku... aku ingin merasakan mu lagi sayang. Aku kangen keintiman kita, sayang"


Tukas Laras yang bangkit tanpa terlihat kesakitan karena telah terjatuh. Dia kembali mendekati Aji yang sejurus kemudian membuka satu persatu pakaian Aji. Dan Aji hanya terdiam membiarkannya.


Laras dibuat terkejut kala membuka lapisan terakhir berbentuk segitiga yang merupakan sasaran utamanya. Pada posisinya yang berlutut, dia melirik pada Aji yang terlihat menyeringai jahat.


"Lihat? kau bahkan tidak bisa membangunkannya"


Laras mengernyitkan dahi kala mendapati pusaka yang ia kira bakalan berukuran fantastis itu mengkerut.


Laras bahkan menggenggam dan mengul*umnya. Tapi tak ada pergerakan sedikitpun disana.


"Mungkin kamu manikahi seorang impoten. Aku jadi penasaran. Benih siapa yang bersemayam di dalam sana.


Aji berkata dengan santai sambil memakai kembali pakaian nya yang berceceran. Lalu meninggalkannya.


Laras frustasi dibuatnya. Lalu menghubungi orang yang biasa dia gunakan sebagai pelampiasannya.


Laras terheran dengan reaksi fisik Aji yang diluar nalarnya. Secara seorang pria dan wanita bu*gil di dalam sebuah kamar, tidak mungkin jika tidak diterkam. Apa suami Dharra ini memang mempunyai kelainan se*xual? impoten? lalu dari siapa Dharra mengandung benih?


Aji melangkahkan kakinya keluar dari kamar terkutuk itu. Dari awal dia sadarkan diri di rumah sakit, memang yang pertama kali dia lihat adalah wanita itu yang mengaku sebagai istrinya. Dia tak mengingat apapun kala itu. Mungkin wanita itu memang istrinya, tapi tak menutup kemungkinan jika wanita itu mengaku sebagai istrinya. Entah apa yang direncanakannya jika memang seperti itu. Yang dia rasakan adalah benci yang teramat sangat pada wanita itu.


Sambil berjalan di koridor menuju ruang tengah, Aji menatap telapak tangannya yang tadi menyentuh dan meremas bukit milik Laras.


"Rasanya dulu tak sedatar itu" gumamnya.


Datar? dada rata? pikirannya berkecamuk dengan kata kata absurd itu. Seolah familiar dengan istilah atau singkatan itu. Tiba tiba kepalanya berdenyut. Matanya memejam untuk menghela rasa nyut nyutan, namun kilatan cahaya yang menampilkan sebagian kejadian membuatnya tercenung.


"Daraaa.... dada rataa....hahahaha....


sejak kapan ada disitu?....

__ADS_1


I love you...


I love you more..."


serpihan serpihan ingatan yang selalu menghampirinya selalu menampilkan sosok wajah yang sama. Bahkan setiap bangun tidur, dia selalu dibangunkan oleh suara seorang wanita yang sangat dikenalnya melalui serpihan ingatan itu.


"Sayang... bangun..." lalu senyum manis yang mengembang menuntunnya pada sebuah mesin permainan.


"Aaaaargh..... please tunjukkan dirimu jika kamu memang berarti untukku" Aji mengerang frustasi. Mencoba mengingat wajah familiar yang belum pernah dia jumpai semenjak di rumah sakit.


Aji melihat seorang perawat yang biasa merawat wanita tua yang mengaku sebagai neneknya keluar dari kamar yang selalu tertutup itu.


Setelah memastikan perawat itu keluar dari rumah, Aji lantas mencoba membuka perlahan pintu itu. Dia ingin meyakinkan dirinya jika dia mengenal wanita tua itu.


Saat baru saja memutar kenop pintu, seseorang membuka pintu utama. Seorang laki laki yang biasa datang dan pergi sesuka hati dan menemui 'istri katanya'.


Aji tahu apa yang mereka lakukan selama ini. Dia tak peduli. Toh dia bukan orang yang berarti baginya. Dan janin yang dikandungnya? bisa saja milik lelaki itu atau lelaki lain yang ikut berinfestasi di rahimnya. Kalaupun dia sempat berinfestasi, bisa saja karena jebakannya yang seperti tadi. Toh bukan dia yang merugi. Dia tak pernah berniat untuk mempunyai hubungan apapun dengannya.


Aji hanya melongokkan sedikit kepalanya. Melihat sosok lemah nan rapuh tergolek lemah di tempat tidur.


Sosok yang tua itu tak memudarkan kecantikannya. Tatapan Aji tiba tiba menghangat kala menatap sosok rapuh itu. Seolah melihat seorang ibu. Tapi tak mungkin jika ibunya setua ini.


Aji melihat botol kecil di tempat sampah di sebelah ranjang. Semacam botol ampule obat untuk menyuntik. Dia membaca sekilas kandungan obat itu. Lalu menghafal nama obatnya dan menuliskannya di selembar kertas kecil.


Jika saja dia mempunyai ponsel, mungkin sudah dia cari tahu saat itu juga.


Aji bangkit dan berniat segera keluar agar tak dicurigai wanita ular itu. Namun tangan kekarnya ditahan sebuah tangan lemah. Aji sontak berbalik dan menatap tangan rapuh itu, lalu menatap wajah tua wanita itu yang terlihat sulit membuka mulutnya.


Aji mengernyitkan dahi. Seolah mengerti dengan bahasa tubuhnya, Aji mendekatkan telinganya ke mulut sang nenek tua.


"Dhar..ra..." ucap lemah dan serak nenek.


"To..long.." Aji semakin mengerutkan dahi.


Dua kata. Hanya dua kata yang digumamkan sang nenek.


Dharra dan tolong.


Dharra

__ADS_1


Dharra


Dharra


deggg


Dharra (dada rata). Kata itu seolah menyambar ingatannya. Sekelebat bayangan bongkahan kembar besar yang menari nari di hadapannya, bergerak naik turun mengikuti pergerakan si empunya, membuatnya menelan saliva. Tiba tiba sang pusaka yang divonis lembek itu menggeliat kala bayangan kedua bongkahan itu dengan jelas menampakkan bayangannya.


Keringat mulai mengucur kala dengan sengaja membayangkan bongkahan jumbo yang melintas diotaknya.


Tiba tiba tangan tua itu mengetat. Aji sempat terpikir sesuatu. Sesuatu yang di luar nalarnya.


Apakah wanita ini orang yang sangat berarti baginya? Apakah dirinya sedang melompati waktu dan kembali ke masa mudanya? lalu bongkahan besar dalam bayangannya itu adalah milik wanita tua ini semasa muda nya?


Aji menepis anggapan absurdnya. Pasti milik wanita dengan senyum menawan di mimpinya itu. Ya, pasti seperti itu.


Aji menatap miliknya yang kembali layu.


"Ternyata kamu mampu. Tapi kamu pilih pilih" Aji mengusap sayang daging jadi yang menggelantung di bagian bawah tubuhnya itu.


Keesokan harinya, Dharra dan pak Rudi juga istrinya mulai menjalankan misi. Istri Rudi geram dengan apa yang diceritakan suaminya tentang Bintang dan keluarga aslinya yang dipisahkan oleh wanita yang mengaku sebagai istri Rakha, tetangga baru mereka.


Dengan alasan ingin membeli peralatan sekolah untuk Aryo, istri Rudi yang bernama Ratih mengajak Laras untuk keliling Mall. Sekalian membeli pakaian untuknya dan sang suami karena sudah pudar warnanya. Alasan lain adalah ingin mempercantik diri di salon menggunakan uang bonus yang diterima sang suami. Sedangkan anak anak mereka dibawa Rudi untuk dititipkan pada day care. Laras tentu saja tergiur untuk ikut melakukan perawatan tubuh juga. Siapa tahu dibayari, jadi dia tak perlu mengeluarkan uang yang tinggal sedikit itu. Uang transferan dari Dharra pada rekening ibunya.


Dharra turun dari mobil yang dikemudikan pak Rudi, disusul Bintang yang melompat riang.


Aji menghampiri mereka. Namun tiba tiba langkahnya terhenti kala melihat sosok familiar yang selalu muncul di mimpinya.


Senyum itu


Rambut itu


Suara itu


Dada...


tuing


Daging jadi itu langsung bereaksi

__ADS_1


HEUP AH


MASIH PAGI😂😂


__ADS_2