My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Rencana Dharra


__ADS_3

Degg


Jantung Dharra berdetak lebih kencang. Perasaannya campur aduk. Antara senang dan marah.


"Apa apaan ini? Apa yang mereka rencanakan?" batinnya bergejolak. Alisnya mengkerut kala mendapat laporan seperti itu.


"Lalu?" Dharra mengangkat sebelah alisnya. Merasa ada yang belum detektif itu tuntaskan dalam memberi laporan.


"Laki laki itu diketahui bernama......


Aji Rakhadiredja


Dan perempuan itu bernama ...


Larasati...


istrinya yang sah"


Dhuarrrrr.....


Kaki Dharra seolah lepas dari engselnya. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Tiba tiba rasa mual menyerangnya. Dharra lantas bergegas berlari ke kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dari ruangannya. Namun dia berhasil menahannya hingga toilet terdekat.


Dharra memuntahkan semua isi perutnya di wastafel. Membuat para penghuni wastafel yang sedang buang air kecil terkejut dan melirik padanya.


Ya, Dharra masuk ke toilet pria. Bukannya dia tak tahu, hanya saja isi perutnya sudah berada di pangkal tenggorokannya. Sedangkan toilet wanita masih diujung koridor.


Sontak mereka yang tengah berdiri memegang senjata masing masing pun sedikit memutar tubuhnya agar tak terlihat oleh Dharra.


Dharra menyeka mulutnya dan berkumur kumur setelah dirasa sudah menghabiskan isi perutnya.


Dia lantas mencuci mukanya, lalu menatap cermin yang memantulkan tatapan salah tingkah para pemegang senjata.


Dharra terengah karena otot perutnya tertarik. Lalu berkata sambil menatap para pria dalam cermin


"Maaf... tapi saya sudah pernah lihat yang lebih besar dari itu" Dharra lantas keluar dari toilet. Dan dengan ekspresi dingin dia melewati pagar hidup berbagai genre. Dari situlah orang orang mulai memperhitungkannya.


Dharra kembali ke ruangannya dimana sang detektif yang dia sewa masih menunggunya kembali.


"Lalu... apa analisamu?" Dharra melanjutkan pertanyaannya.


"Menurut analisa saya berdasarkan data dan bukti yang saya kumpulkan, bapak Rakha sempat mengalami kecelakaan yang mana disengaja oleh si wanita" detektif yang bernama Raul pun menyodorkan tablet yang berisi rekaman video.

__ADS_1


Video yang berdurasi 2 menit itu merupakan rekaman cctv yang terpasang di salah satu lampu lalu lintas.


Dharra membelalakkan mata kala melihat Laras dengan sengaja membuat dirinya ditabrak oleh Aji. Namun Aji berhasil menghindarinya dengan membuang stir hingga menabrak pembatas jalan dan posisi mobilnya melintang di tengah jalan.


Ada yang aneh dengan kondisi Aji. Dia tak terlihat keluar dari mobil, namun Laras yang terlihat mengetuk ngetuk jendela dan terlihat meminta tolong pada orang sekitar.


Video berhenti disitu. Menggantung perasaan dan pikiran Dharra.


"Saya mencari data pasien di rumah sakit terdekat atas nama bapak Rakha. Dan namanya ada di salah satu rumah sakit dengan diagnosa... Amnesia. Dan yang menandatangani data pendaftaran pasien adalah ..... istrinya"


Dharra tercengang dengan informasi yang disampaikan Raul.


"Laras memanfaatkan situasi amnesia Aji. Lalu apa yang terjadi dengan oma dan Bintang? kenapa mereka juga diajak kesana? kenapa oma tidak memberitahuku tentang kondisi Aji? apa oma diancam?" Dharra terus bergumam yang bisa didengar oleh Raul.


"Kemungkinannya seperti itu, bu. Tapi saya mendapat informasi jika beberapa orang terlihat terus mengawasi pergerakan mereka tak jauh dari rumah itu. Ada dua kemungkinan, entah itu suruhan oma Sekar, atau suruhan Laras"


"Bagaimana dengan status kepemilikan rumah itu?"


"Rumah itu dibeli bertahun tahun yang lalu atas nama Larasati. Tapi selama ini dibiarkan kosong, hanya mereka merawatnya dengan baik"


"Apakah itu rumah yang dibeli dari hasil menjual rumah mama dan papa ya?" gumam Dharra.


"Baik, bu" Raul pun keluar dari ruangan sambil melakukan panggilan pada seseorang.


Dharra mengapit pangkal hidungnya yang tiba tiba berdenyut.


"Cewe sialan. Aji amnesia? benarkah?"


Dharra menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sehingga kepalanya menengadah. Lalu terlelap.


Kilatan kilatan cahaya memenuhi matanya.


"Sayang..." gambaran Aji yang tersenyum manis padanya, menggengam tangannya erat.


"Sayang... bangun..."


"Ha......" Dharra terhenyak kaget dengan mimpi sekilas yang dia dapat. Suara itu... suara yang dia dengar dengan jelas di telinganya setiap pagi menjelang. Membangunkannya dari tidur lelap.


Suara yang membuatnya gila hingga mencari cari ke seluruh penjuru ruangan hotel.


Lelehan air yang mengalir dari pelupuk matanya mengiringi isak tangisnya.

__ADS_1


"I miss you..."


"I miss you..."


Dharra kembali menghubungi Raul.


"Raul, coba kamu cari tahu keseharian mereka. Dan oma, apa oma dan Bintang aman di rumah itu? aku punya rencana"


"Baik bu"


Dharra tidak akan membiarkan Laras dan ibunya kembali merenggut apa yang dia miliki. Kali ini dia akan mempertahankan miliknya. Meski harus mempertaruhkan nyawa.


Dharra bersiap untuk pulang. Pak Rudi sudah memberitahunya jika dia sudah berada di parkiran. Hanya saja pak Rudi meminta maaf jika mobil mereka harus di tumpangi anaknya yang berusia 5 tahun beserta anak tetangganya.


Dharra tak keberatan, karena dia suka dengan anak anak. Dharra jadi teringat dengan Bintang. Betapa dia juga sangat merindukan Bintang.


Saat Dharra berjalan dari lobby ke pintu utama. Pintu penumpang mobil jemputan Dharra terbuka. Dharra yang memakai kacamata hitam sedikit melirik ke arah pintu mobil yang terbuka. Lalu munculah sosok yang dia rindukan.


Dharra tertegun dan menghentikan langkahnya. Mulutnya menganga. Tak percaya degan penglihatannya.


Kaca mata hitam yang membingkai matanya dia buka. Memastikan yang dilihatnya adalah benar benar orang yang disayanginya. Air mata menetes saat melihat sosok itu melompat dan berlari ke arahnya sambil memekik


"MAMA....."


Bintang langsung menghambur ke pelukan Dharra yang masih tertegun.


Dharra mensejajarkan diri dengan tinggi tubuh Bintang yang menangis tergugu.


Tangannya sibuk meraba raba wajah Bintang yang basah karena lelehan air mata. Sesenggukannya tak bisa berhenti. Terlihat ingin berkata sesuatu.


"Bintang... kamu Bintang? kamu beneran anak mama?" suaranya serak sambil menumpahkan tangisnya yang tak terbendung.


Bintang hanya bisa mengangguk cepat, lalu membenamkan kepalanya di ceruk leher Dharra. Drama tangisan ibu dan anak itu disaksikan dengan heran oleh pak Rudi.


Dharra menceritakan segalanya pada pak Rudi. Hubungannya dengan Laras, juga papanya Bintang. Lalu kejadian yang menimpa sang suami sehari sebelum Dharra mulai bekerja.


"Tolong bapak rahasiakan tentang saya ya pak. Bapak bisa kan pura pura gak tahu tantang masalah mereka? saya masih mencari tahu maksud Laras. Apakah dia mengancam oma dan Bintang. Saya masih menyelidiki. Jadi saya mohon, jangan sampai bapak menyebut nama saya di depan Laras"


"Baik bu. Pantas saja istri saya merasa aneh. Awalnya dia pikir karena Bintang anak tiri bu Laras. Tapi dia selalu terlihat ketakutan kala bu Laras mendekatinya. Lalu dengan suaminya itu, tak terlihat bersikap lembut pada bu Laras. Tapi oma yang anda sebutkan itu.. apakah dia adalah seorang wanita lanjut usia? tapi kami tak pernah melihat sosok wanita tua di rumah itu"


degg

__ADS_1


__ADS_2